Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #160

Chapter #160

“Le, dimakan dong! Ibu kamu ini masak spesial buat kamu.”

Mim hanya bisa terdiam dan menyantap makanan yang tersaji di hadapannya. Masakan itu tidak pernah berubah. Semua yang ada di dalam rumah itu, tidak ada yang berubah. Semuanya tetap seperti yang dia rasakan beberapa tahun yang lalu.

Selesai makan, Mim terdiam dan menatap halaman rumah yang sama sekali tidak mengalami perubahan. Dia ingat halaman rumah itu sering dia pakai untuk bermain bersama banyak anak. Teman-teman di Bintang Gemilang tidak ada yang memandangnya sebelah mata, walau dia sendiri memiliki kekurangan dan penyakit yang justru membuat dia dijauhi.

“Mim, sedang apa kamu di sini?” tanya Ayu yang melihat Mim terdiam.

“Bagaimana kabar teman-temanku? Bagaimana kabar teman-temanku yang pernah tinggal dan bermain bareng aku?” tanya Mim pada Ayu. Ayu hanya bisa diam dan meneteskan air mata. Dia juga sangat merindukan anak-anak itu. Kejadian itu membuat kehidupan dirinya dan keluarganya berubah total.

“Kamu masih mengingat mereka?”

“Mereka tidak pernah jahat sama aku. Mereka sama sekali tidak pernah jahat, sama aku yang berbeda. Mereka menyayangiku seperti saudaranya sendiri. Tidak ada yang jahat sama aku.” Mim menatap Ayu dengan tetesan air mata. Ayu mengerti apa yang dirasakan oleh anak asuhnya.

“Le, tidak ada yang berbeda dari kalian. Kalian sama-sama manusia dan ciptaan sang kuasa. Jadi, gak ada alasan bagi siapapun untuk merendahkanmu. Siapa yang merendahkan orang sepertimu, sama saja merendahkan sang kuasa. Dia sudah menantang sang kuasa.” Ayu menatap Mim dengan tatapan yang begitu teduh.

“Aku tidak bisa lupa dengan mereka. Aku tidak bia lupa dengan temanku yang mau menerimaku walau kondisiku seperti ni.”

“Mim, mereka juga tidak akan pernah melupakanmu. Mereka tidak akan bisa melupakanmu walau kalian sudah berpisah bertahun-tahun. Ibu yakin, kamu akan bertemu mereka suatu saat nanti. Kamu akan bertemu mereka di saat yang tepat.” Mim terdiam dan terus menatap halaman rumah. “Le, hari sudah mendung. Kita masuk ya. Kalo kamu kehujanan, yang ada malah bahaya buat kamu.”

“Bu, aku dulu juga sering main hujan. Aku juga jarang sampai sakit.”

“Ibu gak kmau sampai kamu kenapa-napa. Ayah kamu pasti akan marah kalo kamu sampai kenapa-napa. Ayo masuk! Janga sampai Ayah kamu marah.” Ayu langsung menggerakkan kursi roda itu dan Mim hanya bisa diam.

Mim menatap mustika yang melingkar di salah satu jari tangannya. Mustika itu tampak bercahaya dan sepertinya memberi sebuah pertanda padanya. Mim tidak begitu mengerti, pertanda apa yang aka dia peroleh.

Tidak lama, muncul sosok perempuan cantik yang menyerupai ibunya. Wanita itu hanya mengulas senyum. Mim hanya bisa meneteskan air mata melihat bayangan ibunya berada di hadapannya.

“Ibu.”

“Mereka akan membantumu. Mereka akan selalu membantumu di saat kamu membutuhkan. Mereka akan selalu ada saat kau membutuhkan pertolongan. Kamu akan punya banyak orang yang menyayangimu, dan mereka akan membuatmu menemukan keluarga asli kita.” Kata-kata itu membuat Mim hanya bisa meneteskan air mata.

“Ibu.”

“Kamu akan aman bersama mereka. Kamu akan aman, jika terus bersama mereka. Jangan pernah membenci mereka yang ada di sampingmu sekarang, karena mereka adalah keluarga yang akan menyayangimu.”

Bayangan itu langsung menghilang dan Mim tampak kebingungan. Dia terus terngiang apa yang dikatakan sosok yang mirip dengan ibunya.

“Ibu. Ibu di mana?”

Mim tampak kebingunan. Tidak lama, Ayu mendekat setelah mendengar Mim terus menyebut kata Ibu.

Lihat selengkapnya