“Dia ada niat jahat. Dia datang ke sini untuk mengambil tanah yang sampai sekarang belum jelas statusnya.” Hambali tampak menatap wanita itu yang kondiinya sedang sekarat. “Tanah ini sebenarnya milik Kasih. Kasih berhak mendapatkan tanah ini sebagai balasan atas apa yang sudah dia lakukan. Tapi, Wicaksono dan selingkuhannya itu malah berusaha merebut lahan ini. Ulah mereka, membuat tanah ini tidak jela statusnya dan sampai saat ini, bahkan aparat penega hukum tidak segera mengambil tindakan terkait kasus ini.”
Hambali tampak menahan amarah dia sebenarnya ingi memutuskan sesuatu terkait kejadian saat ini tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Hambali sadar, dia tidak memiliki kewenangan atas semua ini.
“Ayah.” Lam mencoba menenangkan Hambali. Hambali yang melihat perhatian dan kasih sayang dari anak angkatnya, hanya bisa meneteskan air mata. Tidak pernah sekalipun, dia meragukan cinta dari kedua anak angkatnya, sama seperti mereka yang tidak pernah meragukan cinta yang dia berikan padanya.
“Lam, adikmu lebih membutuhkan perhatianmu.”
“Ayah, tapi Ayah kondisinya seperti ini.”
“Tidak perlu mengkhawatirkan kondisiku. Aku tidak apa-apa.”
“Ayah.”
“Lam, Mim, aku janji untuk lahan ini. Lahan ini milik kalian dan kalian akan mendapatkan hak yang seharusnya. Aku akan berjuang untuk itu.” Hambali tersenyum.
Tidak lama, Hisyam datang bersama Tegar dan Suci. Mereka yang melihat Arum datang ke desa ini dan menuju tempat yang seharusnya milik Kasih, tidak membuang banyak waktu. Hisyam ingin memastikan jika perempuan itu adaah Arum dan dia harus tau, apa yang menjadi tujuannya. Mereka tampak terkejut dengan kondisi Arum yang sudah tidak berdaya dan tubuhnya penuh luka sengatan listrik. Semua niat perempuan itu sudah jelas buruk. Hisyan hanya bisa terdiam dan menahan amarah dengan kehadiran peremuan itu di tempat ini.
“Perempuan tidak tau diuntung. Darti, aku akan menghajarmu sekarang. Aku pastikan kau akan mengalami nasib yang buruk, seperti yang akan aku lakukan pada perempuan ini.” Hisyam mengambil batu dan siap dia lemparkan ke arah Arum.
“Pak Hisyam, kumohon jangan lakukan itu, Pak! Dia sudah lemah. Tidak baik kalo Bapak menghajar orang yang sudah sekarat. Itu bukan tindakan ksatria. Kalo Bapak melakukan itu, apa bedanya Bapak dengan orang yang sudah kita seret ke penjara?” tanya Tegar. Tegar langsung memegang tangan Hisyam dan membuatnya menjauh dari tubuh Arum.
“Tegar, jangan pernah menghalangiku untuk saat ini! Aku akan membuat wanita ini semakin mampus.”
“Pak Hisyam, Bu Arum tidak bisa kita salahkan begitu saja. dia datang ke tempat ini karena omongan dari Bu Darti.” Tegar terus memegang tangan Hisyam dan meminta agar lelaki yang ada di sampingnya bisa menaha amarah dan meredamnya dengan baik.
Hisyam terdiam beberapa saat. Dia mencoba menenangkan pikirannya. Tapi, selama dia melihat wanita yang tidak berdaya itu, dia tidak bisa menenagka dirinya begitu saja. mau tidak mau, Hisyam harus melakukan sesuatu.
“Aku tidak akan pernah membiarkan semua ini terjadi. Darti harus mendapat hukuman, atas kelancangannya. Aku tidak bisa membiarkan dia melakukan hal seenaknya, pada barang yang seharusnya bukan miliknya. Aku akan memastikan, Darti akan menanggung akibat atas kelancangannya.” Hisyam langsung pergi dan tidak peduli dengan apa yang menjadi resiko atas tindakannya.
“Pak Hisyam, Njenengan mau kemana Pak? Pak Hisyam, kumohon jangan melakukan hal yang tidak baik! Pak Hisyam.” Tegar dan Suci tidak punya pilihan lain. Mereka mengejar Hisyam dikuasai amarah. Mereka tidak ingin Hisyam melakuka hal nekat seperti yang pernah dilakukannya beberapa bulan yang lalu.
“Vira, Lam, bawa Mim kembali! Biarka dia istirahat!” titah Hambali. Vira dan Lam tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti apa yang Hambali inginkan.