Mim terus menggerakkan kursi rodanya sampai akhirnya dia berhenti di sebuah pusara. Pusara itu tidak lain adalah milik mendiang Yusron, kepala desa sebelum yang sekarang menjabat. Mim terdiam dan meneteskan air mata melihat pusara itu yang terlihat mulai tidak terawat. Mim hanya bisa meneteskan air mata mengingat bagaimana Yusron berusaha melindungi Kasih dan dirinya selama ini.
“Kak Mim, ini makam Mbah Yusron. Kau serius ingin berkunjung ke sini?” tanya Tegar. Mim terdiam beberapa saat dan pandangan itu tertuju pada Tegar.
“Apa aku salah berkunjung ke sini?”
“Kak Mim, bukan seperti itu maksudku. Tapi, biasanya kamu datang ke pemakaman, untuk berkunjung ke makam Lingga.”
“Aku tidak mungkin lupa dengan apa yang dilakukan Mbah Yusron selama dia menjabat sebagai kepala desa. Aku tidak pernah lupa apa yang Mbah Yusron lakukan saat Ibu meninggal dan kami ditolak oleh desa ini.” Mim tampak meneteskan air mata mengenang hari itu.
“Kak Mim, aku tau semuanya. Dia adalah kepala desa terbaik di desa kita. Dia kepala desa terbaik di desa ini, tapi justru warga desanya menolak kehadirannya. Warga desa ini sudah menolak kehadiran orang baik, dan justru mengharapkan orang seperti Pak Wicaksono dan kekasih gelapnya.” Tegar hanya bisa meneteskan air mata. Dia tidak bisa lupa dengan apa yang terjadi pada lelaki yang sekarang ini sudah terbungkus oleh tanah. “Aku ingat, sebelum meninggal dunia Mbah Yusron sempat mengeluarkan semacam kutukan. Mungkin kutukan yang beliau maksud, adalah kutukan yang kau tebarkan di desa ini.”
Mim terdiam dan tidak menjawab apa yang Tegar katakan. Mim terdiam cukup lama di makam Yusron.
“Selama hidupnya, dia selalu menjadi pembela kami. Saat Ibu kami meninggal, dia yang menyelamatkan kami. Aku tidak bisa lupa dengan apa yang udah dia perbuat selama ini. Aku bisa bertemu dengan keluarga Bintang Gemilang, semua berkat bantuannya. Aku bisa bertemu Ayah Hambali karena bantuannya.” Mim tampak meneteskan air mata. Tegar yang mendengar cerita Mim hanya bisa menangis. Dia ingat bagaimana kebijaksanaan seorang Yusron. Dia ingat, bagaimana seorang Yusron memimpin desa ini dengan cara yang bersahaja.
“Kak Mim, aku tau bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tau bagaimana lelaki ini membelamu, saat yang lain tidak ada yang bisa dan mau melindungimu. Aku melihat semuanya. Aku sangat tau, bagaimana rasa sakit yang Mbah Yusron rasakan selama menjabat sebagai kepala desa.”
“Tegar, aku tidak bisa melihat dia dihina begitu saja.” Mim menatap Tegar dengan air mata yang terus saja mengalir.
“Kak Mim, siapapun yang berani menghinanya semasa hidup, sekarang sudah mendapat hukuman yang setimpal. Seperti yang menghina Ibu Kasih dan kalian, juga akan mendapat hukuman yang setimpal. Semua sudah mendapat hukumannya masing-masing. Aku yakin, pelaku utama penyebab penderitaan kalian, akan mendapat hukuman mati.” Tegar tersenyum dan mencoba membuat Mim bisa tersenyum. Dia tidak ingin kehidupan Mim terus diwarnai air mata. Sudah cukup air mata penderitaan dia alami selama ini.
“Bagaimana dengan perempuan yang bernama Darti? Bagaimana dengan kelompok Darti yang jelas menantang Mbah Yusron secara terang-terangan?”
“Kak, mereka sudah mendapat hukumannya sendiri. Kau harus tau, Bu Darti dan teman-temannya sekarang harus menghadapi kasus yang rumit. Mereka tidak hanya menghadapi tuduhan kejahatan atas kalian, tapi juga harus menghadapi tuntutan dari kepala desa yang sekarang. Mereka semua akan mendapat hukuman yang berlapis.” Tegar menatap langit yang begitu cerah. “Aku yakin, mereka akan dapat hukuman mati. Bagaimanapun caranya, Darti dan Wicaksono akan mendapat hukuman mati.”
Tegar langsung menangis. Dia langsung saja menangis dan teringat kedua orang tuanya. Dia yakin, kedua orang tuanya juga akan mendapat hukuan mati, seperti yang akan didapatkan oleh Darti dan Wicaksono.
“Tegar.”
“Mereka sudah menghina pemimpin desa ini. Mereka sudah menghina pemimpin desa kita.” Tegar hanya bisa meneteskan air mata.