Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #167

Chapter #167

Mim terdiam dan tidak bergerak sedikitpun. Vira yang melihat kondisi Mim, tidak bisa berbuat apapun. Dia tau jika Mim sekarang ini sedang tidak baik-baik saja.

“Kak Mim, jangan pernah berpikir kami bisa menghianatimu. Kami tidak akan pernah sedikitpun ada niat untuk menghianati dan meninggalkanmu saat masa sulit. Aku juga sangat yakin, jika Ayah Hambali tidak akan pernah menghianatimu.” Vira mencoba bicara dengan lelaki yang ada bersamanya.

“Vira, aku sudah sering dihianati oleh orang lain. Tegar sekarang ini tidak berada di sini. Dia sudah kembali bersama mereka. Dia bahkan melupakan janjinya sendiri.” Mim tampak berkaca-kaca mengingat apa yang Tegar sudahb lakukan padanya. Dia sangat perhatian dan mengorbankan banyak hal. Tapi, tidak pernah dia sangka, jika semua ini akan berakhir seperti ini. Dia tidak pernah peduli setelah orang-orang itu ditangkap.

“Kak Mim, bukan seperti itu. Tegar tidak ke sini bukan karena tidak lagi mendukungmu. Dia juga harus memikirkan adik-adiknya. Mereka juga berhak mendapat perhatian yang lebih dari Tegar. Tegar masih ada di barisan kita. Dia masih memegang janji yang pernah dia ucapkan saat itu.” Vira memegang tangan Mim. Mim hahya terdiam dan menatap sekitarnya.

“Vira, apa aku layak untuk disayang?”

“Kak Mim, Kak Mim bilang apa sih? Jangan pernah mengatakan hal seperti itu. Kalian layak untuk disayang. Aku dan Ayah Hanbali masih menyayangimu. Bu Ayu juga masih menyayangi dan selalu menantikan kedatanganmu. Jadi aku mohon, jangan pernah merasa, kalo kamu tidak layak untuk disayang.” Vira tampak menetekan air mata mendengar pertanyaan Mim. Kenapa bisa Mim menanyakan hal seperti itu di saat seperti ini?

Vira membujuk Mim untuk memakan makanan yang sudah dia pegang. Mim tidak punya pilihan lain, kecuali memakan makanan itu.

Di tempat Hambali.

“Lam, ini bukan masalah yang bisa kita anggap sepele.” Lam terdiam mendengar apa yang Hambali katakan. “Le, aku hanya minta bantuan kamu, untuk mengontrol Mim. Kekuatan itu, semakin lama semakin kuat. Kalo tidak bisa kita kontrol, yang ada malah membahayakan. Aku gak mau, sampain kekuatan Mim membahayakan banyak orang.”

“Ayah, aku bukan tidak mau. Tapi aku rasa, waktuku sudah tidak banyak. Apa yang dikatakan Nyai Kaligeni beberapa waktu yang lalu, memberi isyarat kalo aku tidak akan lama lagi berada di sisi adikku.” Lam tampak berkaca-kaca saat mengatakan hal itu. Hambali terdiam dan semakin tidak bisa tenang. Tapi, kali ini dia tidak boleh terlihat gundah di hadapan anaknya.

“Lam, aku mohon jangan bicara seperti itu! Aku tidak mau sampai Mim harus kehilangan semangat, hanya gara-gara hal itu. Aku mohon, kau harus yakin kalo usiamu masih panjang.” Hambali memegang tangan Lam dan mencoba berharap jika semua itu tidak ernah terjadi dan kondisi kedua anaknya akan baik-baik saja.

“Ayah, tapi semua itu benar kan? Apa yang dikatakan Nyai Kaligeni, adalah sebuah kenyataan. Itu semua akan menjadi kenyataan suatu saat nanti.” Lam tampak meneteskan air mata.

Hambali haya bisa menggeleng. Dia semakin teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh seorang pemuka agama yang pernah dia temui.

“Ini tidak boleh terjadi. Ini tidak bisa kubiarkan. Aku harus membuat ramalan itu tidak akan terjadi.” Hambali mencoba tidak meneteskan air mata. Dia mencoba terlihat baik-baik saja di hadapan Lam.

“Lam, aku rasa, Nyai Kaligeni tidak memberi isyarat tentang hal itu. Aku tidak menangkap jika kau akan meninggalkan kami setelah keadilan untuk Ibu kamu bisa kita dapatkan.” Hambali mencoba terus membantah. Tapi sepertinya Lam tidak bisa melupakan apa yang terjadi.

“Tapu aku menangkap itu semua. Aku rasa, Mim akan berjuang tanpa kehadiranku setelah keadilan untuk Ibu, kami dapatkan.”

“Lam.” Hambali tampak meneteskan air mata. Hambali tidak kuasa menahan kesedihan melihat Lam yang seperti itu.

Hambali terdiam dan terus kepikiran tentang ramalan itu. Ramalan yang dikatakan oleh salah seorang yang dikenal sebagai pemuka agama, merupakan maut baginya. Lam akan pergi meningalkan mereka, setelah keadilan untuk Kasih bisa mereka dapatkan. Hal itu yang mengganggu pikirannya selama bertahun-tahun.

“Lam, aku mohon jangan pernah pergi!”

“Ayah, ini adalah jalan takdirku. Ini juga menjadi jalan Mim untuk berjuang tanpa kehadiranku. Aku tidak bisa mengubah jalan nasib yang kami harus lalui. Aku yakin, dia bisa berjuang dengan caranya sendiri. Aku yakin, dia bisa berjuang tanpa kehadiranku. Aku sangat mengenalnya, dan aku rasa, dia bisa berjuang tanpa kehadiranku.” Lam tersenyum pada Hambali dan meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.

“Lam, bukan seperti itu.” Hambali kehilangan kata-kata. Dia akhirnya meneteskan air mata di samping Lam.

“Ayah.”

Lihat selengkapnya