“Mim, tidak seharusnya kau bilang seperti itu. Tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti demikian. Kalo kamu mengatakan hal itu, sama saja kau ingin desa ini terkena musibah.” Hisyam langsung memegang tangan Mim dan memandanginya denga penuh kasih. Hisyam tidak pernah mau sampai Mim mendapat sesuatu yang buruk karena kata-katana sendiri. “Mim, apa yang kita ucapkan, juga akan berimbas pada diri kita sendiri. Jadi aku mohon, katakan yang baik. Kalo kamu terus mengatakan hal yang buruk, bukan tidak mungkin kata-kata itu kembali pada yang bersangkutan. Aku tidak mau hal itu terjadi.”
“Semua hal buruk sudah kami alami. Semua hal buruk sudah kami terima selama berada di desa ini.”
“Mim, aku mengerti apa yang terjadi sama kalian. Aku sangat mengerti kenapa kamu begtu marah sama penduduk di desa ini. Aku bisa mengerti semua itu.” Hisyam hanya bisa meneteskan air mata. Amarah yang Mim hadapi, juga menjadi amarah yang juga dia derita selama ini. “Mim, aku bisa merasakan kekecewaan yang kau alami. Aku bisa megerti kekecewaan itu, karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku sudah dihina oleh istri sendiri. Aku sudah diremehkan oleh perempuan yang selama ini menjadi pendamping hidupku. Aku tidak punya harga diri di hadapannya. Tapi sekarang dia sudah masu penjara dan aku yakin, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal, atas apa yang sudah dia lakukan selama ini.”
“Itu hanya terjadi sama pak Hisyam. Semua itu tidak terjadi padaku. Selama ini, masih banyak orang yang sebenarnya bersalah tapi belum mendapat hukuman. Mereka berlindung di desa ini, hanya karena mereka adalah orang dekat dari perangkat desa. Selama ini, masih hanyak orang yang berlindung di balik namamu. Padahal dia jelas bersalah atas apa yang terjadi pada kami. Mereka jelas terlibat kejahatan yang terjadi pada Ibu kami.” Mim menatap Hisyam dengan tetesan air mata. Hisya terdiambeberaoa saat dan menyadari jika apa yang Mim katakan adalah sebuah kebenaran. Dia yakin masih ada orang yang terlibat kejahatan itu dan sampai sekarang tidak mendapatkan hukuman sama sekali.
“Siapapun itu, aku tidak akan pernah bisa membiarkan itu terjadi. Aku akan memastikan kalo mereka akan bertekuk lutut di hadapan kalian. Mereka harus bertekuk lutut di hadapan anak Mbak Kasih.” Hisyam langsung berdiri dan mengajak Mim pergi ke tempatnya. “Mim, sekarang saatnya semua itu kita gabungkan. Aku rasa, sekarang saatnya batu itu menjadi milikmu.”
“Pak Hisyam. Bapak mau kemana?” tanya Tegar yang khawatir.
“Kekuatan itu akan aku gabungkan. Sudah saatnya permata yang aku simpan, bisa Mim gunakan dengan baik. Mim, aku mohon gunakan kekuatan itu dengan baik.” Hisyam langsung mendorong kursi roda Mim dan Mim hanya bisa terdiam. Tegar yang tidak bisa berbuat apapun, akhirnya memilih mengikuti kemana mereka pergi.
Sesampainya di rumah Hisyam, Mim hanya terdiam melihat permata itu yang bercahaya. Mustika yang ada di tangannya, langsung dia pertemukan dengan permata itu. Tidak butuh waktu lama, Mustika yang Mim pegang selama inin juga ikut bercahaya. Langit desa yang awalnya berwarna biasa, langsung berubah dan membuat suasana mencekam. Cahaya yang ada di langit, bukanlah cahaya yang biasanya menyinari desa itu.
“Kekuatan batu ini bukanlah kekuatan biasa. Kekuatan itu kekuatan yang tidak bisa kita remehkan begitu saja.” Hisyam tertegun dengan kekuatan yang ditunjukkan kedua benda itu. “Mim, kekuatan ini kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Aku yakin dengan kekuatan itu, kamu bisa dengan mudah mengalahkan siapapun yang menjadi musuhmu.”
“Pak Hisyam.” Mim mencoba mengendalikan kekuatan itu. Setelah mencoba, dia mulai tau bagaimana kekuatan itu bisa dikendalikan tanpa harys membahayakan dirinya.
“Mim, kau tidak kesulitan kan mengendalikan semua ini?” tanya Hisyam.
“Sama sekali enggak.”
“Mim, biarkan semua ini terjadi. Jangan apa-apaan kekuatan itu. Biarkan kekuatan itu menunjykkan dirinya di hadapan seluruh warga desa.” Hisyam meminta hal itu dan Mim menuruti apa yang Hisyam katakan. Langit kembali merah dan ada sesuatu yang tersembunyi di balik merahnya langit desa kali ini.
“Pak Hisyam, ini kenapa?” tanya Tegar yang tampak kebingungan.
“Tegar, tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi. Tidak akan terjadi hal apapun. Kekuatan itu hanya akan berjalan dengan perintah dari Mim. Tanpa perintah dari empunya, mereka tidak akan bisa melakukan apapun.”
“Tapi, kenapa langit begitu menakutkan?”
“Kau akan lihat setelah ini. Kau akan lihat, ada sesuatu yang menjadi keajaiban dari batu peninggalan keluarga Mbak Kasih.” Hisyam tersenyum. Dia melihat Mim terus memejamkan matanya dan terus menyebut sang Ibu. “Aku yakin, Mim akan mudah mengendalikan kekuatan itu. Ini sudah digariskan oleh takdir, kekuatan itu akan tunduk kepada keluarga dari Empunya.”