Hisyam hanya diam melihat kedua lelaki yang ada di hadapannya. Umar dan Alif tidak punya pilihan lain, kecuali membantu Hisyam dalam rencana ini. Semua yang akan mereka lakkan, juga demi desa ini.
“Pak Hisyam, apakah Bapak sudah memikirkanya dengan baik? Saya bukan tidak mendukung rencana itu, tapi semua ini punya resiko yang tidak mudah. Rencana Bapak ini sangat beresiko.” Alif langsung mengingatkan tentang kemungkinan yang akan terjadi. “Pak Hisyam, kita harus menghadapi pihak pemerintah desa. Ini sangat berbahaya untuk Njenengan.”
“Alif, aku tau rencana ini sangat beresiko. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak punya pilihan lain, kecuali menjalankan rencana yang beresiko seperti sekarang ini.” Hisyam meneteskan air mata dan harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
“Pak Hisyam, kami akan membantu. Kami akan membantu rencana Pak Hisyam. Saya tau semua ini akan beresiko, tapi bukan berarti ini idak bisa berhasil. Saya masih yakin jika ini akan berhasil dengan banuan dari beberapa orang.” Umar tersenyum dan memegang tangan Hisyam. Kali ini Umar sangat serius dengan apa yang akan Hisyam lakukan. Hisyam hanya bisa meneteskan air mata mendengar apa yang baru saja Umar katakan. “Pak Hisyam, namanya juga ikhtiar. Kita hanya bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan. Sisanya, kita harus serahkan pada Allah.”
“Terima kasih, Gus. Sekali lagi terima kasih.”
***
Malam harinya. Hisyam bersama Tegar sekarang sedang menyusuri tepi sungai yang kondisiya gelap. Tegar yang diajak Hisyam ke tempat itu hanya bisa terdiam dan mengikuti langkah lelaki yag sekarang ada bersamanya. Hisyam yakin, jika di tepi aliran sungai itu, dia bisa mendapatkan petunjuk untuk langkah yang harus dia ambil.
“Pak Hisyam, ini serius Bapak mengajakku ke tempat seperti ini saat malam seperti ini?” tanya Tegar yang penasaran. Hisyam hanya bisa meminta Tegar diam untuk sekarang ini. Dia merasakan ada seseorang yang tengah berada di tempat ini. “Pak Hisyam, siapa itu? Kenapa orang itu ada di sini?”
“Tegar, diamlah sebentar! Sepertinya memang ada yang sedang berada di tempat ini. Kalo kamu terus berisik, yang ada dia malah curiga.” Hisyam meminta Tegar diam entah keberapa kali. Tegar akhirnya diam dan mengamati sekitarnya.
Dari kejauhan, tampak sosok lelaki yang tidak jelas rupanya sedang berdiam diri. Dia entah sedang melakukan apa di tempat seperti sekarang ini. Hisyam mengajak Tegar menjauh beberapa meter dari lokasi tersebut dan mengamati lelaki yang gerak-geriknya aneh.
“Gerak-geriknya mencurigakan. Aku yakin, dia ada hubungannya dengan apa yang terjadi di desa kita selama beberapa tahun terakhir.” Hisyam berbisik kepada Tegar. Tegar hanya bisa diam dan menatap lelaki yang tampak dari kejauhan.
“Pak Hisyam, apa dia ada beneran ada hubungannya dengan apa yang terjadi?”
“Aku sangan yakin jika dia ada hubungannya. Sekarang, kita belum tau siapa dia. Kita, harus bisa mengikuti dan mengamati dia secara diam-diam.” Hisyam langsung meminta Tegar kembali diam dan terus mengamati lelaki yang ada di kejauhan.
Mereka begitu lama berada di lokasi itu, hingga lelaki itu mengeluarkan suara. Lelaki itu menoleh dan merasa jika ada yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
“Siapa di sana? Ada perlu apa kemari?” tanya lelaki itu. Hisyam dan Tegar yang menyadari sapaan lelaki yang ada di kejauhan, langsung perlahan berpindah tempat. “Siapa di sana? Jawab pertanyaanku!”
Lelaki itu mencoba mendekat ke tempat Hisyam dan Tegar berada. Merasa terancam, Hisyam meminta Tegar untuk segera berpindah tempat tanpa bersuara.
“Tegar, kita ke pohon tua itu. Di sana kita akan aman,” bisik Hisyam dan mereka langsung bergerak perlahan. Dalam keheningan, mereka berpindah tempat agar tidak diketahui sosok lelaki yang ingin mendekati mereka.
Lelaki yang mereka intai selama beberapa waktu, mencoba mendekat. Tapi, terlihat jika lelaki itu tampak kebingungan dengan daerah sekitar situ. Tidak ada orang satupun yang ada di tempat itu. Padahal, dia yakin jika ada yang mengawasinya sejak tadi.
“Aneh, kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Padahal aku yakin, ada orang yang sedang mengawasiku. Aku merasa ada orang lain di wilayah ini.” Lelaki yang tidak terlihat wajahnya itu, terdiam begitu lama di tempat itu. “Siapapun kalian, kumohon keluarlah!”