“Pak Hisyam, kumohon lepaskan aku! Aku ingin memberi pelajaran pada lelaki itu. Aku tidak akan bisa membiarkan dia berjalan dengan kakinya, setelahb apa yang pernah dia lakukan padaku. Aku bisa sampai seperti ini gara-gara ulahnya. Aku sudah cacat sejak kecil dan dia malah membuatku semakin cacat.” Mim berusaha melepaskan pegangan Hisyam. Hisyam menggeleng dan meminta agar Mim bisa diam dan tenang untuk sekarang ini.
“Mim, tugasmu sekarang ini hanyalah bersaksi atas kasus ini. Kamu hanya menjadi saksi sekarang ini, Le. Biarkan hukuman itu diambil oleh hakim. Kita tidak bisa memutuskan hukuman itu sendiri.”
“Aku tidak bisa melihat dia berjalan dengan kondisi normal seperti itu. Aku selama ini selalu mengalami kekerasan, sampai kaki yang seharusnya aku bisa gunakan berjalan, mengalami kecacatan permanen. Dia datang ke sini dengan berjalan. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.” Mim terus mencoba melepaskan pegangan Hisyam. Hisyam berusaha agar pegangan yang sudah dia buat, tidak lepas begitu saja.
“Kak Mim, aku mohon jangan gegabah. Kalo Kak Mim melakukan itu sekarang ini, yang ada bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah baru. Aku mohon tenangkan dirimu. Semua bukti sudah berada di tangan jaksa dan mereka tidak akan bisa membantah bukti yang kita akan tunjukkan.” Tegar langsung ikut memegang tangan Mim yang terlihat semakin tidak bisa dikontrol.
Mim akhrnya kembali duduk dan terdiam sampai akhirnya dia dipersilahkan untuk menempati posisi saksi. Mim tidak sendiri berada di kursi saksi. Dia bersama Hisyam dan keluarga Bintang Gemilang hari ini bersaksi untuk para terdakwa.
Hisyam memaparkan apa yang dia alami sejak kematian anaknya. Tidak lupa Hisyam juga menunjukkan hasil visum yang sempat dilakukan pada mendiang anaknya dan hasil pemeriksaan dokter terkait apa yang Mim alami.
Lesti hanya bisa tertunduk lesu melihat lelaki yang teramat dia cintai, hadir dan menjadi pemberat apa yang sudah dia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Beberapa kali, terdengar cibiran yang dilayangkan oleh beberapa orang yang menghadiri persidangan.
“Ingat ya, jangan pernah milih perempuan kayak Lesti. Suaminya baik, perhatian, dan gak kurang sesuatub apapun dalam mencukupi kebutuhannya, eh anaknya dibunuh. Parahnya dia berlindung di balik nama suaminya. Jadi cewek gak punya sopan-santun dan terima kasih sama suaminya. Kalo aku jadi ibunya Hisyam, aku yang akan membunuh Lesti denga tanganku. Aku tidak peduli dengan hukuman. Enak sekali dia sudah membunuh anaknya dan malah berlindung di balik nama suaminya. Aku sama sekali gak ridho, anakku disakiti oleh wanita modelan seperti itu.”
“Iya, Hisyam sudah bermurah hati tidak membunuh Lesti. Coba aja dia seperti kita orang. Lesti pasti hanya tingal nama. Aku juga gak ridho, anak lelakiku punya istri seperti Lesti. Aku melahirkan dia taruhannya nyawa dan aku menyayanginya melebihi diriku sendiri. Aku sama sekali gak ikhlas, anak yang aku cintai sampai melupakan bagaimana diriku, harus punya istri bajingan seperti dia.”
Mendengar cibiran dari beberapa orang, Lesti hanya bisa diam dan tidak berniat membalas serangan hujatan yang dia terima.
Sidang berlangsung hanya dua jam, karena saksi yang seharusnya hadir, ada beberapa yang berhalangan. Mim keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang lemas. Tidak ada semangat untuk sekarang ini.
“Pak Hisyanm, kenapa saksi yang lain tidak hadir?”
“Kita gak tau. Tapi mereka tidak hadir, pasti karena ada sesuatu. Tapi apa yang saksi utarakan sekarang ini, sepertinya sudah cukup untuk menjerat pelaku dengan hukuman yang berlapis. Kita hanya bisa berdoa agar apa yang kau perjuangkan selama ini bisa segera tercapai.” Hisyam tersenyum dan Mim terdiam.
“Pak Hisyam, terima kasih sudah mau menemaniku hari ini.”
“Tidak perlu berterima kasih. Aku hadir di sini karena ada keadilan yang juga sedang diperjuangkan. Kita sama-sama pejuang keadilan. Lihat, keluarga Bintang Gemilang juga hadir di sini. Mereka juga meminta keadila dari apa yang sudah terjadi.” Mim menoleh dan terlihat beberapa orang yang begitu dia kenal. Mim hanya bisa tersenyum dan mereka mengitari Mim yang hanya bisa diam di kursi rodanya.
“Mim, banyak orang yang masih menyayangimu. Banyak orang yang akan selalu menyayangimu. Kami akan selalu menyayangimu sampai kapanpun.” Wanita yang tidak lain adalah pemilik Panti Asuhan Bintang Gemilang tampak tersenyum. Senyuman itu mengingatkan Mim pada mendiang Ibunya.