Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #187

Chapter #187

“Pak, bagaimana caranya memakai semua ini?” tanya Tegar yang penasaran. Dia begitu penasaran dengan serbuk yang Hisyam pegang sekarang ini. Hisyam hanya tersenyum melihat serbuk itu. Serbuk ini bukanlah serbuk biasa.

“Tegar, kau harus tau sesuatu tentang desa yang kita tinggali sekarang ini. Pagar ghaib yang mengelilingi desa ini masih aktif sampai sekarang. Serbuk ini akan membuat siapapun yang mengkonsumsinya tidak akan pernah bisa menembus pagar yang sudah dipasang mengelilingi desa ini, sampai ada tindakan ghaib yang diambil.” Tegar langsung diam mendengar apa yang bari Hisyam katakan. Serbuk itu bukanlah serbuk biasa seperti yang dia kira.

“Berarti, ini hanya sementara.”

“Memang hanya sementara. Kau harus tau, dia akan bisa keluar dari pagar ghaib itu harus dengan bantuan orang yang mengerti. Tidak semua orang yang paham dunia ghaib bisa membuka pagar itu secara sembarangan.” Tegar langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan Hisyam. “Baiklah, aku akan jelaskan besok pagi, untuk semua yang telah terjadi.  Sekarang kau bisa istirahat. Aku akan mengintai lelaki itu dulu.”

Mereka akhirnya berpisah. Hisyam yang punya rencana untuk mengikuti lelaki yang dia curigai, langsung membuntuti lelaki yang dia maksud. Tampak dari kejauhan, lelaki itu bingung dengan apa yang harus dia lakukan.

“Mereka tidak boleh tau. Semua ini tidak boleh ada yang tau. Aku bisa kena hukuman dan karirku akan hancur seketika.” Lelaki itu duduk dan Hisyam yang melihat kesempatan itu, langsung mendekat.

“Mas, sudah bertemu Pak Kades?” tanya Hisyam yang memulai basa-basi. Lelaki yang tau kehadiran Hisyam di tempat ini langsung tersenyum walau tidak bisa menyembunyikan jika dia sangat terkejut.

“Sudah. Saya hanya menyerahkan beberapa barang penting untuk acara desa.”

“Mas, aku ingin meberikan sesuatu padamu. Aku baru tau kalo kamu suka jamu. Aku punya serbuk jamu pemberian dari saudara. Aku rasa, kau harus mencobanya.” Hisyam mengeluarkan bungkusan yang dia bawa. Lelaki itu yang melihat bungkusan itu hanya bisa tersenyum dan begitu senang dengan apa yang Hisyam berikan.

“Mas Hisyam, baunya sangat identik dengan jamu. Aku suka. Dari baunya saja sudah begitu harum. Aku yakin kalo ini pasti enak.”

“Cobalah, Mas! Saudaraku cerita kalo jamu ini begitu populer di daerahnya. Banyak yang mencari jamu ini.” Hisyam memberikan bungkusan itu pada lelaki yang ada di sampingnya.

“Terima kasih. Aku akan mencobanya.” Lelaki itu tersenyum dan pamit pergi. Mereka berpisah walaupun Hisyam tetap di tempat itu. Hisyam sebenarnya kurang puas dengan obrolan tadi. Tapi, ternyata semuanya bisa dia lakukan dengan mudah.

“Aku harus mengawasi lelaki itu untuk malam ini.”

Hisyam mengikuti langkah lelaki itu diam-diam. Tampak jelas dia pulang dan bertemu istrinya yang sudah menunggu. Jelas sekali sang istri khawatir dengan apa yang akan terjadi dengan sang suami.

“Mas, kau gak apa-apa kan? Gak ada yang sampai tau tentang apa yang kau lakukan di tepi sungai itu kan?” tanya sang istri. Lelaki itu hanya bisa diam dan memintanya masuk.

Hisyam yang melihat itu semua langsung menyelina ke salah satu bagian rumah. Dia ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Mas, bagaimana tadi?”

Lihat selengkapnya