Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #186

Chapter #186

“Mim, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak akan terjadi apapun sama kami.” Hisyam memegang pundak Mim. Mim terdiam dan tidak bisa membiarkan lelaki itu kenapa-napa.

“Kak Lam, aku hanya takut kalo akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada orang yang sudah menolongku.” Mim tampak menangis dan Hisyam hanya bisa memandang wajahnya.

“Mim, Pak Hisyan gak apa-apa. Kita lihat sendiri, Pak Hisyam gak apa-apa.” Lam langsung menegur Mim yang hanya tertunduk.

“Kak Lam, nanti Pak Hisyam ini yang akan menemani kita untuk mencari keluarga kita. Aku gak mau, Dia yang sudah bersedia membantu kita, harus celaka di tengah jalan.” Mim mengatakan semuanya pada Lam.

“Mim, kontrol semua ini sebenarnya ada di kamu. Kamu harus sadar kalo kekuatan dan senjata hebat itu yang pegang sekarang adalah kamu.”

“Kak Lam, bagaimana aku bisa kau bilang yang jadi kontrol?” tanya Mim.

“Mim, kau ingat, beberapa hari ini kau yang menggangalka teror yang menyasar Pak Hisyam. Kau berhasil membunuh makhluk yang ingin membuat Pak Hisyam celaka. Itu bukan sesuatu yang kebetulan. Itu semua pasti ada maksudnya. Kalo Mim bisa melumpuhkan makhluk itu, berarti kamu yang akan jadi penentu semua ini.” Lam menceritakan semua yang telah terjadi. Mim hanya bisa terdiam dan menatap Hisyam yang masih setia di sampingnya.

“Mim, apa yang dikatakan kakak kamu ada benarnya juga. Kamu yang jadi kotrol dan pusat dari semua ini. Kamu adalah orang yang luar biasa.” Mim terdiam dan menatap Hisyam yang duduk sejajar dengannya.

“Pak Hisyam, aku belum bisa apa-apa.”

“Kata siapa? Mim, kamu bisa menguasai kekuatan yang ada di mustika dan permata itu, sebenarnya sudah begitu luar biasa. Jangan pernah bilang kamu tidak bisa apa-apa.” Hisyam tersenyum. “Mim, aku banyak tau tentang kekuatan yang sekarang kau kuasai. Itu bukan kekuatan biasa. Le, walaupun kekuatan itu harus diasah lagi, tapi bisa menguasai dasar dari ilmu itu adalah hal yang luar biasa.”

Mim hanya bisa diam dan akhirnya memilih pulang. Bersama tiga orang yang sekarang menemaninya, Mim menggerakkan kursi rodanya ke arah bukit. Di tengah perjalanan, Mim medadak terdiam dan mengawasi sekitar. Sepertinya ada sesuatu yang dia rasakan.

“Mim, kau gak apa-apa?” tanya Hisyam yang melihat keanehan Mim. Mim meminta semuanya diam dan mengawasi beberapa orang yang akan melintas di tempat mereka sekarang berada.

“Pak Hisyam, sejak Mustika itu keluar dari tubuhnya, dia sering begini. Indra keenamnya semakin kuat.” Lam langsung berbisik dan Hisyam hanya bisa diam dan menunggu apa yang Mim sudah isyaratkan. Ini adalah efek dari mustika itu yang semakin tajam. Dia tau ada sesuatu yang tengah mendekati mereka.

Tidak lama, Mim menatap seorang lelaki yang kebetulan tengah lewat di depanya. Dia terus menatap lelaki yang tidak lain adalah salah seorang perangkat desa.

Hisyam langsung terdiam melihat lelaki itu. Dia seketika ingat dengan pemilik suara yang tadi dia dengar di tepi sungai. Tidak salah lagi, pemilik suara itu adalah orang yang sekarang berada di hadapannya. Postur tubuh dan cara berjalan juga sama.

Lihat selengkapnya