Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #189

Chapter #189

“Pak Hisyam?” tanya Alif yang menyadari keberadaan Hisyam di tempat ini. Tegar yang juga mengaetahui keberadaan lelaki itu di depan rumahnya, langsung memintanya masuk. Tegar tau jika Hisyam sedang membawa sesuatu yang akan membantu mereka.

“Pak Hisyam, ada apa ini?” tanya Tegar. “Sepertinya, ada sesuatu yang harus Njenengan sampaikan pada kami.”

Hisyam memasuki rumah itu dan memilih diam beberapa saat. Dia tidak bercerita apapun terkait apa yang baru saja dia temui. Dia harus menenangkan diri dan menyiapkan sesuatu sebelum menceritakan semuanya pada kedua lelaki yang ada bersamanya.

Alif yang melihat kondisi Hisyam yang sepertinya tidak baik-baik saja, langsung mengambilkan segelas air putih.

“Pak Hisyam, minumlah dulu! Mungkin ini akan membuat Njenengan akan sedikit lebih tenang.” Hisyam yang melihat apa yang Alif lakukan, hanya bisa tersenyum. Terlihat jika kedua lelaki itu sangat peduli dengan keberadaannya di tempat ini.

“Tidak perlu seperti ini sebenarnya. Aku baik-baik saja. hanya saja aku butuh waktu untuk menceritakan semua ini pada kalian.” Hisyam langsung terdiam setelah mengatakan semua itu. Alif dan Tegar hanya bisa terdiam dan saling pandang mendengar apa yang baru dikatakan lelaki yang ada bersama mereka.

“Enggak. Pak Hisyam terlihat sedang gak baik-baik saja. Ada sesuatu yang sepertinya Pak Hisyam sembunyikan sekarang ini.” Apa yang baru Alif katakan membuat Hisyam terdiam dan menatap rumah itu. “Pak Hisyam, kalo memang sudah siap untuk cerita, silahkan cerita! Aku yakin Njenengan ke sini ada sesuatu yang ingin disampaikan.”

“Aku harus mengatakan semua ini pada kalian. Ini semua, sebenarnya terkait apa yang pernah Mim sampaikan beberapa hari yang lalu. Apa yang pernah Mim katakan memang akan terjadi. Umur desa ini tidak akan lama. Desa ini sepertinya memang akan terbakar seperti yang pernah Mim katakan.” Hisyam hanya bisa meneteskan air mata setelah mengatakan semua itu. Alif dan Tegar hanya bisa saling pandang mendengar semua yang Hisyam katakan.

“Pak, Nejnengan bisa tau semua itu darimana? Kenapa Nejnengan bisa menyimpulkan kalo desa ini memang akan terbakar?” tanya Tegar. Tampak tetesan air mata meluncur begitu saja di wajah Tegar.

“Semua ini ada hubungannya dengan kutukan yang tertanam di desa kita. Kutukan itu memang akan hilang jika desa ini terbakar.” Hisyam mengatakan semua itu sambil menatap suasana desa yang begitu cerah. Dia tidak bisa membayangkan jika desa yang menjadi tempat kelahiran dan kehidupannya selama puluhan tahun, harus mengalami hal yang begitu tragis. “Kutukan yang tertanam di desa kita, bukan Mim dan Lam yang menanamnya. Ini sudah lama ada di desa ini, bahkan jauh sebelum mereka kembali ke desa ini.”

“Pak, Njenengan yakin dengan semua itu?” tanya Alif. Hisyam terdiam dan mengajak mereka keluar. Hisyam ingin menuju salah satu sudut desa. Dia yakin jika di salah satu sudut desa ini ada sebuah petunjuk yang membuat mereka terdiam dan percaya akan apa yang terjadi.

“Alif, Tegar, aku harus mengajak kalian ke tempat yang gak jauh dari sini. Aku yakin kalo di sana ada petunjuk yang akan membuat kita yakin dengan apa yang terjadi ke depannya.”

Mereka terus melangkah dan berhenti di salah satu rumah. Memang, mereka berdiam diri di tempat yang tidak terlalu dekat denga rumah itu, tapi juga tidak terlalu jauh. Hisyam meminta mereka diam dan memantau situasi sekitar dan apa yang akan terjadi.

Tidak butuh waktu lama, seorang lelaki yang tidak lain adalah perangkat desa, keluar rumah dan tampak kebingungan. Ketiga lelaki itu langsung mengambil posisi aman agar tidak terlihat lelaki tersebut dan sang istri.

“Pak Hisyam, dia kenapa?” tanya Tegar yang tampak terheran.

“Tegar, serbuk yang aku berikan padanya semalam itu, ternyata manjur. Dia sekarang sepertinya melihat pagar ghaib yangb mengelilingi desa kita.” Hisyam berbisik kepada kedua lelaki yang ada bersamanya. “Kita tinggal tunggu waktu saja untuk dia mengakui semuanya. Tegar, laksanakan rencana yang sudah kita susun!”

Lihat selengkapnya