Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #204

Chapter #204

“Aku tau kekhawatirannya. Aku tau apa yang Hambali isyaratkan. Le, aku minta tolong. Kamu temui Hambali dan beri lembaran kertas ini. Aku yakin, Hambali tau apa yang dia harus lakukan.” Yani memberikan lipatan kertas yang berisi Tulisan aneh. Tulisan arab yang Hisyam tidak bisa membacanya.

“Apa ini? Kenapa aku tidak bisa membaca ini? Ini tulisan arab, tapi kenapa aneh?”

“Itu bukan bahasa arab. Itu bahasa khusus. Berikan itu pada Hambali. Dia akan tau apa yang harus dilakukan. Aku yakin kamu dan Tegar akan terlibat dalam semua ini.”

“Bahasa khusus?” tanya Hisyam dan Yani hanya bisa ersenyum dengan pertanyaan itu.

“Hisyam, kamu pernah belajr di pesantren. Kamu pasti tau kalo apa yang tertulis dengan huruf arab tidak selalu berbahasa arab.  Kamu pernah belajar bahasa pegon kan? Itu sama seperti pegon yang kau pelajari selama di pesantren, hanya saja itu bukan pegon.” Yani mendekati Hisyam dan tersenyum. Hisyam hanya bisa menatap Tegar yang sekarang juga tampak bingung. “Gak perlu bingung. Kamu akan tau setelah bertemu dengan Mas Hambali. Mas Hambali akan mengerti dan kalian berdua akan terlibat dengan semua rencana ini.”

“Mbah, tapi mereka berdua gak akan kenapa-napa kan?” tanya Hisyam.

“Semoga saja semuanya lancar. Aku hanya mau kalian bisa mencapai hasil yang kalian harapkan. Semoga saja tidak ada sesuatu yang mengganjal di tengah jalan.” Yani hanya bisa meneteskan air mata dengan rencana Hisyam. Dia sangat berharap apa yang dilakukan Hisyam tidak ada sesuatu yang mnghalani atau hambatan apapun.

“Maksudnya? Apa bakal ada yang mengganjal di tengah jalan?”

“Hisyam, setiap rencana, pasti akan ada hambatan. Aku yakin kalo ini semuanya tidak akan berjalan mudah seperti yang kalian bayangkan. Aku sebenarnya takut jika hambatan itu akan membuat apa yang kalian harapkan, malah jadi berantakan.”

Hisyam terdiam dan menatap Tegar. Tegar hanya bisa memberi isyarat pada Hisyam, jika semua akan baik-baik saja.

“Pak Hisyam, kita harus awali semua dengan Bismillah. Kita minta pertolongan dari sang penolong. Semoga Allah akan selalu melindungi setiap niat baik kita. Pak Hisyam ingin kekuatan Kak Lam dan Kak Mim bisa lebih baik dari yang sebelumnya kan?” tanya Tegar dan membuat Hisyam hanya bisa terdiam dan mengangguk.

“Le, apa yang Tegar katakan ada benarnya. Awali semua denga Bismillah dan libatkan Allah dalan setiap niat baikmu. Semoga Allah selalu meridhioi langkahmu dan kalian berdua selalu dalam lindungan Allah.” Yani tersenyum dan memegang tangan Hisyam. “Le, niat kamu ini, aalah niat baik. Aku akan mendukung niat baikmu ini.”

“Terima kasih. Sekali lagi, terima kasih, Mbah.” Hisyam tersenyum.

“Hisyam, Tegar, mumpung kalian ada di sini, aku sekalian ingin menitipkan sesuatu untuk Lam dan Mim. Tolong, sampaikan benda titipan ini pada Mim. Benda itu sebenarnya milik Nenek Lam dan Mim yang tertinggal di sini. Aku takut jika tidak bisa menjaga amanah itu dengan baik.”

“Apa itu, Mbah?” tanya Hisyam.

“Kalian berdua, ikutlah denganku!” pinta Yani.

Mereka berdua diajak ke sebuah ruangan. Ruangan yang terlihat seperti Gudang, tapi di dalamnya ternyata adalah sebuah kamar yang sudah lama tidak dtempati. Yani mengambil sebuah kotak tanb berisi batu yang tidak biasa, dan menyerahkannya ada Tegar.

“Tegar, aku percayakan ini padamu. Kumohon, sampaikan benda ini pada Mim. Benda ini akan cocok jika dipegang oleh Mim.” Yani tersenyum dan Tegar tampak bingung dengan apa yang terjadi.

“Mbah, kenapa benda ini diserahkan padaku?” tanya Tegar yang terheran.

“Aku percayakan ini padamu. Aku percaya kalo kamu menyayangi mereka seperti kamu menyayangi saudaramu sendiri. Karena itu, aku yakin kalo kamu akan menjaga dan menyerahkannya langsung kepada pemiliknya.” Yani hanya bisa tersenyum dan mengajak mereka keluar.

“Pak Hisyam, kenapa ini dititipkan padaku?” bisik Tegar.

Lihat selengkapnya