Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #199

Chapter #199

“Wati, mau kemana kamu?” tanya seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya.

“Mas, kau si sini?” tanya Wati yanb kebingungan.

“Kau mau pergi? Pergi kemana?” tanya sang suami. Wati hanya bisa mengeleng. Dia tidak bia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sejak tadi malan. “Wati, katakan apa yang terjadi padamu? Apa kau sedang tertekan?”

“Mas, darto semala mengancamku. Dia mengancamku dan mengancam keselamatanmu. Aku gak kuat denga ancaman ini.” Wati hanya bisa menangis dan mengeleng.

“Wati, kau?” tanya Lelaki itu yang tidak sempat meneruskan pertnyaannya.

“Mas, aku terpaksa melakukan semua itu. Darto sidah mengancamku. Dia bahka menerorku dengan batu yang sudah kau sembunyikan. Batu yang kau kubur di dekat Sendang, sudah dia temukan dan dia perlihatkan di hadapanku. Aku tidak bisa berbuat apapun. Aku tidak punya pilihan lain, kecuali melakukan semua itu.”

“Kau yang membocorkan semuanya?” tanya Lelaki itu.

“Iya. Aku yangb membocorkan semuanya. Mas, kau lihat wajahku ini! Aku sedang gak baik-baik sajua sejak Darti menemuiku semalam. Aku tidak baik-baik saja,” tangis Wati langsung pecah. “Mas, aku harus pergi dari Desa ini.”

“Wati.” Lelaki itu tampak marah dengan kelakuan istrinya, yang tiba-tia saja berubah.dirinya sedang bingung karena benda yang dia kubur di halaman belakang balai desa, mendadak menghilang dan sekarang, dia mngetahui jika istrinya yang menjadi penyebab semuanya terjadi.

“Mas, aku tidak tahan dengan apa yang terjadi semalam. Dia bahkan mengancam untuk membocorkan semua itu.” Wati langsung saja pergi dan tidak peduli dengan apa yang ini dikatakan suaminya.

“Mas Ilyas, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya wanita yang ada di sampingnya.

“Aku gak tau, Mbak. Aku gak tau. Aku sama sekali gak tau apa yang terjadi dengan istriku. Wati memang berubah sejak semalam.”

“Mas, aku rasa masalahmu itu, harus diselesaikan. Masalah dengan Mas Dato, harus segera kau selesaikan sebelum Lelaki itu melakukan hal yang tidak bisa kita prediksi.” Wanita itu memberi saran dan Ilyas hanya bisa mengiyakan.

Dia langsung pergi ke tmpat Darto berada. Ingin sekali dia bicara empat mata kepada lelaki yang selama ini menjadi pengacau di desa ini.

Darto yang menyadari kehadiran Ilyas di tempatnya berada, hanya bisa tersenyum. Dia sudah menunggu kedatangan Lelaki itu sejak pagi hari.

“Ilyas, akhirnya kau datang kuga. Bagaimana? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Darto sambil mengejek.

“Darto, jangan pernah mengejekku. Aku tau apa yang kau lakukan semalam. Kau pikir, aku tidak tau apa yang sudah kau lakukan sampai istriku harus pergi dari desa ini?”

“Apa yang sudah aku lakukan memangnya? Kenapa sama istri kamu?” tanya Darto.

“Dia pergi. Dia pergi dari desa ini dan sudah mengakui, kalo dia yang mebocorkan semua rahasiaku.” Ilyas tampak marah.

“Takut? Apakah kau ketakutan dengan apa yang dibocorkan istri kamu?”

“Darto, apa yang sebenarnya kau inginkan di desa ini? Kenapa kau selalu jadi pengacau di desa ini?”

“Yang jadi pengacau siapa sebenarnya? Aku, apa orang seperti Wicaksono?” tanya Darto sambil tersenyum. Dia sangat menikmati amarah dari lelaki yang ada di hadapannya. “Aku hanya meminta hak yang seharusnya aku dapatkan. Aku memberi hutang pada kalian, bukan pemberian.”

“Darto, sejak kedatanganmu di desa ini, desa ini selalu ada masalah.”

Lihat selengkapnya