Tegar hanya bisa tersenyum melihat Mim yang hanya bisa diam. Tegar yakin, keluarga Mim masih hidup hingga saat ini dan mereka sedang menunggu kedatangan Mim.
“Kak Mim, aku yakin keluarga besarmu pasti sedang menantikan kehadiranmu di tengah-tengah mereka. Aku maih yakin kalo mereka sampai sekarang kondisinya baik-baik saja.”
“Tegar, kau tidak pernah tau apa yang terjadi di antara kami.”
“Kak Mim, aku memang tidak tau apa yang terjadi denga keluargamu. Aku memang bukan keluargamu dan tidak pernah tau bagaimana keluargamu. Tapi, aku bisa merasakan bagaimana perasaanmu sekarang ini. Berpisah dengan keluarga itu, adalah hal yang paling enakutkan bagi setiap orang.” Tegar tampak meneteskan air mata mengingat dia harus menanggung kehidupan kedua adiknya. Bukan dia tidak mau, tapi tidak ada seorangpun yang akan memberika semangat bagi dirinya ke depannya. “Kak Mimn aku hanya punya kedua adikku sekarang. Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Aku hanya punya adikku.”
“Tegar, apa yang terjadi padamu?” tanya Mim sambil memegang tangan Tegar. Tegar hanya bisa meneteskan air mata. Dia sadar, jika Mim sebenarnya begitu perhatian padanya. “Tegar, kita sama.”
“Kak Mim, ini jelas berbeda. Kau sebenarnya masih punya keluarga besar. Kau, masih punya keluarga yang harus kamu cari. Itulah kenapa, kamu masih semangat sampai sekarang. Kamu masih bertahan, walaupun semuanya terus menghakimimu.”
“Tegar, kita sama.”
“Kak Mim, ini jelas berbeda.” Tegar hanya bisa meneteskan air mata.
“Apa kamu tidak menganggap adikmu sebagai semangatmu?” tanya Mim dan Tegar akhirnya diam. “Kak Lam selalu bilang, jika aku ini adalah semangat hiduya selama ini. Kak Lam selalu bilang, kalo aku adalah alasan baginya untui terus bertahan, sampai hari ini. Apa kamu tidak sepemikiran dengan Kak Lam?”
Tegar langsung saja menangis dan memeluk Mim. Dia tidak menyangka, jika Mim sangat perhatian padanya, walaupun mereka bukanlah saudara.
“Kak Mim, aku minta maaf. Aku minta maaf sudah membuatmu harus khawatir seperti ini.” Tegar hanya bisa menangis.
“Tegar.” Mim hanya bisa memandangi Tegar yang sedang bersedih. Mim hanya bisa menyentuh wajah Tegar yang basah dengan air mata. “Aku juga harus minta maaf kalo aku selama ini sudah meragukanmu.”
“Kak Mim, aku memang pantas diragukan. Aku memang pantas diragukan oleh kamu dan Kak Lam. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang lain dan membantu kalian karena aku juga punya kepentingan.” Tegar hanya bisa meneteskan air mata di pelukan Mim.
Hisyam yang melihat keakraban kedua pemuda itu hanya bisa tersenyum. Dia hanya tersenyum dan berharap keakraban ini membawa hal baik bagi mereka. Dia terus memilih diam sebelum mendekat.
“Tegar.”
“Kak Mim, aku berbeda denganmu. Kita bukanlah saudara, seperti kamu dan Kak Lam. Aku juga tidak punya siapa-siapa lagi selain kedua adikku. Aku hanya punya mereka. Berbeda denganmu. Kamu masih punya keluarga besar. Kamu masih punya keluarga yang entah sekarang ada di mana.”