Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #163

Chapter #163

“Kau tidak pernah berhutang, tapi kau sudah berkumpul dengan seorang penjudi dan menikmati hasil kemenangan dari penjudi yang kau puja itu. Kami sudah gak punya apa-apa lagi, Lesti dan semua ini gara-gara ulah teman kamu itu. Semuanya sudah disita karena ulah kamu yang tidak kami ketahui.” Lesti hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata. “Rumah orang tua yang beliau bangun dengan kerja keras dan keringat, musnah seketika. Rumah kami yang kami perjuangkan dengan hasil kerja keras kami, semua musnah gara-gara ulahmu yang memalukan.”

“Mbak, kenapa kami harus menangung kejahatan yang kau lakukan? Kami tidak tau apa yang kau lakukan dan kami juga harus menanggung semuaya? Ini gak adil, Mbak. Ini gak adil.” Arum kembali memberikan tamparan pada Lesti.

“Mas, aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua yang terjadi.”

“Tidak cukup hanya meunta maaf, Lesti. Tidak cukup hanya meminta maaf. Aku minta, kembalikan semua harta kedua orang tua kita, dan semua saudara-saudaramu.”

“Mas, aku tidak unya apa-apa lagi sekarang. Rumah yang aku tempati sudah dibakar sama Mas Hisyam. Mas Hisyam tidak lagi menerimaku di rumahya.” Lesti hanya bisa menangis setelah mengetahui semua yang terjadi pada semua saudaranya. “Aku hidup sebatang kara. Aku, mohon jangan ambil apapun dariku lagi. Aku hanya punya rumah yang tidak begitu luas.”

“Mbak, kau pikir kami peduli dengan penderitaanmu, setelah kau tidak pernah peduli dengan apa yang kami alami selama ini?” tanya Arum dan membuat Lesti hanya bisa bersimpuh. “Serahkan rumah itu pada kami! Serahkan rumah itu! Aku tidak mau tau apa alasanmu.”

“Lesti, aku dengar kau mendukung seorang suami yang menjual istrinya karena kalah judi. Aku minta, kau harus lakukan apa yang perempuan itu lakukan. Aku ingin, kamu melakukan apa yang perempuan itu lakukan, demi hutang kamu.” Kakak Lesti langsung menjambak dan meminta Lesti berdiri. “Berdiri, Lesti! Aku minta, lakukan apa yang perempuan itu lakukan.”

“Mas.” Lesti menggeleng.

Plak!

Tamparan itu membuat semua orang yang ada di sekitar mereka langsung begidik ngeri. Lesti terjatuh akibat amarah dari kakak laki-lakinya.

“Aku tidak mau alasan apapun untuk ini Lesti, seperti kau dan teman-temanu yang tidak menerima alasan saat wanita itu berteriak minta tolong.” Lelaki itu mendekati Hisyam dan sebuah pisau langsung dilkalungkan di lehernya. “Aku tau, kau masih mencintai lelaki ini. Turuti apa yang kami mau, atau aku akan membunuh orang yang kau cintai, tepat dihadapanmu.”

“Mas, apa yang kau lakukan?” tanya Lesti yang sangat khawatir dengan keselamatan lelaki yang dia cintai. Hisyam yang sudah berkalung senjata tajam, membuat Lesti tidak bisa melakukan apapun.

“Aku bisa membunuh Hisyam tepat di hadapanmu, kalo kamu menolak apa yang kami mau. Jadi, pilihanmu sekarang ini, ikuti kata kami, atau semuanya akan musnah seperti kehidupan anakmu yang berakhir tragis, di tanganmu sendiri.”

“Jangan, jangan apa-apakan Mas Hisyam! Tolong, bunuh saja aku, tapi aku minta tolong sama kalian, jangan apa-apakan Mas Hisyam! Dia sudah cukup menderita.” Lesti bersimpuh dan meminta agar Hisyam diselamatkan.

“Kalo aku membunuhmu sekarang, penderitaanmu sudah selesai. Tapi kalo aku membunuh Hisyam, paling tidak kamu akan menderita seumur hidupmu. Kau sudah membuat hidup kami menderita karena secara tidak langsung, dan kau pikir, kami akan membuatmu bisa mati begitu saja?”

Lihat selengkapnya