“Mas Hambali, aku percaya sama kamu. Kamu selama ini merawat mereka dengan baik dan kamu menganggap mereka berdua sebagai anakmu sendiri. Aku yakin kamu tidak akan mengambil keputusan yang berdampak buruk untuknya.” Ayu langsung bersuara dan Hambali terdiam dengan apa yang adiknya katakan. Semua tidak sesederhana yang Ayu pikirkan.
“Aku hanya ingin memita pendapat kalian, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membuat kekuatan benda yang ada di genggamannya sampai membahayakan dirinya sendiri.”
“Mas, alangkah baiknya kita bicara dengan Hisyam. Dia akan punya solusi untuk masalah ini. Dia sangat bertanggung jawab terkait masalah ini. Temui Hisyam dan kita akan bicara dengannya.” Yani langsung saja memberi masukan. Hambali terdiam dan teringat lelaki yang bernama Hisyam.
“Hisyam. Tidak salah lagi. Dia, bisa kita mintai bantuan. Dia, bisa kita manfaatkan untuk semua ini.” Hambali tersenyum dan langsung memeluk Yani. “Mas, aku memang butuh bantuan Hisyam. Aku minta tolong padamu, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Hisyam?”
“Aku akan atur semuanya. Kemungkinan, saat hari Minggu. Dia hari Minggu kebetulan sedang senggang.” Yani mengatakan semua itu dan berjanji akan mengantar Hambali bertemu dengan Hisyam. Hambali yang endengar apa yang Yani katakan, hanya bisa tersenyum.
“Iya. Aku akan bertemu Hisyam hari minggu. Mas, aku juga mau meminta bantuanmu untuk masalah ini. Aku juga meminta bantuanmu, untuk masalah kedua anakku.”
Yani hanya tersenyum.
***
Hari itu, ibunda Hisyam datang dan tampak marah pada anak lelakinya. Wanita itu tidak bisa terima terkait kematian cucunya. Dia tidak bisa menerima semua fakta yang ada, jika Lesti yang bertanggung jawab atas kematian cucunya dan Hisyam selama bertahun-tahun malah melindungi pelaku kejahatan.
“Ayah kamu tidak pernah mengajari untuk melindungi seseorang yang sudah bersalah. Kami tidak pernah mengajarimu, melindungi orang yang tidak bersalah. Tapi, kamu selama bertahun-tahun malah melindungi perempuan yang sudah membunjuh anak kamu sendiri, dengan alasan cinta. Cinta macam apa ini, Hisyam?” tanya wanita itu dengan nada tinggi. Hisyam hanya bisa menangis mendengar amarah dari ibunya.
“Bu, aku minta maaf atas keteledoranku. Aku teledor atas apa yang sudah Lesti lakukan.” Hisyam hanya bisa menangis melihat wanita yang mencintainya dengan begitu tulus, datang setelah tau apa yang menimpa Lesti.
“Le, Ibu sudah peringatkan berkali-kali sebelum kamu menikah. Pernikahan ini akan sangat memperberat beban bagimu ke depannya. Lesti itu bukan perempuan baik. Ibu tau, tugas kamu sebagai pemimpin, adalah mengantarkan siapapun yang kamu pimpin ke jalan yang lurus. Tapi pernikahan bukan sesimpel itu. Kalo perempuan yang kamu bimbing saja punya watak seperti Lesti, itu sama saja kamu memimpin orang yang membangkang. Kamu hanya jadi bahan olokan seperti sekarang ini. Wanita itu sudah mengolok-olokmu selama ini. Dia juga sudah mengolok-olok Ibu kamu, dan seakan mengatakan kalo anak yang Ibu besarkan dan sayangi, dengan mudah jadi bahan olokan seorang wanita yang bukan siapa-siapa. Dia sudah merendahkan martabat keluarga kita, Hisyam. Dia sudah berhasil, membuat keluarga kita menjadi hina di mata semua orang.” Hisyam terdiam beberapa saat dan menangis.
“Ibu, aku minta maaf. Aku harus mengakui semuanya salah. Aku sudah mendapat hukuman atas pembangkanganku. Aku sudah dihukum atas apa yang sudah aku lakukan. Aku sudah dihukum atas apa yang sudah aku lakukan selama ini.”
“Le, Ibu tidak bisa melihat anak yang Ibu lahirkan dan besarkan dengan penuh cinta dan doa, menjadi bahan olokan dari orang lain, terutama dari orang yang seharusnya menjadi pendamping dan teman bahagianya. Aku tidak mau melihat kamu kondisinya seperti ini.”
“Bu, aku ingin minta maaf.” Hisyam bersimpuh dan wanita itu hanya bisa menangis.
“Andai kamu dulu menikah dengan Kasih, kejadianya tidak akan jadi seperti ini. Kamu sekarang harus menanggung malu, karena semua orang sudah mengolok-olokmu. Kamu dibilang lelaki yang terlalu bucin sampa lupa atas kewajiban yang kau harus lakukan. Ibu masih yakin kamu seorang lelaki yang bisa memenuhi tangung jawabmu. Sekarang, Ibu minta penuhi kewajibanmu. Beri keadilan untuk mendiang anakmu dan buktikan kalo kamu tidak bucin pada Lesti!”