Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #179

Chapter #179

“Kalian berdua, sekarang ikutlah denganku! Aku akan tunjukkan apa yang sebenarnya terjadi ada lelaki itu.”

Hisyam langsung berdiri dan meminta mereka untuk mengikuti kemana dirinya akan pergi. Tegar dan Alif langsung mengikuti kemana Hisyam sekarang ini.

Sekitar setengah jam perjalanan, mereka sampai di sebuah rumah sakit dan terlihat ada orang yang sedang berkumpul di salah satu ruangan.

“Pak Hisyam, ini kita gak salah kan? Kita sekarang sedang di rumah sakit. Kita ngapain ke sini?” tanya Alif. Dia yang penasaran langsung saja berkomentar.

“Kita memang gak salah tempat. Aku sengaja mengajak kalian ke sini, karena di tempat ini aku akan menunjukkan apa yang tadi aku katakan.” Hisyam langsung menuju ruangan yang sekarang menjadi pusat perhatian banyak orang. “Berhenti! Kalian dengar suara orang yang berteriak itu?”

“Suara itu, dari ruangan ini bukan sih?” tanya Alif sambil menoleh ke ruangan yang tepat berada di samping mereka.

“Betul. Coba dengarkan! Kalian dengarkan saja teriakan itu.” Mereka terdiam dan tidak sampai lima menit, Tegar menyadari sesuatu. Tegar mengenali suara orang yang berteriak.

“Dia, kenapa Dia hanya bisa teriak di saat seperti itu?” tanya Tegar dan mengintip ruangan itu dari balik jendela. Terlihat jelas, Wicaksono kondisinya begitu memprihatinkan. Dia seperti orang gila yang berada di pinggir jalan. Tegar hanya bisa terdiam, tapi dalam hatinya dia tersenyum dan merasa begitu puas dengan kondisi lelaki itu sekarang ini.

“Tegar, bagaimana kondisinya? Apa kamu puas dengan apa yang terjadi?” tanya Hisyam setelah Tegar melihat kondisi Lelaki yang bernama Wicaksono. Tegar tersenyum dan mulai ada rasa lega melihat lelaki itu dalam kondisi yang setengah gila.

“Dia seperti orang yang tidak waras. Dia seperti orang yang gak waras, seperti orang yang aku temui di pinggir jalan. Aku sangat lega, dia kondisinya seperti ini. Dia layak menjadi gila, karena selama ini membuat Bu Kasih dan Mbah Yusron tidak lebih seperti orang gak waras. Dia layak mendapatka semua ini.” Tegar menatap lelaki yang bernama Wicaksono itu dengan tatapan senang.

“Begitulah. Ini sudah terjadi sejak kemarin. Da terus berteriak. Wicaksono sekarang tidak lebih seperti orang yang berada di pnggir jalan. Hari ini dia dirujuk ke rumah sakit jiwa, untuk mendapat perawatan yang lebih intens.” Hisyam tersenyum melihat Tegar bisa tersenyum untuk sekarang ini.

“Sudah diperiksa?” tanya Alif.

“Sudah, Lif. Hasilnya, dokter mengatakan dia sedang berhalusinasi. Setelah ini dia harus dibawa ke rumah sakit khusus yang menangani masalah seperti ini.” Hisyam menjelaskan semuanya. Dia mendapat kabar tentang Wicaksono dari salah seorang temannya yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu.

“Dia penyebab dari apa yang terjadi di desa kita. Sekarang aku hanya ingin dia merasakan akibat dari kejahatannya. Kejahatan itu akan berbalik padanya.” Tegar tersenyum dan mentertawakan kondisi Wicaksono. Dia begitu puas dengan kondisi Wicaksono sekarang ini.

Tegar terdiam dan terus mengamati Lelaki yang tengah ketakutan. Dia melihat semua itu tampak begitu senang dan berharap lelaki itu akan menjadi orang gila selamanya.

“Dia harus menjadi orang gila selamanya. Hukuman itu sudah yang setimpal bagi lelaki pengecut seperti Wicaksono.” Tegar meneteskan air mata dan menatap Taman yang ada di hadapannya.

“Tegar, kau di sini, Le?” tanya seorang Lelaki yang ada tepat di pintu ruangan itu. Tegar yang melihat keberadaan Lelaki itu hanya bisa menangis dan tidak kuasa menahan gejolak emosi yang sudah lama terpendam dalam dirinya. Dia sangat merindukan Lelaki itu, tapi juga penasaran kenapa Lelaki itu ada di sini. “Tegar, kamu sehat, Le?”

“Ayah, Ayah di sini?” tanya Tegar sambil menahan tangis.

“Le, aku tidak punya pilihan lain kecuali melakukan semua ini. Aku harus berada di sini dan menemani lelaki itu.” Lamdi menceritakan semua yang harus dia lakukan. Mendengar semua itu, Tegar tidak bisa terima begitu saja. ayahnya sudah hina karena dekat dengan Lelaki itu, dan sekarang Lelaki yang dia sayangi harus menghinakan dirinya seperti ini? Ini tidak akan bisa Tegar biarkan.

Lihat selengkapnya