“Pak Hisyam?” tanya Mim yang melihat Hisyam ada di halaman rumah yang dia tempati. Hisyam hanya tersenyum melihat lelaki muda itu tengah menatapnya.
“Mim, kamu sangat layak untuk disayang. Aku selama ini menyayangimu. Aku selama ini menyayangi kalian berdua, seperti aku menyayangi anakku sendiri. Aku menyayangi kalian sama seperti Ayah angkat kalian. Jadi, jangan pernah berpikir kalo kamu tidak layak disayang oleh siapapun.” Hisyam mendekat dan mengusap rambut Mim.
“Pak Hisyam kenapa di sini?” tanya Mim. Mim terus menatap lelaki itu yang mendekatinya.
“Kedatanganku mengganggu kalian?” tanya Hisyam.
“Bukan, tapi kenapa Pak Hisyam mau datang ke sni?”
“Mim, aku hanya ingin mengunjungimu. Aku hanya ingin, mengunjugi kalian. Aku juga mau cerita, kenapa ada orang jahat yang bisa datang ke lahan yang sampai sekarang masih sengketa. Dia adalah orang serakah dan ingin menguasai harta yang seharusnya milik kalian.” Mereka semua terdiam dan terus memandangi Hisyam. Hisyam hanya terenyum sambl mengusap rambut Mim.
“Hisyam sudah banyak cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ini semua masih ada hubungannya dengan anak buah Broto. Sepertinya lelaki itu sudah menyiapkan rencana untuk mengambil alih semua harta peninggalan keluarga kalian.” Hambali menambahkan apa yang baru Hisyam ceritakan. Lam hanya diam dan memilih tidak berkomentar terkait hal itu. Mim juga diam dan memandangi sang kakak.
“Kak Lam.”
“Banyak yang sudah mereka rampas dari kita. Banyak yang sudahb mereka ambil, bahkan tanah itu juga mereka ingin ambil. Kalo mereka ingin ambil tanah itu, aku tidak keberatan. Biarkan mereka ambi semuanya.”
“Kak.” Mim mendekat.
“Itu bukan milik kita.”
“Lam, itu milik kalian. Aku pastikan tanah itu akan menjadi milik kalian. Siapapun yang berani mengusi tanah itu, dia akan berhadapan dengankmu. Aku tudak peduli siapa dia. Kalo sampai ada orang yang ingin mengambil tanah itu dari kalian, dia akan berhadapan dengan Hisyam.” Hisyam tersenyum. “Perempuan itu sudah tidak berdaya. Dia bahkan sekarang ini tidak lagi hidup. Kekuatan Mim sudah membuat peremouan itu kehiolangan kehidupannya.”
“Pak Hisyam, kenapa perempuan itu bisa sampai di desa ini?” tanya Vira.
“Kalian harus tau, kalo mereka sebenarnya adalah anak buahnya Broto. Mereka sangat meginginkan lahan yang seharusnya menjadi milik kalian. Dia sejak lama sudah mengincar lahan itu, hanya saja, selama ini mereka takut dengan keberadaan Wicaksono.” Hisyam terdiam beberapa saat. Hatinya panas melihat masih saja ada perempuan semacam itu bisa berkeliaran bebas di tempat ini. “Mereka tidak akan pernah bisa selamat dariku. Mereka tidak akan pernah bisa selamat dari apa yang akan aku lakukan.”
Banyak hal yang Hisyam ceritakan. Hambali tersenyum dan mendekati Mim. Dia ingin meminta aaf atas semua yang terjadi.
“Mim, aku sebenarnya ingun memita maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku sudah merahasiakan semua ini dari kalian. Tidak seharusnya aku menyembunyikan apapun darimu.” Hambalki hanya bisa meneteskan air mata. Hambali hanya bisa meneteskan air mata melihat Mim yang hanya bisa terdiam dan terus menatap orang yang berada di sekitarnya. “Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya akan baik. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Mim, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Semuanya akan berjalan baik-baik saja. masalah peremuan itu, aku sudahb dapa petunjukmya. Nanti, kita akan ke lahan itu bareng-bareng. Kita akan dapat petunjuk di tempat itu.” Hisyam mengajak Mim agar memasuki rumah.