Hambali terdiam dan menatap langit. Dia sebenarnya hanya ingin mengetahui satu hal tentang apa yang sebenarnya menjadi penyebab, Mim yang bisa mendapat kekuatan itu. Dia tau bagaimana karakter kedua anak angkatnya selama ini. Mim memang cenderung ceroboh. Dalam hati, ada sesuatu yang dikhawatirkan Hambali jika suatu saat nanti, Mim tidak bisa menggunakan kekuatan itu dengan baik. Kekuatan yang Mim pegang, bukanlah kekuatan yang bisa dianggap remeh.
“Pak Hambali.” Tegar yang melihat Hambali tengah melamun, langsung mendekat. Dia melihat ada hal yang membuat Hambali tengah gundah.
“Le, ada apa?” tanya Hambali yang melihat Tegar berada di sampingnya.
“Pak Hambali, ada apa? Sepertinya sedang kepikiran sesuatu. Memang, Bapak sekarang kepikiran masalah apa?” tanya Tegar yang penasaran dengan apa yang terjadi. Hambali hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Tegar. Tegar sepertinya mulai perhatian dengan apa yang terjadi padanya dan kedua anak angkatnya.
“Gak ada apa-apa sebenarnya. Ini masalah apa yang akan terjadi pada Lam juga Mim. Aku khawatir tentang keselamatan mereka. Kekuatan itu sudah menjadi milik Mim dan Semesta mempercayakan Mim untuk mengendalikan kekuatan itu. Aku khawatir, Mim tidak bisa mengendalikan kekuatan itu. Trus, lam juga. Aku sekarang juga mengkhawatirkan Lam.” Hambali terdiam dan tidak sadar meneteskan air mata.
“Apa yang Pak Hambali takutkan? Apa Kak Lam dan Kak Mim ada sesuatu yang mungkin menurut Njenenga aneh begitu? Atau ada seuatu yang mungkin membahayakan?” tanya Tegar.
“Tegar, ini hanya kamu yang tau. Aku percaya padamu inu rahasia ini.” Hambali langsung berbisik dan membuat Tegar langsung terdiam. Dia menatap kedua lelaki yang ada di rumah itu dengan tatapan yang basah. Apakah mereka harus melalui semua itu?
“Jadi, mreka akan terpisah begitu? Usia Kak Lam tidak akan panjang?” tanya Tegar. Hambali menatap Tegar dan memberi Isyarat jika semua itu benar.
“Itu yang aku terima dari orang pintar yang pernah aku temui.”
“Tapi, apa kita harus percaya sama omongan orang itu? Dia hanyalah manusia. Dia hanya seorang manusia biasa.” Tegar mencoba membantah.
“Tegar, dia bukan manusia biasa seperti yang kita lihat. Dia sebenarnya punya kelebihan. Kelebihan itu, mirip seperti yang Mim sekarang punya.” Hambali mengatakan itu dan Tegar hanya terdiam. Dia masih saja mencoba mencari alasan untuk membantah.
“Pak.”
“Dia sebenarnya salah satu pengikut Nyai Kaligeni yang bisa dibilang paling kuat.”
“Pak, Nyai Kaligeni juga makhluk seperti kita kan? Mereka juga bisa bersalah.”
“Aku tau, dia hanyalah makhluk. Aku tau semuanya, Le. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat aku kepikiran, karena tanda yang dia sebutkan waktu itu, mulai terjadi hari ini.” Tegar langsung diam setelah Hambali mengatakan semua itu. Dia mendengar semua yang diceritakan Hambali dan apa yang diketahui lelaki itu membuatnya ikut merasa khawatir. Tegar teringat apa yang direncanakan Kyai Royid beberapa bulan yang lalu. Rencana itu, bisa Tegar batalkan karena ada hal lain yang harus mereka hadapi. “Tegar, Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggu hatimu?”
“Enggak. Aku hanya ingat apa yang pernah Kak Mim katakan beberapa bulan yang lalu. Aku berharap semua itu tidak akan terjadi.” Tegar hanya bisa meneteskan air mata mengingat semua itu.
“Mim mengatakan apa? Apakah tentang furasat Lam waktu itu?” tanya Hambali dan Tegar tidak bisa membohonginya.