“Ayah, aku mau. Aku akan membantu Ayah untuk membongkar semua itu.”
“Aku minta tolong sama kalian. Ada beberapa tempat di mana barang bukti itu disembunyikan. Aku mohon, kalian harus menemukan barang bukti itu. Semuanya masih ada di desa kita dan aku yakin, para peaku dan pemegang benda itu tidak akan berani keluar dari desa kita.” Lamdi mulai bercerita terkait yang dia ketahui. Tegar, Hisyam dan Alif yang mendengar pengakuan dari Lelaki itu tanmpak tidak percaya. Bukti itu berada di tempat yang selama ini tidak pernah mereka duga.
“Mas Lamdi, jadi ini ada hubungannya sama salah seorang perangkat desa?” tanya Hisyam.
“Mas Hisyam, aku harus mengatakan iya untuk sekarang ini. Aku harus bilang iya karena kenyataannya memang seperti itu. Aku tidak bisa katakan siapa pelakunya sekarang. Aku harap, bukti itu bisa kalian temukan sebelum sidang dua pekan lagi. Saat itu, aku akan beberkan siapa pelakunya dengan barang bukti yang sudah kalian temukan. Aku mohon, Mas, segera temukan barang itu! Aku takut kalo brang itu sampai dihilangkan.” Lamdi memohon dan Hisyam hanya bisa mengiyakan.
“Mas Lamdi, kami akan mencari benda itu. Petunjuk yang kau berukan itu sudah sangat cukup.” Hisyam tersenyum dan mengantar Lamdi ke Lapas.
Mereka akhirya kembali ke desa setelah Lamdi memasuki Lapas. Hisyam terdiam dan entah bagaimana dia harus mencari benda yang Lamdi maksud.
“Pak Hisyam, kita akan berhadapan dengan perangkat desa. Bagaimana kita bisa menemukan benda yang Ayah maksud?” tanya Tegar.
“Tegar, pasti ada jalan untuk semua ini. Aku yakin, Mas Lamdi sebenarnya sudah memberi petunjuk untuk kita bisa menemuka bukti itu tanpa diketahui siapapun.” Hisyam terdiam dan menengok foto mendiang anaknya yang terpajang di salah satu tembok rumahnya. Melihat foto itu, Hisyam seperti punya ide yang bagus. Ide itu bisa dia pakai untuk membuka petunjuk yang Lamdi maksudkan. “Tegar, Alif, aku minta kalian nanti malam ke rumahku. Tapi, jangan sampai ada yang curiga tentang kehadiran kalian. Tegar, kau bisa ajak kedua adik kamu. Mereka juga harus terlibat dalam masalah ini.”
“Kedua adikku?”
“Iya, Le. Mereka akan membatu kita. Mereka akan menghilangkan kecurigaan warga kepada apapun yang akan kita lakukan. Aku ingin kita membongkar semua ini dengan cara yang begitu rapi.” Hisyam hanya berharap jika Tegar mau mengikuti permainan yang sedang dia jalankan.
“Baiklah. Aku akan ajak mereka.”
Tegar menatap Hisyam dengan mata yang berembun. Dia sadar jika semua ini demi desa ini dan janjinya kepada Lam dan Mim. Dia harus mengajak kedua adiknya untuk membantu sang Ayah membongkar semua ini.
“Kak Lam, Kak Mim, aku akan menepati janjiku segera. Aku akan menghadirkan semua yang sudah aku janjikan pada kalian. Aku, akan memberi keadilan pada mendiang ibu Kasih,” gumam Tegar yang mulai beranjak pulang.
Hisyam yang melihat Tegar menjauh, hanya bisa meneteskan air mata. Dia tau jika semua ini tidak mudah untuk Tegar. Tapi dia harus melakukan semuanya demi ucapan yang pernah dia keluarkan.
“Tegar, ini tidak mudah buat kamu. Aku tau ini bukanlah hal yang mudah buat kamu. kamu tidak ingin sampai adik kamu kenapa-napa. Tapi kamu harus melakukan ini. Kamu harus melakukan semua ini demi janji yang pernah kau ucapkan sebelumnya.” Hisyam meneteskan air mata dan Alif yang masih menemani Hisyam, langsung mendekat.
“Pak Hisyam, Njenengan baik-baik saja?” tanya Alif.
“Aku gak apa-apa.”
“Njenengan yakin baik-baik saja?” tanya Alif dan membuat Hisya hanya bisa diam. Dia memandangi Alif dan tidak bisa menyembunyikan air matanya.
“Aku hanya khawatir sama Tegar. Dia sekarang pasti sedang dilema, dan menghadapi situasi yang tidak mudah. Aku tau dia sedang dilema untuk sekarang ini.” Hisyam menceritakan apa yang sedang Tegar hadapi.
“Pak Hisyam, Tegar bukan anak yang cengeng. Aku mengenalnya sebagai anak yang kuat.”