“Aku gak apa-apa. Tidak perlu khawatir padaku. Aku akan baik-baik saja.” lam memilih menjauhi sang adik yang tengah terheran.
“Kak.” Mim tampak terheran dan Lam memilih menjauh.
Di salah satu samping rumah, Lam terdiam dan tidak pernah berniat merebut semua itu dari adiknya. Dia memang iri melihat adiknya yang terlihat lemah, tapi bisa menerima kekuatan yang cukup berbahaya. Di sisi lain, dia juga khawatir, apakah adiknya bisa mengendalikan kekuatan itu dengan baik?
“Mim yang terpilih. Aku tidak boleh merebutnya. Aku tidak akan pernah merebutnya. Enggak, itu gak boleh terjadi.” Lam hanya menangis.
“Lam, adikmu punya sebuah tanda di tangannya. Tanda itu bukanlah tanda biasa. Semesta sudah memilihnya, untuk membawa sesuatu yang mungkin terlihat mustahil baginya. Sebuah kekuatan yang terlihat mustahil untuk dikuasai oleh adik kamu. Tapi, semesta sudah memilihnya dan percaya padanya, karena di balik kelemahan yang adik kamu miliki, ada sesuatu yang membuat kekuatan itu mudah beradaptasi.”
Lam teringat apa yang dikatakan Nyai Kaligemi. Adiknya adalah pilihan. Dia sudah dipilih oleh Semesta untuk membawa kekuatan itu. “Mim, aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu ada di sampingmu. Andai suatu saat nanti, aku harus menyusul Ibu, aku akan pastikan, kamu akan baik-baik saja.”
Lam terdiam dan menatap halaman samping yang tidak begitu luas. Tidak lama, Mim mendekat dan meminta izin untuk berada di sampingnya. Lam hanya bisa tersenyum melihat adiknya ada di sampingnya.
“Kak, ada apa sih?” tanya Mim.
“Gak ada. Gak ada apapun yang harus kau khawatirkan. Tidak perlu khawatir dengan diriku. Aku gak akan kenapa-napa.” Lam hanya bisa tersenyum. Tidak mungkin ia menangis di hadapan adik yang selama ini sangat dia sayangi.
“Kak, kumohon jawab yang benar. Kamu kenapa?” tanya Mim kembali. Mim terdiam dan meminta kakaknya bercerita terkait apa yang mengganjal hatinya.
“Gak ada. Lupakan semua itu.” Lam mendorong kursi roda Mim dan membawanya memasuki rumah. Mim tidak bisa mengatakan apapun terkait apa yang terjadi kali ini.
“Kak, memang ada apa sih? Kenapa sejak aku pulang dan memasangkan bagian dari benda itu sepertinya kau ada sesuatu yang tengah disembunyikan?” tanya Mim. Lam tersenyum dan menggeleng. Dia tidak pernah ingin adiknya tau, apa yang sedang mengganjal hatinya. “Kak.”
“Gak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait semua ini.” Lam meminta Mim untuk tidak lagi bertanya. Mim yang masih saja penasaran, hanya bisa menatap Lam yang tengah diam.
Sesampainya di ruang utama, Mim terdiam dan terus menatap kakaknya yang tengah berkelakuan aneh. Lam hari ini banyak diam dan menunjukkan sesuatu yang aneh.
“Mim.” Lam mendekat dan menatap tangan adiknya. Dia tau, di telapak tangan kiri Mim, ada sebuah tanda yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Sebuah tanda yang berbentuk bulat dan berwarna putih, tepat di tengah telapak tangan adiknya.
“Kenapa? Kenapa dengan tanda ini?” tanya Mim yang melihat wajah kakaknya semakin aneh. Lam hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tanda tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. “Kakak.”