Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #193

Chapter #193

“Aku gak apa-apa.” Mim terdiam dan menatap benda yang kakaknya pegang. “Benda ini, adalah benda yang digunakan untuk menyiksaku. Kakiku bisa jadi seperti sekarang ini, karena orang yang menyiksaku dengan benda ini.”

Lam terdiam dan meneteskan air mata mengingat hal itu. Dia tau semua yang terjadi dengan benda yang sekarang dia genggam. Benda itu adalah benda yang menyimpan luka bagi adiknya.

“Sudah. Di tepi sungai hanya ada ini. Selanjutnya, kita ke Makam. Kita ke tempatnya Lingga. Ada sesuatu yang tengah tersembunyi, di dekat makamnya Lingga.” Arum akhirnya mencairkan suasana.

“Makam Lingga?” tanya Mim.

“Mim, ada sesuatu yang tersembunyi di dekat makam Lingga. Aku yakin kalian semua pasti tau apa yang tersembunyi di sana.” Mereka akhirnya pergi menuju makam Lingga.

Sesampainya di makam Lingga, Arum langsung menunjuk sebuah titik. Ada sesuatu yang muncul dari dalam tanah.

“Itu bendanya.”

Mim menarik benda itu. Sebuah boneka yang mirip seperti tubuh anak kecil. Mim tampak kaget dengan apa yang dia dapatkan.

“Bu, ini hanya Boneka.” Lam yang melihat boneka itu tampak tidak ada yang aneh.

“Bentar, ini sepertinya bukan boneka biasa. Coba lihat wajahnya!” tunjuk Tegar ke wajah boneka itu. Mim terdiam dengan wajah boneka yang ada di hadapannya.

“Ini? Boneka ini?”

“Kak, kau pasti tau tentang boneka ini.” Tegar tersenyum dan dia sepertinya mulai terbayang apa yang sebenarnya tersembunyi dan apa yang harus dia lakukan.

“Mim, Lam. Aku hanya tau kedua benda itu.”

“Bu kedua benda ini lebih dari cukup. Terima kasih atas bantuannya.” Tegar hanya bisa terharu.

“Sama-sama. Tapi, aku mohon maaf. Aku harus segera ke kantor polisi. Aku harus menyerahkan diri dan mengakui semua kesalahanku.” Arum akhirnya pergi. Mim mencegahnya. Dia ingin memberikan sesuatu agar perjalanan wanita itu bisa lancar dan tidak ada gangguan apapun.

“Bu Arum, tunggu sebentar!”

“Kenapa Mim?” tanya Arum.

“Kumohon, trima ini! Anggap saja sebgai tanda terima kasihku.” Mim memberikan sebuah benda yang sebenarnya sangat Arum harapkan dari lama.

“Iya. Aku titip putriku! Aku yakin, putriku aman sama kalian.” Arum hanya bisa meneteskan air mata melihat benda nitu dan senyuman dari Mim.

“Bu Arum, putri Njenegan sekarang sama kedua adik saya. Dia akan aman di tempat adik saya. Pak Hisyam sudah janji, dia aka sekolah dengan layak.” Tegar tersenyum.

“Terima kasih. Aku bisa tenang sekarang. Aku permisi. Kita bertemu di pengadilan. Tegar, aku akan mengakui semuanya, dan membantu orang tuamu membongar semua ini.” Arum tersenyum dan menjauh.

Mim menatap boneka dan sebuah lukisan kecil. Lukisan itu mirip hiasan di lemari rumahnya dulu.

“Tegar, kau aku ini semua? Ini sepertinya mengarah ke satu orang.” Mim hanya bisa menangis.

“Iya. Memang mengarah ke satu orang. Orang itu, adalah orang yang kita intai beberapa hari belakangan.” Tegar memegang tangan Mim dan mencoba menenangkannya.

“Tegar, aku rasa degan dua benda ini semuanya akan lebih mudah.” Hambali hanya menatap kedua benda yang Mim pegang.

Mim terdiam dan tidak lama, dia seperti kerasukan. Lam yang tau jika ada sesuatu yang aneh, mendekati Mi dan memegangi tangannya. “Menjauh! Ini ada bahaya.”

“Kak Mim.” Tegar khawatir dengan apa yang terjadi.

Lihat selengkapnya