“Ayah, tadi Kak Mim sempat cerita jika ada sesuatu yang aneh ada di makam Lingga. Ada orang yang ingin berbuat jahat pada mayat Lingga. Mereka ingin mengambil mayat Lingga, entah untuk apa mayat itu. Jadi, Kak Mim datang untuk menggagalkan niat dari makhluk itu. Sepertinya tulang-belulang Lingga punya sesuatu yang menarik.” Vira menambahkan apa yang diceritakan Mim. “Aku mengambil benda itu di makam Lingga berkat petunjuk Kak Mim. Aku gak tau itu benda apa, tapi Kak Mim bilang kalo itu semacam jimat.”
Hambali terdiam beberapa saat dan mengembalian benda itu ke tangan Mim. Dia tertegun melihat benda yang bercahaya.
“Vira, bawa Mim masuk dan minta dia istirahat! Habis itu, kembalilah ke sini. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Hambali meminta hal itu dan Vira tidak bisa menolak.
Vira langsung mendorong kursi roda itu dan meminta Mim untuk segera beristirahat.
“Kak, hari sudah menjelang siang. Aku minta kau istirahat dulu. Tadi kamu bertarung denga makhluk seperti itu dan pasti banyak tenaga yang kau keluarkan.” Vira tersenyum memandangi Mim yang hanya diam.
“Vira, aku tidak apa-apa. Sebenarnya, makhluk itu bukanlah lawan yang sepadan bagiku. Makhluk seperti itu bukanlah tandingan yang berat buatku. Aku bisa mengalahkannya dengan mudah. Aku gak apa-apa.” Mim tersenyum dan beralih ke tempat dia biasanya beristirahat.
“Aku tidak berniat meremehkanmu. Sekelas Broto saja bisa kita lumpuhkan dengan mudah, apalagi mereka.”
“Vira, Broto itu bukan aku yang melumpuhkannya. Dia lumpuh karena keberanian Tegar. Aku hanya membuat dia semakin mampus.” Vira terdiam dan memnadangi langit ruangan itu.
“Kak, istirahatlah. Aku akan membiarkanmu sendirian di tempat ini.” Vira akhirnya pergi dan membiarkan Mim seorang diri. Mim hanya mengamati benda yang dia bawa dari makam Lingga. Benda itu, tidak dia ketahui apa gunanya. Tapi dia hanya bisa menyimpan benda itu dan percaya jika suatu saat nanti, semuanya akan berguna.
Di luar ruangan.
“Vira, aku ingin bicara sebentar. Kau tidak keberatan kan?” tanya Hambali yang melihat Vira yang sudah memastikan Mim beristirahat.
“Ada apa?” tanya Vira.
“Aku hanya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi saat aku lengah. Apa yang terjadi pada Mim?” tanya Hambali yang hanya bjsa meneteskan air mata. Benda yang sekarang berada di tangan Mim, memberi pertanda jika ada sesuatu yang tidak baik yang akan Mim hadapi.
“Aku sebenarnya tidak begitu tau apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Aku hanya tau saat Kak Mim tiba-tiba keluar dan pergi. Aku yang khawatir, langsung mengikutinya. Aku rasa, Kak Mim mendapatkan sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Bukankah, kita tau kalo Kak Mim bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk yang tidak terlihat?”
“Vira, Lam dan Mim memang punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk yang tidak bisa kita lihat. Kekuatan Mim memang lebih menonjol dari kakaknya, makanya dia mudah mendapatkan pesan dari sosok yang tidak kita lihat, termasuk makhluk yang kita kenal sebagai Ratu Kaligeni.”
“Saya tau tentang makhluk itu. Mendiang Ayah sempat cerita padaku tentang Makhluk itu. Kalo gak salah, dia abdi setia dari Mbah Djojohadi Kusumo. Dia berpura-pura setia pada Broto untuk mengumpulkan banyak informasi dan kekuatan untuk mengembalikan keluarga kami. Tapi, sayangya Ratu Kaligeni tidak mendapat banyak hal selama ini.” Vira hanya bisa meneteskan air mata mengingat hal itu.
“Begitulah, Nduk. Dia sebenarnya makhluk yang sangat pintar. Hanya saja, Broto menyimpan semua ini dengan rapi, sampai Ratu Kaligeni tidak bisa mengendus, dimana keluarga kalian sekarang ini.” Hambali hanya bisa memandang kamar tempat Mim beristirahat.
“Ayah, aku yakin Kak Mim akan menyatukan keluarga kami. Aku sangat berharap, Kak Mim bisa menyatukan keluarga kami.” Vira hanya bisa meneteskan air mata. “Ayah benar, Kak Mim selama ini yang begitu menonjol dari segi kekuatannya. Aku sudah melihat sendiri, bagaimana kekuatan itu dia gunakan.”
“Terus, Mim bilang dia bergulat dengan makhluk ghaib. Apa yang dia lakukan?” tanya Hambali.
“Aku melihat dari jauh dan Kak Mim menggunakan Mustikanya biar makhluk itu bisa menunjukkan wujudnya. Tapi, aku tidak melihat wujud aslinya. Hanya suara yang keras yang aku dengar.”
“Makhluk itu tidak menampakkan wujudnya di hadapanmu?”
“Aku tidak melihat wujudnya seperti apa, tapi aku melihat ada api dan suara seperti teriakan.”
“Suara teriakan?”
“Iya. Suaranya aneh. Kayak orang kesakitan.” Hambali terdiam dan semakin teringat apa yang Ratu Kaligeni sampaikan. Semua seakan semakin nyata.