Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #188

Chapter #188

“Ayah, aku tidak tau tentang kekuatan itu. Aku sama sekali tidak pernah tau tentang kekuatan yang ada di desa ini. Sepertinya Nyai Kaligeni tau sesuatu tentang kekuatan itu, tapi dia tidak memberi tahu apapun tentang kekuatan yang sudah ada sejak lama di desa ini.” Mim menjelaskan semuanya dan Hambali hanya bisa terdiam. “Kekuatan yang ada di desa ini sudah tertancap begitu dalam. Kita gak akan bisa mencabut kekuatan jahat itu dari desa ini, walaupun kita sudah melakukan ritual yang kita anggap ampuh. Kekuatan ini, hanya bisa hilang dengan cara dibakar.”

“Biklah Mim. Aku hanya ingin tau sesuatu tentang kekuatan itu. Tapi kalo kamu sebenarnya tidak tau, gak apa-apa.” Hambali terdian dan menatap langit malam yang begitu cerah. Dia terlihat menangis dan mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada desa ini.

“Ayah, hanya itu yang aku tau. Kekuatan itu hanya bisa hilang jika kekuatan itu dibakar, dan tidak sembarangan orang yang bisa membakarnya. Aku sendiri bahkan gak tau siapa yang bisa membakar kekuatan itu.” Mim terdiam. Dia menatap Mustika yang berda di salah satu jarinya.

“Le, apakah Mustika ini, gak bisa melenyapkan kekuatan itu?”

“Itu akan sangat berbahaya. Aku tidak mau mengambil resiko untuk semua ini. Kekuatan itu sangat beresiko jika aku memaksakan diri mencabut kekuatan yang asing bagiku. Kekuatan itu terlalu kuat.”

Hambali hanya bisa terdiam mendengar pengakuan Mim. Dia mengerti dengan apa yang jadi pertimbangan anak angkatnya. Semuanya tidak bisa diputuskan begitu saja.

Mim sendiri akhirnya keluar dan terus memandangi bulan purnama yang bersinar begitu terang. Dia merapalkan sebuah mantra yang selama ini dia kuasai sebagai bentuk meminta petujuk atas apa yang terjadi.

Tidak lama, Mim mendekati pohon yang tidak jauh dari tempatnya berada. Ada sesuatu yang mencuri perhatianya. Ada satu benda yang tergeletak begitu saja di samping pohon dan sepertinya Mim tidak asing dengan benda tersebut.

“Ayah.” Mim menoleh ke arah Hambali dan memberi isyarat. Hambali mendekat dan melihat apa yang ditunjuk Mim. Benda yang tidak asing bagi mereka, tergeletak begitu saja di samping pohon yang tumbuh di halaman rumah itu.

“Mim, ini bukan benda sembarangan. Sepertinya ini benda pinya kekatan Ghaib, kalo dilihat dari auranya.” Hambali yang mengamati benda itu sekilas, langsung bisa menyimpulkan jika benda itu ada sesuatu yang tersimpan.

“Benda itu sama seperti yang pernah Nenek pegang. Aku melihat Nenek memegang benda ini saat membawa Ibu lari dan bertemu Mbah Yani.”

“Gak salah lagi, Mim. Kita harus segera ketemu Mbah Yani. Ini semua pasti ada hunbungannya dengan Mbah Yani dan Nenek kamu. Aku yakin, Yani pasti tau tentang benda ini.” Hambali terdiam dan terus mengamati benda itu.

“Ayah, apa ada petunjuk dari benda itu?”

“Aku gak tau, Le. Kita akan dapat petunjuk kalo kita sudah tanyakan hal ini pada Mbah Yani. Dia tau sesuatu tentang apa yang sebenarnya terjadi.” Mim terdiam dan berharap jika ada sesuatu yang dia dapatkan untuk mencri semuanya. “Kita sendiri yang harus ke tempat Mbah Yani. Hisyam kita beri kesempatan untuk memecahkan misteri di desa ini. Misteri yang membawa kita ke luar sana, kita akan pecahkan sendiri. Kau nengerti?”

Mim hanya bisa terdiam dan memberi isyarat mengerti. Dia menatap benda itu dan berharap ada sesuatu yang tengah mendekatinya. Dia sangat berharap jika ada hal baik yang tengah mendekatinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

***

Lihat selengkapnya