Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #171

Chapter #171

Lamdi berharap, dia bisa mendapatkan penganiayaan seperti yang Wicaksono alami. Dia tidak bisa membiarkan lelaki itu mendapatkan penganiayaan seperti itu seorang diri. Wicaksono tidak sendiri saat menganiaya Kasih. Dia juga ikut memberi tekanan secara mental pada perempuan itu. “Bang Mon.”

“Minggir! Kau di sini hanya untuk menggangguku. Minggir! Atau kau akan mati sekarag juga.” Lelaki bertubuh gempal itu langsung menyingkirkikan tubuh Lamdi yang ukuran tubuhnya tidak ada apa-apaya dibanding dirinya. Wicaksono tidak bisa berbuat apapuhn melihat tubuh itu kembali mendekati tubuhnya dan menghajarnya tanpa belas kasihan.

Lamdi hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat banyak. Melihat Wicaksono dihajar dan suaranya merintih kesakitan, Lamdi hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata.

“Mas Lamdi, kenapa kamu tadi mencoba melindungi lelaki itu?” tanya seorang napi. “Itu tindakan yang sangat berbahaya. Menghadapi Bang Mon saat sedang marah, sama saja menyerahkan nyawamu sendiri.”

“Aku sama sekali tidak berniat untuk melindungi Wicaksono. Aku hanya ingin mendapat hal yang sama, seperti yang dia alami sekarang. Aku tidak mau dia mendapat semua ini seorang diri.” Lamdi hanya bisa meneteskan air mata saat seorang napi mencoba mendekati dan mengajaknya bicara.

“Tapi, aku juga mohon, jangan terlalu bodoh. Dia kalo sudah marah, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya. Setelah ini kau pasti akan mendapatkan hal seperti itu. Apa gak sayang sama nyawamu sendirii?” tanya lelaki yang ada di samping Lamdi.

“Buat apa aku menyayangi diri sendiri? Aku sudah bersalah pada anakku. Aku sudah sangat bersalah pada ketiga anakku. Mereka selama ini menderita karena kejahatan yang aku lakukan selama beberapa tahun terakhir. Aku tidak bisa memaafkan semua itu. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Anakku sudah menyadarkan apa yang telah aku lakukan selama ini dan anakku juga yang mengantarkanku ke penjara ini. Jadi untuk apa aku menyayangi diri sendiri, kalo keluargaku sendiri tidak ada yang mau menyayangi dan menganggap kehadiranku penting?” tanya Lamdi sambil menangis.

“Mas, tapi anak kamu kemarin menjemputmu untuk ke persidangan. Aku tidak melihat ada tatapan kebencian dari wajah anak kamu. dia mendukung setiap apa yang akan kau lalui.”

“Dia juga yang menyeretku ke sini. Dia seara terang-terangan berbeda pendapat denganku dan yang paling gencar membeberkan bukti atas kejahatan yang aku telah lakukan.” Lamdi akhirnya terdiam. Dia teringat apa yang telah anaknya alami selama beberapa bulan terkhir. Rangkaian teror terus menghantui kehidupan mereka sampai akhirnya Tegar harus melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri, demi kehormatan sang Ibu. “Tegar, tidak seharusnya kau melakukan itu semua. Tidak seharusnya kau melakukan semua itu, kalo aku tidak memaksakan kebodohan itu.”

“Mas.” Lamdi haya terdiam. Dia melihat Wicaksono yang terus berteriak meminta pertolongan. Tidak ada Napi yang berani menolong Wicaksono, melihat siapa yang menandangi dia saat ini.

Setelah puas menandangi Wicaksono, lelaki itu akhirnya pergi. Wicaksono langsung tidak sadarkan diri dengan luka yang tidak bisa dianggap remeh.

“Wicaksono.” Lamdi langsung mendekat dan membopong tubuh itu ke klinik. Lamdi yang melihat kondisi tubuh Wicaksono hanya bisa meneteskan air mata. Melihat Wicaksono yang tidak bisa berbuat apapun saat ini, Lamdi hanya bisa diam dan berharap jika Wicaksono masih bisa diselamatkan.

“Mim. Mim, maafkan aku! Le, maafkan aku! Aku gagal melindungi kalian. Aku sudah gagal melindungi kalian.” Wicaksono mengatakan hal itu dan membuat Lamdi hanya bisa meneteskan air mata.

Lihat selengkapnya