“Tegar, aku hanya ingin menetralisir kekuatan jahat yang ada di tubuh Lam dan Mim. D tubuh mereka, terutama di tubuh Mim, sebenarnya masih ada kekuatan jahat yang tersimpan. Itu yang harus kita pastikan, terlepas dari mereka. Kalo Mim masih menyimpan kekuatan itu yang ada malah tidak akan menjadi kebaikan. Kekuatan itu tidak akan bisa dikontrol siapapun, walaupun itu Mim sendiri.” Hisyam mencoba menenangkan Tegar dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kak Mim, tidak bsa mengendalikan kekuatan itu?” tanya Tegar yang terheran. Hisyam hanya tersenyum.
“Iya. Makanya kita harus menghilangkan kekuatan itu, biar Mim bisa mengendalikan kekuatan itu, sesuai kebutuhannya. Kekuatan yang dimiliki mereka, terutama Mim, bukan kekuatan biasa. Kekuatan itu sangat besar dan akan sangat berbahaya, kalo Mim tidak bisa mengendalikan kekuatan itu.”
“Pak, tapi Mustika itu bagaimana? Kak Mim akan sangat membutuhkan Mustika itu. Kalo Mustika itu tidak punya kekuatan apapun, Kak Mim akan kesulitan.”
“Le, tidak ada yang salah dengan Mustika itu. Yang slahb adalah kekuatannya. Aku melepas mustika itu dan mengeluarkannnya dari tubuh Mim, karena kalo dibiarkan lama di dalam tubuh, yang akan berkembang pesat adalah kekuatan jahatnya. Itu akan berbahaya, buat tubuh Mi sendiri. Aku tidak pernh berniat ungtuk menghilangkan kekuatan itu. Kita hanya mengganti kekuatan yang ada, dengan kekuatan yang lebih baik. Dia tidak akan kehilangan kekuatannya, karena itu yang jadi kebutuhan Mim untuk ke depannya.”
“Pak Hisyam, Kak Mim gak apa-apa kan?” tanya Tegar yang tampak khawatir dan membuat Hisyam hanya bisa terdiam. “Pak Hisyam, aku mohon, jawab pertanyaanku. Kak Mim gak apa-apa kan?”
“Insya Allah gak apa-apa. Mim gak aka kenapa-napa. Dia adalah anak yang kuat dan bisa melewati tantangan yang seharusnya dia lalui. Dia gak akan kenapa-napa.”
“Pak Hisyam, aku tidak pernah bisa ikhlas kalo kakakku sampai kenapa-napa. Aku gak ikhlas kalo Kak Lam dan Kak Mim sampai kenapa-napa. Dia sudah aku anggap kakakku sendiri. Dia sudah aku anggap sebagai keluargaku endiri. Kalo mereka kenapa-napa, aku tidak akan pernah bisa ikhlas sampai kapanpun.” Tegar tampak begitu emosi dan membuat Hisyam harus meyakinkannya jika Lam dan Mim tidak akan mengalami hal yang buruk.
“Tegar, tidak akan ada hal buruk yang akan mendekati kedua kakak kamu. Mereka adalah anakku juga. Aku tidak akan pernah bisa membiarkan kedua anakku sampai kenapa-napa. Aku mohon, percayalah padaku! Apa yang akan aku lakukan demi kebaikan mereka sendiri. Aku mohon jangan pernah berpikir, aku akan menghilangkan kekuatan yang seharusnya merka dapatkan dan miliki. Segala macam kekuatan yang ada di Mustika dan permata itu, tidak akan hilang begitu saja. Aku hanya ingin mengganti kekuatan itu dengan kekuatan yang lebih baik. Benda itu punya kekuatan putih, yang akan bisa dia gunakan untuk hal baik. Tapi tubuh Mim, sudah banyak kekuatan hitam. Aku ingin, kekuatan yang ada dalam tubuh Mim dan benda itu jadi selaras.” Tegar akhirnya diam dan menatap kedua lelaki yang ada bersamanya.
“Pak Hisyam, aku minta jangan pernah menyakiti mereka. Mereka sudah aku anggap sebagai keluargaku. Mereka sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri.”
“Tegar, aku janji. Pegang janjiku ini. Aku tidak akan pernah menbiarkan mereka kenapa-napa. Kalo sampai mereka mengalami kejadian buruk karena ulahku, kau bisa menghukumku. Aku ikhlas dapat hukuman itu.” Hisyam hanya bisa tersenyum dan Tegar menatap lelaki itu dengan mata yang basah.
Tegar menatap Hisyam dan Alif dengan mata yang basah. Hisyam sangat mengerti apa yang Tegar rasakan. Hisyam sangat mengerti dengan apa yang lelaki muda itu rasakan untuk sekarang ini.
“Tegar, aku janji dan aku tidak akan bisa mengingkari janjiku sendiri. Percayalah, Mim tidak akan kenapa-napa.”
“Pak Hisyam, aku hanya ingin mereka selamat. Aku hanya ingin, mereka aman. Kita sudah berjanji, akan memastikan keamanan mereka selama berada bersama kita. Ini semua tanggung jawab kita.”
“Iya Le. Ini memang tanggung jawab kita. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka sampai mengalami hal buruk.”
Di tempat lain.