Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #205

Chapter #205

Hambali hanya mengambil sebuah benda yang Mim temukan beberapa waktu yang lalu. Benda itu membuat Hisyam agak heran. Ada apa dengan benda itu?

“Pak, ini memangnya kenapa? Kenapa dengan benda ini?” tanya Hisyam yang jelas sekali tampak kebingungan.

“Mas Yani memberi isyarat padaku tentang Lam. Sepertinya memang takdir mengatakan semua itu. Apa yang aku dengar sejak beberapa tahun yang lalu, semuanya akan terjadi.” Hambali menatap langit yang cerah. Tapi, cerahnya langit hari ini sama sekali tidak menggambarkan suasana hatinya. Dia harus mengambil lajngkah untuk keselamatan dan masa depan Mim.

“Pak Hambali.”

“Aku harus segera bersiap untuk mengetahui kenyataan ini. Besok pagi, aku harus segera pergi, aku harus menuju sebuah tempat yang aku sendiri sebenarnya takut memasuki tempat itu. Aku harus melakukan semua ini, demi kedua anak angkatku.”

“Pak, kenapa semuanya harus Njenengan lakukan?” tanya Hisyam. “Pak Hambali, apa tidak ada cara lain untuk mencegah semua ini?”

“Hisyam, aku tidak bermaksud mencegah. Apa yang harus dicegah dari semua ini? Semua ini adalah kehendak dari semesta. Apa yang sudah digariskan oleh takdir, tidak akan bisa dicegah oleh siapapun, termasuk dari orang sekitarnya. Kekuatan secanggih apapun tidak akan bia menentang keendak dari keinginan Sang Pengatur Semesta. Semuanya sudah terjadi dan apa yang akan dilakukan, akan mengarah ke takdir itu.” Hambali menatap Hisyam yang hanya bisa diam. Mendengar semua itu, Hisyam hanya bisa diam, dan meneteskan air mata.

“Pak, apa yang Njenengan maksud? Apakah yang akan aku lakukan sekarang ini, adalah jalan menuju takdir yang akan mereka alami? Aku elakukan hal yang mengantar mereka ke sesuatu yang tidak mereka inginkan?” tanya Hisyam.

“Hisyam, mungkin saja apa yang kau lakukan adalah jalan menuju takdir itu. Tapi, aku rasa apa yang bakal kau lakukan tidaklah salah. Kau tidak salah dengan apa yang akan kau lakukan.” Hambali tersenyum dan meminta Hisyam melakukan semua itu. “Hisyam, kekuatan itu akan sangat berbahaya kalo tidak segera dinetralisir dan diganti dengan kekuatan yang lebih ramah. Kekuatan itu akan membahayakan banyak orang, kalo tidak segera ditangani. Aku mohon, kekuatan itu harus segera dinetralisir dan diganti dengan kekuatan yang lebih baik.”

“Pak.” Hisyam hanya bisa meneteskan air mata. Dia tau, tindakan yang akan Hambali tempuh besok pagi, akan sangat berbahaya. Hisyam tidak bisa berbuat banyak selain mengiyakan apa yang diinginkan Hambali.

“Aku minta tolong untuk sekarang ini.” Hisyam akhrnya terdiam dan tidak bisa mendebat. Hisyam akhirnya diam dan mendekati Mim yang sedang bersama Tegar.

***

“Mas Alif? Ada perlu apa?” tanya Tegar yang melihat Alif berada di depan rumahnya. Alif tersenyum dan meminta izin untuk duduk dan bicara empat mata.

“Tegar, aku baru pulang dari tempat Kyai Rosyid. Aku bertamu ke sana tadi sore dan bertemu langsung dengan Kyai. Banyak yang kami bicarakan, termasuk soal Lam dan Mim.” Alif tersenyum dan Tegar menatap Alif sambil berharap jika dia mau meneruskan kalimatnya. “Aku sudah bicara tentang rencana yang Pak Hisyam ingin lakukan, dan Kyai Riosyid sebenarnya tidak keberatan untuk membantu kita.”

“Mas, apa beliau meminta syarat atau apa gitu?”

“Sama sekali enggak. Hanya saja, Kyai meminta kamu untuk selalu dekat dengan Lam dan Mim. Karena, Beliau merasa ada sesuatu yang harus dijaga sebelum ritual itu diakukan.” Alif mengatakan semanya pada Tegar dan Tegar hanya bisa terheran.

“Aku, harus dekat sama Kak Lam dan Kak Mim? Bukankah aku selama ini memang sudah dekat dengan mereka?” tanya Tegar.

Lihat selengkapnya