“Kak Lam, aku mohon jangan pergi! Jangan pergi dari sisiku. Aku selalu membutuhkan kehadiran Kak Lam. Aku gak akan pernah mau Kak Lam pergi ke manapun.” Mim wajahnya memerah dan jelas sekali tidak bisa menerima jika Lam pergi begiu saja. Lam hanya bisa diam mendengar apa yang Mim katakan. Lam tidak bisa berbuat apapun untuk apapun yang akan terjadi. Lam juga ingin bersama sang adik sampai kapanpun. Tapi, jika dia memang hrus pergi, apa boleh buat.
“Mim, tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi. Selama aku masih diberi kesempatan untuk menemanimu, aku tidak akan penah bisa meninggalkanmu seorang diri. Kau tidak akan pernah sendirian di dunia ini. Mim tidak akan pernah sendiri untuk melalui kehidupan di dunia ini.” Lam mengusap wajah adiknya. Mim hanya diam dan terus saja wajahnya basah krena air mata yang tidak berhenti. Lam sangat mengerti, mengapa adiknya begitu sedih dengan hal ini. Mereka melalui semuanya bersama, bahkan melalui segala macam percobaan pembunuhan yang ditujukan pada mereka, entah berapa kali.
“Kak Mim, Kak Lam tidak akan kemana-mana. Dia akan selalu membersamai kita. Kak Lam akan terus bersama kita sampai kapanpun.” Vira mencoba menenangkan Mim yang terihat begitu kalut.
“Mim, aku mohon jangan menangis! Aku tidak akan pergi ke manapun. Aku tidak akan pergi ke manapun sampai waktunya tiba, untukku pergi. Kita akan bersama, sampai semuanya selesai.”
“Kak Lam, aku tidak bisa berjalan sendirian di dunia ini. Dunia ini begitu jahat untuk orang seperti kita. Aku tidak akan sanggup berjalan di dunia ini, tanpa dirimu. Aku mohon, janga pergi. Jangan pergi!” Apa yang Mim katakan membuat Lam hanya bisa diam. Dunia memang kejam bagi orang-orang yang memiliki kondisi seperti mereka. Tapi Mim masih harus melanjutkan perjalanannya untuk mencari tau di mana keluarga aslinya berada dan menumpas kejahatan orang-orang yang telah membuat keluarga mereka yang sekarang ini entah berada di mana.
“Kamu tidak akan pernah sendiri. Kamu tidak akan pernah sendiri di dunia ini. Jangan pernah bilang, kalo Mim akan sendirian menghadapi dunia yang kejam. Banyak orang yang berada bersamamu untuk menghadapi apapun yang akan menghadang. Aku yakin, kau bisa melalui semua ini.”
“Kak, ini semua berbeda kalo bersama Kakak. Sejak kecil, aku hanya megenal Kak Lam dan Kak Lam yang baik padaku. Tidak ada orang yang bisa menyayangiku, seperti Ibu dan kamu.”
“Mim, kata siapa hanya aku dan Ibu yang bisa baik dan menyayangi dirimu? Banyak orang yang siap baik padamu, bahkan menganggapmu keluarga sendiri.” Lam mencoba menenangkan Mim.
“Tidak ada itu, Kak. Tidak ada yang namanya orang lain menganggap kita sebagai keluarga sendiri. Keluargaku cuma kamu. Apa yang dikatakan orang lain, semuanya adalah omong kosong.”
“Bagaimana dengan Ayah Hambali? Ayah Hambali bukan siapa-siapa kita, tapi beliau menyayangi kita seperti anaknya sendiri.”