Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #190

Chapter #190

“Mas, lihat ini. Aku baru saja memotretnya di balai desa. Di belakang balai desa. Tapi, kelakuannya aneh. Masa dia bawa kayak sesajen gitu? Kayak yang pernah Kak Mim lakukan beberapa bulan yang lalu.” Suci langsung menunjkkan foto itu. Keempat lelaki yang ada di hadapanya, sontak menengok foto yang Suci tunjukkan. Terlihat jelas, jika lelaki yang tadi mereka intai, tengah berada di tempat tersebut dan sedang melakukan hal aneh. Sepertinya, dia melakukan ritual yang entah apa itu.

“Ngapain lelaki ini ada di situ? Dia mau apa?” tanya Alif. Mereka terdiam sejenak sampai akhirnya Lam mengerti sesuatu yang tengah dilakukan lelaki itu.

“Ritual itu akan sia-sia. Ritual yang dilakukan lelaki itu tidak akan membawa hasil apapun.” Lam hanya bisa mengatakan hal itu. Hisyam yang mendengar apa yang Lam katakan langsung menoleh. Lam mengetahui sesuatu yang sedang dilakukan lelaki yang ada di foto itu.

“Lam, kau tau sesuatu?” tanya Hisyam

“Ritual itu pernah kami lakukan beberapa tahun yang lalu. Ritual itu berhasil waktu itu, karena kami tidak sedang disandera atau hal sejenisnya.” Lam terdiam beberapa saat. “Tapi, ini tidak akan berhasil. Ritual ini aku pastikan gak akan berhasil karena dia sudah kalian tawan. Dia sudah tertawan dengan serbuk itu, dan apapun yang dia lakukan tidak akan pernah berhasil.”

“Kak Lam, itu sebenarnya ritual apa?” tanya Tegar.

“Ritual itu bertujuan untuk memanggil para jin yang ada di sekitar tempatmu berada. Jin yang akan datang, akan setia padamu sampai waktu yang kalian inginkan. Tapi, itu harus dilakukan oleh orang yang merdeka dari kekuatan ghaib alias tidak sedang ditawan oleh kekuatan ghaib apapun. Dia kan sudah ditawan dengan serbuk itu, jadi percuma. Bangsa jin tidak akan pernah mau tunduk pada Tuan yang tidak merdeka.”

Hisyam dan Tegar hanya bisa terdiam mendengar semua itu. Tegar akhirnya tersenyum setelah mengetahui semua itu. Artinya, misi yang mereka lakukan akan berhasil.

“Semua ini akan berhasil. Semua ini akan berhasil. Apa yang sudah kita rencanakan, tidak akan sia-sia.” Tegar menatap lelaki yang ada di sekelilingnya. “Kita tinggal tunggu saatnya saja. pak Hisyam, ini akan jadi kemenangan kita.”

Hisyam hanya bisa tersenyum.

“Tegar, tapi kamu harus hati-hati. Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan, karena serbuk itu bukan hanya berpengaruh pada orang yang mengkonsumsinya, tapi pada orang yang ada di sekitarnya. Jika kamu sampai salah langkah, nyawamu akan menjadi taruhannya.”

“Pak Hisyam, aku tau. Aku akan berhati-hati. Yang jelas, aku akan bisa menepati janjiku. Kak Lam, aku akan menepati janji yang sudah aku ucapkan. Aku akan membantu kalian mendapatkan keadilan.” Tegar tersenyum dan mereka akhirnya pergi. Lam sendiri terdiam dan hanya mengingat apa yang dia lihat di foto yang baru saja diperlihatkan Suci. Sepertinya dia begitu penasaran dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu.

Lam diam-diam menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh adik dari Tegar. Dia harus memastikan sendiri apa yang terjadi.

Di tengah perjalanan, dia tidak sadar jika berpapasan dengan Mim. Mim yang menyadari Lam tengah menuju suatu tempat langsung berhenti dan mengikuti langkah Lam.

“Mim, mau kemana kamu, Le?” tanya Hambali. Mim memberikan isyarat jika ada sesuatu yang harus dia ikuti. Hambali diam dan mengikuti kemana Mim mengggerakkan kursi rodanya. “Mim.”

“Ayah, diam dulu dong.” Mim setengah berbisik. Dia tidak mau sampai Lam kaget dengan kehadiran mereka.

Lihat selengkapnya