Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #182

Chapter #182

“Suci, masalahnya memang sudah rumit. Kita hanya berusaha menguraikan semua ini. Aku harap hanya kita yang tau tentang semua ini. Jaga rahasia ini sampai saatnya sidang itu digelar.” Hisyam memohon semuanya. Mereka bertiga hanya bisa saling menatap satu sama lain.

“Suci, ini demi kedua orang tua kita. Ini demi Ayah. Aku mohon kita bantu Ayah untuk menyelesaikan semua ini sampai tuntas.” Tegar memohon.

“Mas, bagaimana jika ini gagal?”

“Suci, jangan bilang seperti itu! Bagaimanapun ini juga demi desa kita. Ini demi orang tua kita. Hanya ini yang bisa kita lakukan sekarang. Kita bisa membantu Ayah untuk membongkar semuanya dan membuktikan kalo masih ada tersangka lain yang belum dihukum. Aku tidak pernah rela, dia dipenjara tapi pelaku yang lain malah hidup tenang dan masih bebas berkeliaran.” Tegar memohon agar Suci bisa menjaga rahasia ini.

“Baiklah, Mas.”

***

“Pak Hisyam?” tanya Mim yang melihat Hisyam berada di halaman rumahnya seorang diri. Hisyam mendekat dan mengusap wajah Mim dengan senyuman. Melihat Mim yang tengah diam dan sendirian, membuatnya teringat anak kandungnya yang sudah meninggal. Hisyam sengaja datang ke tempat Mim pagi sekali karena ingin mengatakan sesuatu. Hisyam ingin cerita tentang apa yang dia lakukan sekarang ini.

“Bagaimana kabarmu, Le?” tanya Hisyam.

“Aku baik-baik saja. Cuma, aku takut terjadi apa-apa sama Kak Lam. Aku takut, terjadi sesuatu sama Kak Lam.” Mim hanya bisa menatap Lam yang tengah terdiam di kejauhan. Sepertinya Lam sedang mencoba sebuah mantra yang dia miliki.

“Mim, kenapa dengan kakak kamu?” tanya Hisyam terheran. Dia ingin memastikan kedua anak Kasih kondisinya baik-baik saja. “Kakak kamu terlhat baik-baik saja. Lam akan baik-baik saja.”

“Aku takut kalo terjadi sesuatu sama Kak Lam. Aku takut kalo Kak Lam sampai mengalami hal yang tidak kita inginkan.” Mim hanya bisa meneteskan air mata. Apa yang yang jadi firasatnya, sampai sekarang masih terus menghantuinya. Hisyam terdiam beberapa saat dan mencob tersenyum pada Mim. Dia tidak ingin membuat Mim semakin terpuruk.

“Le, aku yakin semua itu tidak akan terjadi. Semua itu tidak akan terjadi sampai kapanpun. Kalian berdua akan mencari keberadaan keluarga kalian bareng-bareng. Lam akan menemanimu mencari keberadaan keluarga mbah Djojohadi.” Hisyam tersenyum dan mencoba mengajak Mim ke salah satu sudut dari halaman rumah mereka yang begitu luas. “Le, aku sudah tau semuanya tentang kutukan itu. Aku sudah tau kalo kutukan itu tidak akan pernah lepas dari desa ini sampai ada keadilan untuk Ibu kamu dan mendiang Mbah Yusron. Keadilan untuk mereka adalah kuci untuk melepas kutukan yang sempat kau tanam di desa ini. Aku sekarang sedang mengupayakan semua itu. Aku akan mempercepat keadilan untuk kalian. Bagaimanapun, kutukan itu harus hilang dan korban dari kejahatan di desa ini harus mendapatkan keadilan yang layak.”

“Pak Hisyam, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Mim.

“Mim, aku harus ceritakan semuanya padamu. Kutukan yang kalian taburkan di desa ini, sebenarnya adalah jawaban dari doa mendiang Pak Yusron saat akhir hayatnya. Dia yang sebenarnya sudah mengutuk desa ini dengan kutukan yang sangat menakutkan. Sebenarnya, kutukan yang kalian tebarkan dan tanam untuk desa ini adalah jawaban dari doa mendiang, bukan semata dari kalian.” Hisyam menceritakan semuanya pada Mim. Mim tertegun dengan apa yang baru saja dia dengar. Mendiang Yusron sudah mengutuk desa ini, persis seperti kutukan yang dia tanam di desa yang telah melukai hatinya.

“Mbah Yusron melakukan semua itu?” tanya Mim.

Lihat selengkapnya