Sidang akhirnya berlangsung sesuai rencana. Lamdi yang hari ini dijadwalkan bersaksi, langsung menunjukkan barang bukti yang dia miliki dan menjelaskan semua barang bukti yang dia sudah pegang. Para terdakwa tidak ada yang bisa membantah keterangan itu. Lamdi hari ini menunaikan janjinya, yang sudah dia ucapkan beberapa hari yang lalu.
Wicaksono hanya bisa meneteskan air mata selama Lamdi bicara. Semuanya dibogkar oleh Lamdi hari ini. Tidak ada yang Lamdi tutupi. Dia tidak menyangka, Lamdi akan begitu tegas mengatakan semua itu dan menunjukkan bukti. Bukti itu membuatnya harus menerima apapun keputusan hakim.
Setelah selesai sidang, Hisyam mendampingi Ibunya keluar. Wanita itu hanya bisa diam dan menanti sesuatu. Dia menantikan momen yang pas, untuk memberi pelajaran pada menantunya. Dia ingin menantunya tau jika menghina anaknya, sama saja sudah menghina dirinya.
“Lesti, berhenti! Masalah kita belum selesai. Jangan pernah berpikir, kau akan lolos dariku begitu saja!”
“Ummi.” Hisyam memegangi tangan Ibunya.
“Lepaskan tanganku, Hisyam! Buarkan aku menghajar perempuan biadab seperti dia. Perempuan ini tidak layak hidup. Dia tidak layak dimuliakan. Dia memang pantas mati. Dia pantas untuk diinjak harga dirinya, seperti dia menginjak harga diri wanita lain. Dia sudah membunuh anakmu, berarti dia tidak pantas berada di keluargaku. Aku punya kewajiban untuk menghajarnya.”
“Ummi.” Hisyam mencoba mencegah Ibunya.
“Bu, aku minta maaf. Aku menyesal melakukan semua itu.” Lesti yang mendengar amarah Ibu mertuanya hanya bisa menangis dan bersujud.
“Selama ini, kau sudah mengejek anakku. kau sudah menginjak harga diri anakku. mengejek anakku, sama saja sudah menghinaku. Kau pikir aku akan mudah memaafkanmu? Enggak, itu gak akan pernah terjadi. Kau hanyalah seorang pembunuh bagiku. Kau seorang pembunjh. Kau sudah membunuhb anak yang kau lahirkan. Kau pembunuh dan perempuan hina.” Lesti hanya bisa menangis mendengar amarah itu. “Kau bisa meminta maaf, karena semuanya sudah terbongkar, kalo tidak terbongkar, apa kau mau meminta maaf padaku da anakku?”
“Ibu.” Lesti terus menangis.
“Ummi.” Hisyam meminta agar Ibunya bisa kembali ke mobil.
***
Malam itu, Lesti hanya bisa diam memandangi Dayyana yang sedang mendapat pengobatan. Apa yang dilakukan Seno pagi tadi, membuat Dayyana harus mendapat perhatian serius dari dokter.
“Mbak Dayyana, kami harus memantau keadaan Anda selama beberapa hari mendatang. Kalo gak ada sesuatu yang serius, Mbak Dayyana bisa menjalani harinya seperti biasa. Kalo misalnya ada sesuatu yang kami anggap serius, saya harus merujuk Mbak ke fasilita kesehatan yang lebih memadai.” Dokter itu tersenyum. Dayyana hanya bisa terdiam. Apa yang sudah suaminya lakukan, membuatnya menjadi tidak berguna di dunia ini. Suaminya sudah tau apa yang menjadi kebenaran terkait dirinya, dan apa yang pernah dia lakukan di masa lalu.
“Mbak Dayyana.” Lesti yang menemaninya sejak dia masuk Klinik, hanya bisa menatapnya dengan mata yang basah.
“Aku merasa tidak berguna lagi. Aku tidak berguna.” Dayyana menggeleng. Dia meneteskan air mata dan berteriak. “Aku tidak berguna. Aku perempuan bodoh. Aku perempuan paling bodoh di dunia ini.”
“Mbak Dayyana, kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?” tanya Lesti. Dia memegangi pundak Dayyana yang mendadak histeris.