“Bu Lesti, 15 menit sebelum persidangan dimulai, anda diminta sudah berada di pengadilan. Jadi, kami mohon, Ibu segera ke mobil. Kita harus berangkat sebentar lagi. Saya gak mau menanggung resiko. Ibu harus hadir di persidangan hari ini.” Salah seorang datang dan memberitahukan hal itu. Lesti hanya terdiam dan mau tidak mau, dia berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan.
“Mbak, apa aku akan mendapat hukuman yang berat? Apa hukuman yang pantas aku terima, atas kejahatan yang sudah aku lakukan?” tanya Lesti pada wanita yang sekarang tengah bersamanya.
“Saya tidak bisa memprediksi hal itu, Mbak. Saya hanya membacakan dakwaan atas bukti yang saya peroleh. Keputusan hukuman berada di palu yang hakim pegang. Semoga saja ada saksi dan bukti lain yang bisa memperingan hukumanmu. Saya tidak bisa memutuskan.”
“Aku sama sekali tidak yakin ada orang yang mau menjadi saksi untuk memperingan hukumanku, Mbak. Orang yang aku cintai saja, sekarang tidak lagi mau membelaku. Dia membela korbanku. Aku tidak punya seorangpun yang aku harapkan, untuk memperingan hukuman yang bakal aku terima.” Lesti menunduk dan tidak bisa memberikan senyuman untuk hari ini.
“Kenapa tidak bicarakan hal ini pada kuasa hukumnya? Kan bisa bicara dengan kuasa hukumnya, barang kali ada orang atau bukti yang bisa memperingan hukuman yang akan Anda terima.”
“Mbak, aku gak tau. Rasanya aku tidak pernah ingin membela diri atas apa yang terjadi. Aku mengakui semua dakwaan yang kau sampaikan saat sidang pertama. Aku sama sekali tidak bisa menyangkal, seua tuduhan itu. Bukti yang ada, sama sekali tidak bisa disangkal begitu saja.” Lesti menatap wanita itu dengan air mata yang menetes begitu saja.
“Saya hanya mendoakan yang terbaik buat Mbak. Saya hanya bisa medoakan apapun hukuman yang Hakim putuskan bagi Mbak Lesti, itu adalah hukuman yang terbaik. Semoga Mbak Lesti bisa dimudahkan untuk menjalani hukuman itu.” Lesti hanya bisa terdiam mendengar apa yang dikatakan wanita itu.
Mereka akhirnya menuju tempat sidang denga mobil yang sudah terparkir di halaman Lapas. Lesti terdiam dan melihat beberapa orang temannya yang juga menjadi pesakitan dari kasus ini.
Di tempat lain, Mim yang sudah sampai di lokasi persidangan bersama Tegar dan Hisyam, hanya bisa terdiam. Mim datang ke pengadilan ditemani oleh dua lelaki yang sebenarnya bukanlah keluarganya. Mim menatap Tegar yang sejak berangkat, selalu mendorong kursi roda yang dia pakai.
“Kak Mim, ada apa? Kenapa sepertinya Kak Mim hari ini tidak semangat?” tanya Tegar. Mim menoleh dan langsung meneteskan air mata. “Kak Mim, hari ini kita harus semangat. Bukankah, kita sudah dekat dengan keadilan? Kita memperjuangkan keadilan untuk mendiang Bu Kasih. Aku yakin, Bu Kasih bisa mendapat keadilan, seperti yang kita harapkan.”
“Kak Lam, sekarang ini tidak bisa menemaniku. Ayah Hambali juga tidak bisa menemaniku hari ini. Tegar, mereka berhalangan untuk hadir, tapi kamu mau menemaniku untuk hari ini.” Mim memegang tangan Tegar dan memberi isyarat terima kasih atas apa yang Tegar sudah lakukan.
“Kak Mim, Kak Lam dan Ayah Hambali memang tidak bisa datang ke sini karena ada sesuatu yang memang tidak bisa ditunda lagi. Tapi ada keluarga dari Bintang Gemilang yang sudah hadir. Mereka adalah kelurgamu. Mereka adalah orang tua bagimu. Kami ada di sini juga sebagai pengganti keluargamu. Jadi jangan pernah bilang kalo tidak ada keluarga yang menemanimu sekarang ini.”
“Apa yang akan dilakukan Ayah Hambali dan Kak Lam?” tanya Mim.
“Aku tidak tau. Sepertinya mereka harus bertemu Nyai Kaligeni. Ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan. Bagaimanapun, kita harus meminta bantuan Nyai Kaligeni biar mudah untuk mencari keluargamu.” Tegar hanya bisa tersenyum.
“Nyai Kaligeni? Kenapa harus mereka yang menemui Nyai Kaligeni?”
“Lho, kebapa memangnya? Bukankah mereka adalah keluargamu? Aku yakin, Ayah Hambali dan Kak Lam akan membahas apa yang harus dipersiapkan untuk mencari keluarga kalian.”
“Tegar, beberapa kali ada sinyal dari Nyai Kaligeni, dan aku yang bisa menangkapnya. Aku gak tau, kenapa sinyal itu, justru aku yang bisa menangkapnya. Semalam, Nyai Kaligeni juga memberikan sinyal itu dan aku yang menangkapnya.” Mim hanya bisa diam setelah mengatakan itu.