Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #200

Chapter #200

“Ummi.” Hisyam dengan susah payah, melepaskan dan menjauhka Ibunya dari mantan istrinya. Tapi, sang Ibu terus berontak dan ingin memberi balasan atas apa yang pernah Lesti lakukan.

“Lesti, kau tidak pernah mencintai suamimu. Kau menikahi anakku hanya ingin melindungi diri dari ancaman hukum. Sekarang, aku pastikan kamu akan menerima konsekuensi atas kebiadbanmu. Kau akan mendapat hukuman yang pantas kau dapatkan.”

“Ibu.” Lesti mengeleng dan mencoba bersimpuh. Ibu Hisyam hanya bisa meminta Lesti berdiri dan memaksanya melepas jilbab. “Ibu, jangan!”

“Jangan menodai jilbab yang kau kenakan. Lepas jilbabu, karena jilbab ini terlalu suci untuk menutup tubuhmu.”

“Ummi.” Hisyam terus memegangi sang Ibu yang tengah menciba meraih jilbab Lesti.

“Lesti, aku tidak pernah ridho atas apa yang kau lakukan pada anakku. Aku tidak akan pernah ridho atas ulahmu. Aku tidak ridho sampai aku mati. Nafkah yang Hisyam berikan padamu sejak Cucuku meninggal, aku anggap sebagai barang curian. Aku sebagai Ibunya, tidak pernah ridho melihat hasil kerja keras anakku dinikmati oleh wanita gak diri sepertimu.”

“Ibu.” Lesti bagai tersambar petir mendengar apa yang Wanita itu katakan.

“Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak pernah sudi punya anak sepertimu. Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai menantu.” Wanita itu mendekat dan mencoba menampar Lesti.

“Ummi, jangan!” pinta Hisyam yang terus meminta agar Ibunya segera memasuki mobil.

Mereka akhirnya pergi ke pegadilan. Hisyam tidak mau jika Ibunya sampai melakukan hal yang tidak bisa dia prediksi.

“Ummi, kenapa Ummi sampai melakukan itu? Itu sama saja dengan mempermalukan diri kita sendiri.” Hisyam mengatakan hal itu dengan air mata.

“Bagaimanapun, aku tidak ikhlas dengan apa yang terjadi. Aku tidak ikhlas, kalo kamu harus membiayai seseorang yang menjadi penyebab anakmu meregang nyawa. Dia pembunuh. Aku akan tetap memandangnya sebagai pembunuh. Bagaimana seorang wanita bisa berniat membunuh anak-anak? Dia punya niat begitu, sudah menunjukkan kalo dia tidak punya rasa sebaga seorang wanita. Wanita yang benar, tidak seperti itu.”

“Ummi, tidak seperti itu juga caranya. Ada cara lain kan?”

“Hisyam, bagaimanapun aku tidak akan pernah ikhlas. Aku tidak ikhlas dengan apa yang dia lakukan.” Hisyam akhirnya diam. Di tidak mau terus berdebat dengan Ibunya. Bagaimanapun, Ibunya adalah malaikat yang selama ini menjaganya dari marabahaya.

Di tempat lain.

Lesti hanya bisa menangis setelah kepergian Hisyam. Dia tidak menyangka, mertuanya akan menyerangnya dengan kata-kata yang sangat pedas hari ini. Lesti juga tidak menyangka, Ibu mertuanya menganggap dia seorang pencuri.

“Mas, aku masih mencintaimu. Aku masih mencintaimu,” lirih Lesti yang melihat mobil Hisyam menjauh dari pandangan.

“Lesti.” Dahayu mendekat dan meminta Lesti untuk menuju mobil. Lesti hanya bisa terdiam dan terus meneteskan air mata sepanjang perjalanan. “Kau gak apa-apa?”

“Ibu mertuaku, bahkan sudah membenciku. Beliau bahkan tidak takut menyerangku di hadapan banyak orang. Beliau sudah tidak lagi takut untuk mempermalukanku di hadapan banyak orang. Beliau tidak pernah melakukan ini sama siapapun. Beliau tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, sekalipun kepada orang yang sudah menyakitinya. Aku tidak menyangka, Beliau yang aku kenal sebagai perempuan yang sangat penyayang kepada siapapun, sekarang justru membenciku.” Lesti hanya bisa menggeleng.

“Lesti, aku tau semua ini gak mudah. Ini yang harus kita jalani. Ini yang harus kita hadapi. Aku juga harus menghadapi sesuatu yang tidak mudah. Anakku yang membuat kita semua jadi seperti ini.” Dahayu hanya bsa meneteskan air mata. Mereka akhirnya pergi menuju pengadilan dengan hati gelisah. “Anakku yang membongkar semua ini ke pihak kepolisian.”

“Tapi anakmu sudah melepaskanmu dari seseorang yang ingin mengambil kehormatanmu. Kau sudah lepas dari orang yang ingin mengambil kehormatanmu, dan semua itu karena anak kamu. Anakmu sudah melakukan baktinya sama orang tua.” Lesti hanya bisa menggeleng. Dahayu terdiam dan teringat apa yang anaknya lakukan selama dirinya sakit. Dia tidak pernah berbuat yang menyakiti hatinya. Tegar sangat memuliakannya sebagai seorang perempuan, walau harus mengorbankan dirinya sendiri. Dahayu mengingat kejadian malam itu, Tegar hampir saja kehilangan nyawa karena kenekatannya.

Lihat selengkapnya