Mim terdiam dan menatap Lamdi. Lamdi hanya bisa menatap Mim dengan tetesan air mata. Dia memberi isyarat, jika ingin meminta bantuan. Lamdi ingin meminta bantuan pada Mim.
“Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan untuk kalian?” tanya Mim. Dia berharap bisa mendapat petunjuk dari Lelaki yang ada di hadapannya.
“Le, apapun caranya, tolong bawa benda itu ke hadapanku. Kau yang tau, tentang benda itu. Benda itu adalah jalan untuk keadilan Ibu kamu.” Lamdi menatap Lelaki yang tengah diam di kursi roda. Mim hanya bisa diam dan teringat terkait benda yang dia bawa. Benda itu dia temukan di tepi sungai, saat Arum menunjukkan sesuatu. Apakah benda itu bisa membantunya?
“Aku menemukan ini di tepi sungai. Apa ini akan membantu?” tanya Mim sambil menunjukkan benda yang dia maksud. “Aku tau, benda ini pernah berada di rumah kalian. Menurut kalian, apa ini akan membantu?”
“Benda ini? Kau menemukan benda ini?” tanya Lamdi yang kaget dengan benda yang Mim tunjukkan.
“Tadi, Bu Arum mengajak kami ke tepi sungai. Kak Mim menemukan benda itu dan mengambilnya.” Tegar langsung bercerita apa yang terjadi pagi tadi. Lamdi yang mendengar semua cerita dari anaknya, hanya bisa terdiam dan menatap Mim dan benda itu. Benda itu sebenarnya akan sangat bermanfaat untuk orang seperti Mim.
“Mim, benda ini kau simpan. Benda ini, ada hubunganya dengan benda yang ditinggalkan Ibu kamu. Benda yang au pegang, ada hubungannya dengan benda yang selama ini dibawa Ibu kamu.”
“Benda peninggalan Ibu?” tanya Mim.
“Mim, ibu kamu sebenarnya meninggalkan benda untuk kalian. Benda itu sengaja dikubur untuk melindungi kalian. Kasih sengaja meninggalkan benda itu, karena suatu saat nanti, dia berharap kalian bisa membalas apa yang dia alami selama ini.” Lamdi banyak bercerita tentang benda tersebut. “Benda itu terlihat seperti benda biasa. Tapi aku dengar dari Mendiang Pak Yusron kalo benda itu bukan benda yang bisa kita remehkan. Aku tidak tau, di mana benda itu sekarang ini. Beberapa hari setelah Kasih meninggal, benda itu tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang bisa mendapatkannya.”
“Menghilang? Apa benda itu dicuri?” tanya Mim.
“Enggak. Gak ada yang sempat mencuri benda itu. Benda itu hilang misterius, dan Pak Yusron sempat bilang, benda itu akan ketemu oleh kalian, di saat yang tepat.” Lamdi menceritakan semua yang dia ingat.
Mim tampak diam dan ingat benda yang pernah dia temuka di salah satu pohon di halaman rumahnya. Apakah benda itu yang dimaksud?
“Benda itu? Apakah benda yang ditimbun di dekat pohon? Bendanya ada dalam wadah seperti Box?” tanya Mim. Lamdi hanya bisa tersenyum. Dia memberi isyarat jika apa yang baru Mim katakan, adalah benar.
“Kau bisa pakai benda itu. Kau bisa pakai benda ini, untuk banyak hal.” Lamdi meminta Mi untuk segera pulang. “Mim, benda yang kau temukan, bisa kau gunakan. Ini adalah salah satu benda yang kaan melengkapi benda yang kau temukan di halaman rumah.”
Mim hanya bisa tersenyum mendengar apa yang baru Lamdi katakan. Dia sama sekali tidak mengerti, kenapa Lelaki yang ada di hadapannya, bisa tau tentang benda yang ditinggalkan Ibunya.
Sepanjang perjalanan, Mim menatap benda itu dan menyandingkan dengan Mustika yang dia miliki. Mustika itu bercahaya. Mim tampak menatap kedua benda itu dan sangat yakin, jika benda yang dia temukan tadi pagi, masih punya hubungan dengan benda yang dia temukan bersama Hambali.
“Tegar, bagaimana menurutmu? Apa aku harus menggunakan benda itu?” tanya Mim.
“Kak, kau yang tau semua ini. Kamu yang lebih tau, kapan harus menggunakan benda itu, kapan tidak perlu, bahkan kapan kamu tidak bisa meggunakannya.” Tegar menjawab demikian dan Mim hanya diam mendengar jawaban itu.