“Dia sekarang sedang ditawan keluarganya. Ikuti dia sana!” titah Hisyam.
Darti terdiam mendengar apa yang Hisyam katakan dan akhirnya memilih pergi bersama beberapa sipir yang mengawal. Tegar dan sang adik hanya bisa terdiam.
“Tegar, tolong ikuti mereka! Adikmu biar sama kami.” Hisyam meminta bantuan pada Tegar. “Pastikan tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.”
Tegar hanya bisa tersenyum dan langsung mengikuti kemana rombongan itu pergi.
Di tempat Lesti, Arum terus menarik tubuh kakaknya yang sangat berat. Lesti hanya bisa terdiam dan meminta agar dirinya dibebaskan dan dikembalikan ke penjara.
“Kembalikan aku ke penjara saja! Aku mohon, kembalikan aku ke penjara! Aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” Lesti memohon dan Arum hanya bisa terdiam melihat Lesti yang sudah tidak berdaya.
“Nasibmu sekarang ini ada di tangan kami. Nasibmu sekarang ini, berada di tangan kami, orang yang sudah terhina gara-gara ulahmu. Aku tidak akan pernah membuatmu bebas begitu saja. aku akan memastikan, kamu akan menderita seperti perepuan yang kau pastikan menderita dan kedua anaknya menangis seama ini.” Lesti hanya bisa menggeleng dan hanya bisa memohon. Arum tidak peduli dengan permintaan Lesti. Dia terus memaksa Lesti ikut kemana dia pergi.
“Arum, aku akan pergi dari kehidupan kalian. Aku akan pergi dan tidak akan menuntut apapun dari kalian. Tapi, aku mohon, lepaskan aku!”
Apa yang Lesti katakan tidak direspon oeh Arum. Arum hanya berjalan sambil menarik tubuh kakaknya ke tempat yang dia inginkan.
“Mbak kau akan dapat tempat yang layak untukmu. Kau akan dapat tempat yang cocok untuk kau tinggali. Dengan cara itu, kau bisa terbebas dari segala macam hutang pada kami.” Arum tersenyum dan Lesti menggeleng.
Arum tersenyum melihat bangunan sederhana yang tepat di hadapannya. Lesti hanya bisa menggeleng dan meminta tidak dibawa ke tempat tersebut. Arum sama sekali tidak peduli dengan apa yang Lesti katakan.
“Rum, aku tidak mau. Aku sudah cukup kehilangan kehormatanku. Aku sudah cukup kehilangan semua yang aku miliki, termasuk kehormatanku. Aku mohon.”
“Kau akan bernasib sama seperti perempuan yang selama ini kau siksa, Mbak. Kau tadi bilang, kalo kamu akan melakukan apapun demi keselamatan lelaki yang kau cintai kan? Ini cara yang aku berikan, agar Hisyam tetap hidup.” Arum tertawa dan Lesti hanya bisa menatap kosong. Dia tidak pernah menyangka jika mereka berani melakukan itu.
“Arum, aku mohon, jangan apa-apakan Mas Hisyam.”
“Kalo kamu memang tidak ingin Hisyam sampai terluka, ikuti apa yang aku mau. Aku akan pastikan, dia akan selamat selama kamu mau mengikuti apa yang aku inginkan.”
Lesti hanya bisa pasrah. Mereka membuat Hisyam sebagai tameng atas apa yang ingin mereka perbuat.
“Berhenti! Arum, jangan lakukan itu!” sebuah suara membuat Arum berhenti. Dia melihat Darti berdiri dan matanya basah. Darti datang untuk meminta agar Lesti tidak diperlakukan seperti itu.
“Mau apa kau ke sini? Mau berlagak sok pahlawan dengan menyelamatkan Lesti? Oh, masih peduli ternyata kamu sama perempuan ini.” Arum hanya tertawa dan mengejek Darti.
“Rum, aku tidak akan berlagak sok pahlawan atau apapun itu. Tapi kamu tidak seharusnya menghukum kakak kamu dengan cara seperti ini.” Darti mendekati Arum dan mencoba bicara dari hati ke hati. Arum yang melihat wanita itu mendekat, hanya bisa tersenyum dan mendorongnya sampai terjatuh.