“Apa yang kau katakan pada Arum? Kau ingin mengganti kerugian mereka dengan sesuatu yang ada di Desa?” tanya Hisyam dan Darti hanya bisa terdiam beberapa saat.
“Mas, aku bisa jelaskan semuanya.” Darti hanya bisa mendekat dan ingin sekali menjelaskan apa yang terjadi dia tidak pernah bermaksud untuk menggadaikan benda yang dimaksud.
“Tidak ada yang bisa kau jelaskan, Darti. Apakah sesuatu yang kau maksud, adalah tanah yang luasnya hampir 7 hektar itu? Tanah sengketa itu kau ingin berikan pada keluarga Lesti?” tanya Hisyam dengan nada amarah. Darti bergetar. Dia tidak menyangka Hisyam bisa semarah itu.
“Mas, tidak ada pilihan lain. aku tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan tanah itu.” Darti hanya bisa meneteskan air mata.
“Itu sama saja dengan kau membunuh dirimu sendiri. Itu sama saja, dengan kau membunuh dirimu sendiri dan membuat keluarga Lesti semakin marah. Bukan hanya mereka yang akan menumpahkan amarahnya padamu, tapi semua pihak yang terlibat dalam sengketa ini, termasuk Darto.” Wajah Hisyam langsung memerah karena sudah dikuasai amarah.
“Mas, aku tidak punya pilihan lain.”
“Kau memberikan tanah sengketa pada keluarga Lesti? Kau sudah menyerahkan tanah yang sampai sekarang masih proses sengketa pada mereka? Kau tidak puya hati, Darti. Kau sungguh tidak punya hati.” Hisyam meneteskan air mata.
“Mas, ini sudah terjadi.”
“Ini semua terjadi karena kau memang tidak ada niat untuk menyelesaikan semua masalah ini. Kau dengan mudahya meminta Arum mengambil tanah yang masih sengketa, itu sama saja memperkeruh suasana.” Darti menggeleng dan tidak bisa berbuat sesuatu. “Darti, aku akan menggugat kamu atas hal ini. Kalo sampai Arum mengambil tanah itu, aku akan menggugat kamu ke pengadilan.”
Hisyam akhirnya pergi dan Tegar hanya bisa terdiam dengan apa yang terjadi. Dia sama sekali tidak pernah menyagka, jika semua masalah ini malah semakin rumit.
“Tegar, kau di sini?”
“Aku hanya minta, segera selesaikan semua ini. Tidak seharusnya kau semakin memperkeruh masalah yang terjadi.”
“Tegar, apa yang harus aku lakukan?” tanya Darti.
“Bilanglah sama Ibu tentang kejadian ini. Aku yakin, Ibu punya jalan keluar terkait masalah ini.”
Mendengar apa yang Tegar katakan, hanya bisa terdiam. Dahayu, perempuan itu bisa memberikan jalan keluar untuk masalah ini.
***
“Kak Mim, kau mau kemana?” tanya Vira yang mengetahui Mim pergi di hari yang terik. Mim yang mendengar apa yang Vira tanyakan hanya bisa tersenyum. Dia memberi kode pada perempuan itu untuk mengikutinya. “Kak, kalo Kak Lam dan Pak Hambali tau kamu pergi, aku bisa dimarahi. Kau baru saja pulan dari rumah Bu Ayu. Aku mohon, beri tahu aku, kemana kamu?”
“Aku hanya ingin pergi ke sebuah tempat. Ada sesuatu yang harus aku lakukan di tempat itu.”
Vira hanya bisa mengikuti kemana lelaki itu pergi. Sepertinya, ada sesuatu yang penting dan harus segera Mim lakukan.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di pemakaman dan Mim berhenti di dekat makam Lingga. Vira diminta tetap berada di samping makam Lingga dan Mim melakukan sesuatu yang aneh. Vira yang melihat apa yang Mim lakukan, hanya bisa terheran. Tapi dia tidak bisa berbuat apapapun. Terdengr Mim merapalkan ajian yang Vira ketahui, adalah salah satu ajian yang cukup berbahaya.