“Ibu, Ibu mau kemana?” tanya Hisyam yang khawatir dengan apa yang akan dilakukan Ibunya. Amarah dari sang Ibu yang tidak bisa dia kendalikan, membuat Hisyam mau tidak mau harus mengikuti kemana Ibunya melangkah.
“Aku ingin bertemu Lesti. Aku harus memberi pelajaran pada perempuan gak tau malu seperti Lesti. Aku tidak bisa menahan apa yang sudah ada dalam hati. Hisyam, dia sudah menghina keluargaku. Dia sudah menghina Ibu kamu ini. Dia tidak bisa menghormati kamu sebagai suaminya dan aku sebagai mertuanya. Bagaimanapun, aku harus memberikan pelajaran padanya. Aku harus membuatnya sadar, kalo apa yang dia lakukan sudah menghinaku.” Wanita itu melangkah dan orang yang sedang bersama Hisyam, tidak bisa membiarkan wanita itu pergi sendiri. Hisyam bersama Tegar dan Aning mengikuti kemana perempuan itu pergi.
“Bu, Ibu mau kemana? Ibu, tunggu kami!”
Ibu Hisyam langsung berlari. Hisyam, Tegar dan Aning yang melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu, langsung saja ikut berlari dan tidak ingin sampai ada kejadian yang tidak mereka inginkan.
Sesampainya di Lapas, wanita itu meminta agar Lesti bisa segera dihadapkan padanya. Lesti yang mengetahui ibu mertuanya datang, langsung saja sumringah. Lesti yang berpikir, ibu mertuanya datagv untuk meminta Hisyam membatalkan gugatan cerainya, langsung saja menemui wanita itu. Tapi apa yang Lesti pikirkan, semuanya salah. Saat Lesti berada di hadapan perempuan itu, dia langsung dihadiahi tiga buah tamparan. Hisyam yang melihat kebrutalan aksi sang Ibu, langsunb menahan dan memegangi tangannya.
“Ibu, aku mohon jangan seperti ini! Dia memang sudah menghina keluarga kita dengan apa yang dia lakukan. Tapi, tidak perlu Ibu melakukan hal seperti ini.”
“Perempuan bajingan. Puas kamu sudah mengolok-olok keluargaku? Puas kau sudah megolok-olok anak yang aku besarkan dengan penuh cinta? Aku berharap, Hisyam menikah dan hidup bahagia. Aku berharap, siapapun yang menjadi istrinya akan menjaga nama baiknya dan keluarga besarnya. Tapi, kamu sudah membuat anakku tidak punya harga diri. Apa ini tanda terima kasihmu sama Hisyam?” tanya perempuan itu dengan nada amarah. Rambut Lesti dijambak dan membuat perempuan itu hanya bisa menangis. “Lesti, Hisyam sudah membelikan rumah untukmu dan mencukupi semua kebutuhanmu. Tapi, apa yang kau berikan padanya sebagai bentuk terima kasih? Kau menghina dia. Kau mengolok-olok suami kamu sendiri. Apakah ini caramu berterima kasih pada orang yang sudah baik sama kamu? Kau, sudah membunuh anakmu sendiri. Kau, sudah membunuh banyak anak. Kau bahkan sudah membunuh anakmu sendiri. Kau bukanlah wanita, Lesti. Kau adalah iblis.”
“Ibu, ampun. Ampuni aku, Bu. Ampuni aku! Aku tidak pernah mau membuat suamiku kehilangan kehormatanya. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menghina suamiku dan keluarga besarnya. Aku minta maaf atas apa yang sudah terjadi.” Lesti hanya bisa memohon di tengah kondisi amarah dari Ibu Hisyam.
“Aku menyesal, sudah mengizinkan dia menikahi perempuan sepertimu. Aku pikir, dengan kamu menikah dengannya, kamu akan menjadi lebih baik. Tapi, kau malah membunuh anakmu sendiri dan selama ini, kau sudah menghina kami dengan berlindung di balik nama anakku. Dia terlalu mahal untuk menjadi milikmu. Tidak seharusnya, Hisyam menikah dengan peremouan yang tidak bisa diatur sepertimu. Dasar perempuan gak tau terima kasih.” Lesti hanya bisa menangis. Dia terus meminta agar wanita yang dia masih anggap sebagai Ibu mertuanya mengakhiri apa yang dilakukannya.
“Bu Lia. Sudah, Bu. Tolong jangan berbuat hal seperti ini di tempat umum. Kita dilihat banyak orang. Kita ditonton banyak orang. Saya mohon, jangan seperti ini.” Tegar memegang tangan perempuan yang sudah berusia lanjut. Dia berharap amarah perempuan itu bisa padam.
“Biar semua orang tau. Kalo ada perempuan berhati iblis seperti dia. Biar orang semua tau, kalo ada wanita yang tidak layak diikahi dan disayangi, seperti perempuan ini. Perempuan ini sama sekali tidak punya rasa terima kasih pada suaminya. Lihat apa yang terjadi pada anakku! Aku bersaksi, Hisyam sudah melaksanakan tugasnya sebagai suami dengan baik, di tengah kekurangannya. Hisyam sudah melakukan tugasnya sebagai suami dengan baik. Dia sudah dicukupi kebutuhannya, bahkan keinginannya untuk memiliki barang-barang yang cukup mahal. Kau harus tau, Tegar, Lesti memaksa Hisyam menuruti keinginannya untuk hidup berfoya-foya dengan barang yang harganya sangat tidak masuk akal, tapi dia balas dengan cara yang cukup menyakitkan hati. Apa ini adil? Bagiku tidak. Ini bukan hanya masalah Hisyam, tapi juga masalahku. Aku sudah merawat dan menyayangi Hisyam dengan penuh cinta. Aku selalu berharap siapapun yang Allah hadirkan sebagai istrinya, akan membawa kebaikan bagi anak yang aku lahirkan. Tapi, kalian tau sendiri. Dia sudah menghina dan merendahkan martabat anakku. Aku tidak akan pernah bisa ikhlas, dengan kelakuan perempuan seperti Lesti. Lesti, aku tidak peduli kau siapa. Aku tidak peduli, kau anak siapa. Aku sekarang hanya menganggapmu sebagai iblis betina.” Lesti yang mendengar amarah dari perempuan itu hanya bisa menangis.
“Bu Lia, aku mohon jangan lakukan hal ini. Semua orang pasti marah atas apa yang Bu Lesti lakukan. Tapi tidak seperti ini cara melampiaskannya.” Tegar menatap wanita itu. Lia yang melihay Tegar menatapya begitu tulus, hanya bisa menangis.
“Lesti, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapanpun. Aku mau kau dihukum mati atas perbuatanmu. Kalo kamu sampai tidak dihukum mati, biar aku sendiri yang akan membuat kematianmu menjadi kenyataan.”
“Bu, aku minta maaf. Aku minta maaf sama Ibu. Aku tidak pernah berniat untukn menghina Ibu dan keluarga. Aku mencintai Mas Hisyam. Aku tidak akan pernah bisa membuat Mas Hisyam terhina.”