“Pak Hambali, aku harus cerita apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak bisa menyembunyikan ini, dari orang tuanya Mim.” Hisyam akhirnya mengajak Hambali duduk dan menceritakan semua yang terjadi, mulai kemarin. Hambali yang endengar penuturan Hisyam, hanya bisa meneteskan air mata dan tidak pernah menyangka, jika masih ada orang yang ingin membuat kedua anaknya celaka dengan cara yang begitu sadis.
Di tempat lain, setelah Hambali mengikuti Hisyam.
Mim yang kondisi tubuhnya lemas, langsung saja dibawa pulang. Lam hanya bisa terdiam melihat kondisi adiknya yang sekarang tidak lagi berdaya.
“Mim, kenapa kamu harus melakukan hal nekat seperti tadi? Tidak seharusnya kau melakukan hal itu. Kalo kamu kenapa-napa bagaimana?” tanya Lam.
“Apa aku salah kalo melakukan hal seperti tadi? Apa aku salah kalo mempertahankan sesuatu yang harusnya menjadi milikku?” tanya Mim sambil memegang tangan kakaknya. Lam hanya terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan adiknya.
“Mim, tidak seperti itu harusnya. Kamu tidak seharusnya menggunakan kekuatan itu, kalo ujungnya jadi seperti ini.”
“Aku tidak peduli apa yang terjadi. Kekuatan ini sudah melekat dalam tubuhku. Kalo tidak dipakai, kan sayang. Aku hanya ingin kekuatan yang ada dalam tubuhku, terpakai dan bisa aku gunakan.” Mim hanya bisa tersenyum dan terus memegang tangan kakaknya.
“Mim, bukan aku mau melarangmu memakai kekuatan yang ada dalam tubuhmu. Itu kekuatanmu dan kau berhak menggunakannya. Aku hanya mengingatkan satu hal padamu, kekuatan itu kalo digunakan dengan cara yang benar, tidak akan jadi seperti ini. Kamu tidak akan kehilangan banyak tenaga.”
“Bagaimana caranya? Tidak ada satu orangpun yang mau mengajariku, bagaimana cara menggunakan kekuatan di tubuhku denga cara yang benar. Aku menganggap, apa yang aku lakukan selama ini adalah cara yang benar, karena tidak ada seorangpun yang memberitahu maupun mengajariku, bagaimana menggunakan kekuatan ini dengan cara yang lebih baik.” Apa yang Mim katakan membuat semua terdiam. Lam hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan Mim.
“Mim, bukan tidak mau. Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu, kalo pake kekuatan apapun itu, jangan sembarangan. Kekuatan itu kan kamu yang tau. Kalo kamu tidak bisa mengendalikan kekuatan itu, siapa lagi yang bisa?”
“Kak Lam, aku tidak pernah tau, bagaimana caranya aku mengendalikan kekuatan ini. Tidak pernah ada satu orangpun di sekitarku yang memberi tahu bagaimana caranya aku mengendalikan kekuatan yang besar ini. Aku sama sekali gak tau bagaimana caranya mengendalikam kekuatan yang begitu besar seperti yang aku miliki.” Mim tidak menoleh sedikitpun. Dia hanya terdiam dan bersandar di kursi rodanya.
Lam dan Vira hanya bisa saling menatap. Vira bisa memahami apa yang Mim katakan.
“Kak Mim, aku tau kok apa yang terjadi padamu dan apa yang kau rasakan. Aku bisa mengerti apa yang kau alami. Aku yakin, suatu saat nanti ada orang yang bisa membantumu untuk mengendalikan kekuatan yang ada di tubuh kamu. Orang itu akan datang di saat kamu membutuhkannya.”