Lelaki itu berlari dan sangat ketakutan. Dia meihat sosok perempuan yang ingin menghajarnya sekarang ini. Sosok itu sangat menyeramkan.
Mim yang kebetulan sedang bersama Tegar untuk memberikan sesuatu ke sungai Desa, hanya bisa terdiam melihat lelaki itu berlari seperti orang yang gak wras.
“Tegar, lihat dia! Kenapa dia seperti ini?” tanya Mim. Tegar yang melihat apa yang terjadi juga tidak mengerti. Dia sama sekali tidak tau apa yang terjadi pada lelaki itu.
“Aku gak tau Kak Mim.” Tegar menatap lelaki itu yang berputar di sebuah pohon beringin. Mereka menatapn lelaki itu sampai akhirnya dia berlari menuju arah brat. Mim yang melihat kemana lelaki itu berlari, langsung memberi isyarat pada lelaki yang ada di sampingnya.
“Tegar, kita ikuti dia! Aku tau sesuatu tentang ini.”
Tegar tidak punya pilihan lain. tegar akhirnya hanya bisa mengikuti kemana langkah kaki lelaki itu. Mim terus merapalkan mantra yan telah dia kuasai sambil menggosok Mustika yang dia pakai.
“Kak, tapi kita sepertinya sedang berjalan menuju makam. Dia berjalan menuju pemakaman desa. Mau apa dia ke pemakaman desa?” tanya Tegar yang mulai menyadari sesuatu. Mim tersenyum melihat semua itu.
“Tegar, kau akan tau saat di pemakaman.”
Mereka hanya bisa mengikuti lelaki itu dan berhenti tepat di makam Lingga. Mim hanya bisa diam melihat lelaki itu berkeliling makam adiknya. Dia tau sesuatu tentang apa yang tengah disembunyikan lelaki itu.
“Mim, tolong aku! Aku minta tolong, bebaskan aku dari ancaman ini. Aku terancam. Aku merasa terancam. Aku dikejar sosok wanita yang menyeramkan.” Lelaki itu langsung meminta bantuan Mim agar mau menolongnya.
“Apakah Baak tengah menyimpan benda asing?” tanya Mim.
“Benda asing? Apa yang kau maksud?”
“Pak, aku tau, kau tengah menyimpan benda asing sekarang ini dan mengambil benda itu di sekitar makam Lingga. Apakah dugaanku benar?” tanya Mim kembali.
“Mim, apa benda itu yang membuatku jadi seperti ini?” tanya lelaki itu yang sudah sangat ketakutan.
“Itu bukan benda biasa, Pak. Aku mohon, kembalikan benda itu ke tempat asalnya. Bapak akan tetap dihantui oleh sosok perempuan, selama benda itu masih Bapak simpan.”
Mendengar apa yang baru Mim sampaikan, lelaki itu lngunb mengeluarkan sebuah tali. Tali itu dia temukan di samping makam Lingga. “Mim, aku menyimpan ini. Aku gak tau apa kegunaan benda ini.”
“Kembalikan tali itu ke Makam adikku! Setelah kau mengembalikan benda itu, sosok yang sekarang ada di sampingmu gak akan mengganggumu lagi.” Mim menatap lelaki itu dengan tatapan yang begitu tajam. Lelaki itu tidak punya pilihan lain, kecuali mengembalika tali itu. Dia mengembalikan tali yang dia bawa, tepat di samping makam bayi yang malang itu. “Lingga, Tali ini sudah kembali padamu. Aku mohon, kembalikan kekuatan itu ke tempat yang seharusnya!”
Tidak lama, permpuan itu menghilang. Perangkat desa itu hanya bisa menangis dan mengucapkan terima kasih. “Mim, aku mengucapkan terima kasih padamu.”
“Jangan pernah sembarangan mengambil benda yang ada di makam ini! Bisa jadi, benda itu membawa kutukan atau sesuatu yang bisa mencelakaimu.”
“Iya, Mim. Aku mengerti. Terima kasih.” Lelaki itu akhirnya pergi. Tegar yang melihat Mim membiarkan lelaki itu pergi, hanya bisa terheran. Mim membiarkan lelaki itu pergi begitu saja?