Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #192

Chapter #192

Mim merasakan ada sesuatu yang aneh, di salah satu sudut rumahnya saat merapalkan mantra. Dia merasa ada seseorang yang sudah ada di salah satu sudut rumahnya sejak lama dan mengetahui semua yang dia bicarakan dengan Tegar.

“Siapa itu? Jangan pernah bersembunyi dan mengintai kami? Keluar dari tempatmu! Keluar, atau aku akan membunuhmu sekarang. Keluar!” teriak Mim. Rapalan mantra yang Mim baca, membuat orang yang menguping pembicaraannya denga Tegar, merasakan kepanasan dan lagsung keluar. Orang itu berjalan mendekati Mim dan menunduk karena sudah ketahuan. Seorang wanita yang tidak lain adalah Arum, tengah menunduk dan ingin bersimpun di hadapan Mim. “Kau? Mau apa kau ke sini?”

“Mim, aku minta maaf sudah lancang. Aku sadar, kedatanganku ke tempat ini sudah lancang.” Arum menangis dan meminta Mim tidak mencelakainya.

“Kau sudah mendengar apa yang kami bicarakan? Kau sudah tau rahasia yang kami sudah susun?” tanya Mim dengan wajah amarah.

“Mim, aku mohon maaf sudah melakukan ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku kabur dari tempat Darto dan menuju ke sini untuk meminta perlindungan untuk sementara waktu. Aku tadi melihat kalian yang dari arah sungai dan memilih mengikuti langkah kalian. Aku tidak sengaja mendengar perbincangan kalian. Aku sama sekali gak ingin tau rahasia apapun yang kalian susun.” Wanita itu menangis. Dia sebenarnya ingin meminta banuan terkait dirinya dan keselamatan anaknya.

“Mau apa kau ke sini? Apakah hanya ingin meminta perlindungan?”

“Mim, aku hanya mau minta tolong, terkait keselamatan anakku. Aku minta tolong, untuk keselamatan putriku. Aku hanya minta itu saja.” Arum memohon. Dia hanya ingin tempat berlindung untuk malam ini saja.

Mim terdiam mendengar apa yang perempuan itu katakan. Mim melihat air mata yang keluar dari wanita itu, tidak bisa berbuat banyak.

“Tapi, kau sudah tau rahasia kami.”

“Mim, aku akan jaga rahasia itu. Aku bersumpah akan menjaga semua yang kau dan Mas Hisyam rencanakan, bahkan aku akan membantu kalian untuk mencapai tujuan kalian. Kalo aku sampai gak bisa menjaga rahasia itu, kau bisa membunuhku. Aku sekarang tergantung padamu. Kau bisa membunuhku, kapanpun kau mau jika aku tidak bisa menepati janjiku.”

“Apa untungnya jika aku membunuhmu? Apa untungnya jika aku membiarkanmu hidup?” tanya Mim.

Tidak lama, Tegar kembali dan melihat Arum sedang berada di depan Mim. Tegar terheran, kenapa Arum bisa ada di sini?

“Bu Arum? Njenengan di sini? Mau apa Njengenan di sini?” tanya Tegar. Dia melangkah mendekati Mim.

“Tegar, aku minta maaf atas kelancanganku. Aku mengakui kesalahanku. Aku menguping pembicaraan kalian.”

“Bu Arum? Kau menguping pembicaraan kami? Berarti, kau tau apa yanb baru kami dapatkan?” tanya Tegar degan emosi.

“Le, aku janji akan rahasiakan semua ini. Aku akan merahasiakan apa yang aku ketahui. Tolong aku! Tolong aku ini!” pinta Arum yang menangis.

“Bu Arum, katakan, apa yang bisa kau lakukan? Apa yang kau ketahui dari apa yang terjadi di desa ini?” tanya Tegar. “Ayah memberi isyarat jika salah satu orang di Balai Desa, terlibat kejahatan ini. Kata Ayah, bukti itu sampai sekarang ada di Desa ini. Apa Bu Arum tau semua itu?”

“Aku tau. Aku tau apa yang Ayah kamu maksud. Aku akan beritahu semua yang aku tau.” Arum yang mendengar apa yang Tegar tanyakan, langsung menceritakan semua yang dia ketahui. Tegar dan Mim yang mendengar semua yang perempua itu ceritakan, hanya bisa saling pandang.

“Kejam. Kenapa semuanya kejam?” tanya Mim.

“Le, aku akan tunjukkan semuanya besok pagi. Aku mohon, kita bisa ke perkampungan sebelum shubuh, karena jika kita paksakan sekarang bakal berbahaya. Aku akan tunjukkan lokasi yang aku ceritaka tadi.” Arum meyakinkan. “Mim, aku minta tolong, lindungi aku untuk malam ini saja.”

Lihat selengkapnya