Mereka bertiga terdiam dan menunggu Mim selesai dengan semuanya. Setelah selesai, Mim membuka mata dan menatap Hisyam yang berada paling dekat dengannya. Dia tersenyum dan mencoba mendekati lelaki itu. Melihat Mim yang sepertinya sedang capek, membuat Hisyam langsung mendekat dan ingin mendengar apa yang ingin dia sampaikan.
“Desa kalian akan terbakar. Desa yang kau huni akan terbakar tidak lama lagi. Tidak ada satupun orang yang akan selamat dari kebakaran itu. Sebelum kejadian itu terjadi, Pak Hisyam bisa pergi dan tinggalkan segera desa itu.” Mim mengatakan semua itu dan membuat Hisyam hanya bisa terdiam. Dia tidak pernah menyangka jika akan terjadi hal yang seperti demikian.
“Mim.” Hisyam menepuk bahu Mim. Spontan saja, Mim langsung terjatuh dari kursi rodanya dan tidak sadarkan diri. “Mim, kenapa kamu, Le? Le, kenapa kamu?”
“Mim.” Lam mendekat dan meminta Hambali dan Hisyam untuk membawanya ke kamarnya.
“Lam, siapkan ramuan yang dibutuhkan! Aku yang akan memberikannya pada Mim.” Hisyam hanya meminta itu pada Lam. Lam langsung menyediakan semuanya di kamar Mim. Hisyam langsung memberikan penanganan pada tubuh Mim yang terlihat begitu pucat. Kekuatan itu sangat luar biasa. “Mim, kau akan baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padamu.”
“Hisyam, apa yang terjadi pada Mim? Mim tidak apa-apa kan?” tanya Hambali yang khawatir.
“Pak, sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Aku rasa, Lam lebih tau apa yang terjadi pada adiknya. Ini ada hubungannya dengan kekuatan ghaib yang dimiliki Mim.” Hisyam langsung menatap Lam dan Lam hanya bisa meneteskan air mata mengetahui apa yang terjadi pada Mim sebenarnya. Dia tau apa yang terjadi sampai Mim tidak sadarkan diri seperti sekarang ini.
“Mim sepertinya baru bertemu Nyai Kaligeni. Tapi aku rasa, tubuh Mim tidak sanggup menghadapi kekuatan yang Nyai Kaligeni bawa. Dia belum bisa menyeimbangkan kekuatan yan dia miliki dengan kekuatan yang dimiliki Nyai Kaligeni.” Lam menceritakan semuanya dengan air mata yang terus mengalir.
“Lam, bukankah selama ini dia baik-baik saja? Selama ini, dia baik-baik saja kan saat bertemu Nyai Kaligeni?” tanya Hambali lagi.
“Iya. Memang selama ini dia baik-baik saja, karena Nyai Kaligeni membawa aura yang bisa Mim kendalikan. Tapi sepertinya sekarang berbeda. Nyai Kaligeni membawa aura kekuatan yang cukup tinggi. Mim belum sanggup untuk menyeimbangkan semuanya.”
Hambali terdiam mendengar penuturan Lam. Lam mengatakan semuanya secara jelas. Dia semaki teringat dengan apa yang dikatakan orang pintar yang pernah ditemuinya beberapa tahun silam.
“Pak Hambali.” Hisyam menyentuh pundak Hambali yang sedang melamun. Dia tidak sadar sudah meneteskan air mata.
“Hisyam, ada apa?” tanya Hambali.
“Tolong pegang dada Mim. Dia butuh kehadiran orang yang selama ini hadir dalam hidupnya.” Hisyam tersenyum.
Hambali langsung memegang dada Mim. Tidak butuh waktu yang begitu lama, Mim akhirnya berangsur sadar dan membuka matanya. Mim melihat ketiga lelaki itu berada di sampingnya hanya bisa diam dan mencoba duduk.
“Mim, jangan memaksakan diri!” pinta Hisyam.
“Kenapa ini?” tanya Mim sambil memegang tangan Lam dan Hambali.
“Mim, kau gak apa-apa, Le?” tanya Hambali. Mim hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan itu.
“Aku gak apa-apa.” Mim menjawab pertanyaan Hambali sambil menatap Hisyam yang masih berada di sampingnya.