“Tegar, menurutmu Kak Lam kenapa?” tanya Mim yang masih penasaran. Tegar hanya diam dan tdak banyak bicara pagi ini.
“Kak Mim, aku gak tau kenapa. Aku sama sekali gak tau, kenapa Kak Lam bisa seperti itu. Aku gak bisa menjawab pertanyaanmu.”
“Tegar, aku gak tau harus ngapain. Selama ini, gak ada orang yang bisa aku percayai, selain Kak Lam dan Ayah Hambali. Sekarang, mereka seperti ini. Ayah Hambali bahkan pergi entah kemana.” Mim menatap Tegar yang hanya diam dan mengusap wajahnya.
“Kak, Pak Hambali sebenarnya gak kemana-mana. Beliau hanya ingin menyendiri beberapa saat. Beliau pergi juga untuk kalian kan? Beliau sangat menyayangi kalian, karena apapun yang Beliau lakukan, semua karena kalian. Aku melihat Beliau sangat menyayangi kalian, bahkan saat Beliau tidak bisa menemani kalian. Beliau hanya ingin memastikan kalo anak-anaknya dapat teman dan menolong mereka.” Tegar memegang tangan Mim.
“Tegar, Ayah semalam bilang, siapapun yanb akan menemani kami selama Beliau gak ada, akan jadi orang yang menemaniku mencari keluarga Ibu. Apa kamu mau melakukan itu?” tanya Mim.
“Kak, kalo kamu butuh bantuanku, aku akan bantu semampuku. Aku akan bantu, bahkan kalo aku harus menemanimu ke tempat yang harus kau lalui selama perjalanan itu. Kak, aku siap membantumu, apapun resikonya.”
“Terima kasih. Sekali lagi terima kasih atas kesediaanmu.”
“Gak perlu gitu, Kak. Anggap saja kita ini saudara. Kau sudah membantuku melumpuhkan Broto, sekarang saatnya aku membantumu mencari keberadaan Nenek kamu.” tegar hanya memberi senyuman pada Mim.
“Tegar, mereka gak tau ada di mana. Aku, gak tau mereka sekarang di mana dan gak ada petunjuk.”
“Kak, makanya kita harus cari tau. Kita akan cari tau setelah keadilan untuk Tante Kasih beres. Kita kan sudah punya peta dari Nyai Kaligeni. Nyai Kaligeni juga sudah mau membantu kita. Sekarang, gak perlu khawatir. Kita bisa mencari keberadaan mereka.” Tegar tersenyum dan membawa Mim keluar rumah. Halaman yang langsung terhampar suasana desa, membuat Mim terdiam. Dia teringat jika Desa itu akan terbakar suatu saat nanti.
“Tegar, desa ini akan segera binasa. Seperti yangg kita sudah tau, Desa ini akan terbakar. Kau akan tinggal di mana setelah Desa ini hilang?” tanya Mim.
“Kak, aku mungkin akan ke tempat Pak Hisyam. Aku akan bantu Pak Hisyam di rumah dan tempat kerjanya. Beliau yang membantu adikku agar bisa sekolah, jadi aku akan membantu beliau.” Mim terdiam dan menatap Desa itu. “Kak, ada apa sih? Kenapa sepertinya ada yang mengganggu hatimu?”
“Tegar, apa aku salah kalo tetap bertahan di sini? Aku gak mau jauh dari makam Ibu.”
“Apapun yang jadi keputusanmu, aku tidak bisa melarang. Tapi, lebih baik kalo Kak Mim kembali ke keluarganya Pak Hambali. Di sana, mungkin lebih aman buatmu. Karena, yang aku tau Mustika ini sudah banyak yang mengincar. Banyak orang yang mengincar benda ini dan yang aku tau, Keluarga Broto masih ada dan terus mengincar benda ini.”
“Tegar, kau tau banyak tentang Mustika ini? Kau tau kalo Mustika ini masih ada yang mengincar.” Mim menatap Lelaki yang ada di sampingnya.
“Kalo Mbah Yani gak cerita, aku gak tau apa-apa tentang benda ini. Tapi, yang aku tau hanya itu. Kau dan Mbah Yani yang tau banyak tentang Mustika ini.” Mim terdiam dan tidak lama, Lam mendekat dan tidak mengatakan apapun.
“Kak Lam?” tanya Mim.
“Tidak perlu khawatir padaku. Aku gak apa-apa. Aku gak apa-apa kok.” Lam tersenyun dan Mim menatap Tegar. Tegar hanya bisa memegang bahu Mim dan mencoba menenangkannya.
Di tempat lain.
Hisyam terdiam dan memandang foto anaknya yang sudah lama meninggal. Hisyam masih saja berduka dengan kepergian anaknya yang begitu tragis. Apalagi pembunuhnya ternyata istrinya sendiri.