Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #198

Chapter #198

“Mas, kumohon, jangan bongkar semua itu. Jangan bongkar semua itu di hadapan semua orang. Aku menyerah. Aku tidak akan mengganggumu dan kedua anak ini.”

“Bagus, itu keputusan yang tepat.” Darto tertawa dan memulih pergi.

***

“Mim, kau yakin?” tanya Hisyam. Pagi itu, Mim memintanya pergi ke halaman belakang balai desa.

“Aku yakin. Aku mohon, gali area ini!” pinta Mim sambil menunjuk area tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya.

“Tapi, aku tau siapa Darto sebenarnya.” Hisyam menatap Mim dan ingin memberi tahu siapa Darto sebenarnya.

“Pak Hisyam, kita harus menggali area ini. Kita sendiri yang harus membuktikan omongan Pak Darto. Semuanya akan terbukti setelah tanah ini digali.” Mim menatap Darto yang hanya bisa tersenyum.

“Mas Hisyam, aku sangat memahami, kenapa kau tidak bisa mempercayaiku. Aku tidak bisa menyalahkanmu. Tapi, kumohon sekali ini saja. Aku memang orang yang gak bener, tapi aku masih manusia dan masih ada nurani. Aku juga ingin menolong kedua bocah ini menemukan kebenaran tentang apa yang terjadi pada Ibu mereka.” Darto memohon. Hisyam hanya mengiyakan permintaan itu.

Hisyam akhirnya menggali tanah yang Mim tunjukkan. Tidak begitu dalam, alat penggali sudah menatap sebuah benda keras mirip batu, yang cukup besar. Hisyam terdiam dan membuka area keras itu.

“Ini? Ini benda yang dimaksud?” tanya Hisyam. Mim memberi isyarat pada siapapun yang bisa menolongnya.

“Mim, biar aku membantumu.” Darto langsung mengangkat tubuh Mim yang sebenarnya tidak begitu besar. Darto membantu Mim untuk mengambil benda yang ada tepat di hadapan mereka.

Hisyam dan Hambali hanya saling pandang, melihat Mim yang tidak begitu kesulitan mengambil dan membawa benda yang terlihat begitu berat. Ini bukan sesuatu yang bisa dinalar.

“Hanya rang yang terpilih, yang sanggup melakukan hal ini. Aku semakin yakin, kalo Mim adalah orang yang dipilih semesta untuk sesuatu yang cukup besar.” Hambali hanya bisa meneteskan air mata mengetahui semua itu.

“Mas.” Hisyam menatap Hambali yang meneteskan air mata. Tidak lama, Hambali menatap sekitar dan memberi isyarat pada semua orang.

“Hisyam, kita harus segera pergi! Semuanya, kosongkan tempat ini! Biarkan tanah ini seperti ini!” pinta Hambali.

“Ayah.” Lam menatap ayah angkatnya.

“Lam, nanti kau akan tau apa yang aku maksud.” Hambali meminta mereka pergi dan membiarkan semuanya seperti itu. “Mim, temani Tegar ke Lapas. Benda itu harus segera dipegang sama Ayahnya. Lamdi tau sesuatu tentang benda itu.

Mereka akhirnya mau tidak mau mengikuti saran Hambali. Hisyam menemani Mim dan Tegar, langsung menuju Lapas tepat Lamdi ditahan. Dia harus segera menyerahkan semuanya pada Lamdi.

Sesampainya di Lapas.

Tegar bertemu sala seorang yang berjaga dan meminta izin bertemu ayahnya. Sipir yang mengetahui siapa yang dimaksud, langsung menuju ruang tempat Lamdi berdiam diri.

Lamdi yang tengah terdiam di bilik, tampak kaget saat seorang sipir datang dan memberi tahunya jika ada yang ingin bertemu.

“Pak Lamdi, ada yang mau bertemu.”

“Siapa?” tanya Lamdi yang penasaran.

“Anak kamu, sama siapa itu? Temannya yang kemarin ikut menjengukmu. Gak tau bawa apa. Bawa benda aneh. Dia bawa benda yang kau butuhkan sepertinya.” Lamdi yang mengetahui siapa yanb dimaksud sipir, langsung pergi dan menemui anaknya yang sedang bersama Mim.

Lihat selengkapnya