Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #184

Chapter #184

“Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah jadi bagian dari tugasku. Kalo aku tidak menyampaikan ini ke kalian, yang ada aku malah bersalah. Aku akan sangat bersalah jika aku tidak membantu kalian.” Hisyam memandang wajah Mim yang kali ini tampak bercahaya. Hisyam yang melihat cahaya yang terpancar dari wajah Mim hanya bisa tersenyum dan semakin meyakini apa yang pernah dia dengar tentang Mim.

“Mim ini sebenarnya bisa diselamatkan dan kekuatan yang ada dalam tubuhnya bisa dikendalikan dengan baik. Kekuatan yang diwariskan keluarganya pada Mim tidak begitu berbahaya dan bisa digunakan dengan baik. Aku akan membuat kekuatan itu menjadi berguna bagi dirinya dan orang yang ada di sekitarnya.” Hisyam tersenyum dan menatap wajah Mim yang masih bercahaya.

“Pak Hisyam.” Mim langsung memegang tanga Hisyam dan seketika, Hisyam tersadar dari lamunannya.

“Mim, ada apa, Le?”

“Kenapa? Kenapa Pak Hisyam melamun?” tanya Mim. Mendengar pertanyaan itu, hisyam hanya bisa terdiam dan memberika senyuman untuk Mim.

“Gak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk masalah ini. Semuanya sudah beres dan kami akan selalu siap membantumu.” Hisyam tersenyum dan berpamitan mengingat hari yang sudah mulai beranjak siang. Dia harus bertemu beberapa orang yang akan dia mintai pertolongan untuk masalah ini.

“Pak Hisyam mau kemana?” tanya Mim setelah Hisyam berpamitan.

“Mim, aku akan pergi. Aku akan bertemu beberapa orang yang akan membantu kita memberi keadilan pada mendiang. Semoga semuanya bisa berjalan lancar.” Hisyam hanya bisa melemparkan senyum dan Mim tampak terdiam dia hanya melihat Hisyam yang menjauh dari tempatnya tinggal sekarang ini.

Sepertinya, kehadiran Hisyam dalam kehidupan Mim, sudah membawa sesuatu yang hilang selama beberapa tahun terakhir. Mim merasa ada sesuau ang hilang yang kembali hadir bersama kehadiran Hisyam dalam hidupnya.

“Mim, sedang apa di sini? Ayo masuk. Kamu sepertinya harus istirahat.” Lam yang melihat adiknya berada di pintu kamar dan menatap halaman rumah langsung mendekat. Mim sendiri menolak untuk dibawa kemanapun. Dia ingin tetap di sini.

“Kak, aku ingin tetap di sini. Aku cuma ingin tetap di sini.” Mim tersenyum dan meminta Lam juga berada di sini.

“Mim, kenapa sih? Ada sesuatu yang jadi masalah untukmu?” tanya Lam. Mim hanya bisa terdiam beberapa saat. Dia terus menatap Hisyam yang akhirnya menghilang dari pandangan mereka.

“Pak Hisyam.” Mim langsung menangis setelah Hisyam tidak lagi tampak dalam penglihatannya.

“Kenapa dengan Pak Hisyam?” tanya Lam.

“Aku menemukan sesuatu yang hilang selama beberapa tahun terakhir. Aku, menemukan sesuatu yang hilang dan mungkin tidak pernah aku terima selama hidupku.” Mim langsung saja memelukn Lam. Lam terdiam dan mengerti apa yang menjadi maksud adiknya. Lam juga meneteskan air mata untuk semua itu.

Lihat selengkapnya