Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #202

Chapter #202

“Mim, sudah saatnya Nyai Kaligeni harus pindah tempat. Semuanya harus dilakukan, demi keselamatan dirinya juga pasukannya. Dia harus menjaga apa yang pernah Mbah kita titipkan. Nyai Kaligeni harus menjaga amanah yang Mbah Djojohadi titipkan padanya.” Lam mengatakan semuanya dan Mim hanya bisa meneteskan air mata mendengar hal itu.

“Sdah pindah? Kenapa aku gak tau? Kenapa aku sampai gak tau kalo Nyai Kaligeni sudah pindah?” tanya Mim. Lam terdiam beberapa saat dan mengusap wajah adiknya yang begitu bersinar. Malam ini bukan malam bulan purnama, tapi wajah Mim terlihat begitu bercahaya.

“Bukan gak tau, tapi sepertinya memang harus dirahasiakan dulu. Kepindahan Keraton Kaligeni memang harus dirahasiakan, biar semuanya aman.”

Mim terdiam dan memejamkan mata. Tampak sosok makhluk yang tidak lain adalah Nyai Kaligeni, tengah berada di hadapannya. Sepertinya ada sesuatu yang harus disampaikan pada Mim.

“Mim, aku minta maaf kalo semua ini terlalu terburu-buru. Tapi aku memang harus segera pindah bersama semua pasukanku. Apa yang menjadi takdir desa ini, akan segera terjadi dalam waktu dekat. Kalo aku dan pasukan tidak segera pindah, nanti kami akan musnah dan tidak bisa menjaga apa yang diamanahkan oleh Kekek kamu. Aku minta maaf sudah pergi dan harus merahasiakan ini darimu.”

“Nyai?” tanya Mim. Dia mencoba mendekat, tapi sadar jika sosom yang ada di hadapannya hanyalah bayangan.

“Mim, aku akan menunggumu di tempat yang sudah ditakdirkan untuk kita bertemu. Aku akan menunggumu, di tempat peta buta itu nantinya bisa kau baca.” Makhluk itu tersenyum.

“Coban kembar?”

“Aku menungumu di sana. Aku akan menungggumu di tempat itu.” Makhluk itu akhirnya menghilang dan Mim hanya bisa diam.

“Nyai.” Mim menybut nama itu. Lam yang melihat kondisi adiknya tengah tidak baik, langung memintanya pulang. Hari sudah gelap dan pasti akan sangat berbahaya buat mereka.

“Mim, ayo pulang! Hari sudah gelap, kita tidak bisa terus berada di sini. Pasti akan bahaya kalo kita terus ada di sini.” Lam mendorong kursi rodanya untuk menjauhi tempat itu.

Mim tidak bisa berbuat banyak. Dia akhinya pasrah saat kakaknya mendorong kursi rodanya menuju rumah.

“Kak, apa Nyai marah sama aku?” tanya Mim.

“Kenapa harus marah sama kamu? Apa yang membuat Nyai Kaligeni marah padamu?” tanya Lam.

“Aku gak tau, kenapa semua bisa terjadi. Kenapa Nyai bisa pindah secepat itu?”

“Mim, semua terjadi bukan karena dia benci sama kamu. Dia pergi karena ingin memastikan keselamatan dirinya juga pasukannya. Dia tidak bisa membiarkan peninggalan Kakek, terlantar begitu saja dan jatuh ke tangan orang salah.” Lam hanya bisa menjelaskan semua itu dan terus menenangkan adiknya.

“Kak.”

“Mim, tidak perlu berpikiran buruk. Gak baik. Nanti yang ada, bakal terjadi hal buruk sama kia. Pikirkan hal yang baik, biar yang terjadi juga baik.” Mim terdiam mendengar apa yang kakaknya katakan.

Sesampainya di rumah, terlihat Hambali sedang bersama Hisyam. Hisyam tampak khawatir dengan Lam dan Mim. Dia khawatir jika kedua lelaki yang sudah dianggap sebagai anaknya, mengalami nasib yang buruk malam ini.

“Mim, Lam, darimana? Kenapa keluar saat jam seperti ini?” tanya Hambali.

“Maaf, aku harus mengikuti Mim.” Lam langsung menjawab apa yang baru saja dia lakukan. Hambali menatap Mim dan memberi isyarat untuk cerita semua yang sudah terjadi.

“Aku, baru dari Sungai.” Mim akhirnya tidak punya pilihan, selain cerita apa yang terjadi dan kenapa dia harus ke sungai.

Lihat selengkapnya