Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #197

Chapter #197

Mim hanya bisa diam setelah berhasil keluar dari Balai Desa. Dia tidak tau, apa yang harus dilakukan untuk menembus semua itu. Lelaki itu akan selalu mengawasi tempat itu dan mereka berdua.

“Kita harus bagaimana, Kak? Kita gak bisa berbuat apapun kalo Lelaki itu terus mengawasi tempat itu. Kita tidak bisa berbuat apapun kalo Lelaki itu terus saja mengintai tempat Cobek itu tertanam. Aku juga yakin, kalo dia juga akan mengintai kita berdua.” Mim tampak sangat kebingungan. Lam juga tidak bisa berbuat appaun melihat situasi yang seperti ini.

“Pasti ada jalan. Pasti ada jalan untuk semua ini,” sebuah suara membuat Lam dan Mim kaget bukan kepalang. Lelaki yang ada di belakangnya langsung menyahut dan sepertinya tau apa yang sedang mereka hadapi. Lelaki yang tidak lain adalah Darto, mencoba mendekati kedua Lelaki muda yang ada di hadapannya dengan senyuman. Mim menatap Lelaki yang mendekatinya. Dia datang ke tempat ini, pasti ada niat tertentu.

“Pak Darto?” tanya Lam. Darto hanya bisa tersenyum melihat kedua lelaki muda yang sekarang berada di hadapannya.

“Maaf sudah mengganggu kalian. Tapi aku tau apa yang sekarang kalian hadapi.” Darto mendekati Mim dan memegang tangannya. Mim hanya bisa diam melihat lelaki itu ada di hadapannya. Dia tampak curiga dengan lelaki itu, karena tidak biasanya, dia datang dengan perilaki seperti ini. “Aku minta maaf atas semua yang terjadi pada kalian. Tapi, sekarang aku menyadari, kehadiran kalian ternyata sangat membantu. Aku bisa menikmati uang yang selama ini aku pinjaman ke warga desa ini. Aku juga merasakan kemenangan dengan begitu luar biasa. Kalian tau, sejak kehadiran kalian kembali, orang seperti Wicaksono tidak ia berbuat apapun dengan kekalahan yang dia terima.”

"Pak Darto, ada perlu apa sama kami?" tanya Mim yang terheran dengan keberadaan Lelaki yang selama ini menjadi musuh Ayah mereka.

"Le, aku tau kalian curiga padaku. Aku tau dan menyadari, apa yang aku lakukan selama ini, membuat kalian curiga padaku. Aku gak masalah dengan kecurigaan kalian. Tapi, satu hal yang harus kalian ketahui,kalo aku bisa membantu kalian berdua untuk mengambil benda itu. Aku bisa membantu kalian, untuk masalah ini. Aku akan memantu kalian untuk mengambil benda itu tanpa harus khawatir ketahuan sama orang yang kalian maksud."

"Bapak serius?" tanya Lam. Darto terdiam dan mengajak mereka untuk pergi ke sebuah tempat. Tempat yang sebenarnya tidak jauh dari rumah Lam dan Mim.

Melihat kemana mereka dibawa pergi,Mim hanya bisa terheran. Tempat itu, adalah tempat yang tidak jauh dari makam Ibunya.

"Kita kesini? Buat apa? Ini tempat yang gak jauh dari makam Ibu." Mim menatap Darto yang tengah terdiam. Lelaki itu akhirnya duduk dan meminta Mim merapalkan mantra apapun yang dia kuasai. Mim hanya bisa terheran, tapi tidak punya pilihan lain.

Mim melakukan apa yang diminta Darto dan tidak butuh waktu lama, tanah bergetar hebat. Beberapa benda yang terpendam di tanah, muncul dan langsung berada di hadapan mereka.

"Kenapa dengan benda-benda ini? Kenapa benda-benda ini keluar begitu saja?" tanya Mim yang terheran-heran. Darto mengambil dua buah benda yang tepat di hadapannya. Benda itu sepertinya sangat berarti baginya.

"Mim, terimakasih atas semuanya. Benda ini bisa kembali ke tanganku setelah sekian lama hilang." Darto hanya bisa tersenyum. Mim yang merasa ditipu oleh Lelaki itu, tampak marah.

"Pak Darto hanya mau memanfaatkan kami?" tanya Mim yang mulai emosi. Darto terdiam dan memilih tersenyum. Dalam hatinya, dia sama sekali tidak pernah mau memanfaatka Mim untuk masalah ini. Benda yang ada di tangannya, adalah benda yang akan membantu mereka untuk mengambil benda yang sedang mereka cari.

"Enggak. Aku sama sekali tidak mau memanfaatkan kalian. Aku akan membantumu untuk mendapatkan benda yang kalian inginkan. Benda ini akan sangat membantu, bagi kalian." Darto mengambil sebuah benda dan memberikannya pada Mim. Mim menatap benda yang ada di tangannya dan menerawang apa yang terjadi dengan benda itu di masa lalu.

Mim langsung terlempar ke masa itu. Sebuah penglihatan yang sangat penting untuknya. Tidak lama, dia menatap Lam yang tepat berada di sampingnya. Lam hanya bisa diam dan menanti apa yang baru saja Mim lihat.

Lihat selengkapnya