“Pak Hisyam, Njenengan mau kemana? Mau ikut rombongan jenazah?” tanya Suci. Hisyam hanya tersenyum dan memberi isyarat jika Suci harus ikut dalam perjalanan kali ini. “Pak Hisyam.”
“Suci, ikutlah denganku! Kita harus menemukan petunjuk.”
“Petunjuk? Petunjuk apa? Kita cari petunjuk untuk apa?” tanya Suci. Hisyam memilih tidak menjawab dan terus berjalan menyusuri kemana jenazah itu dibawa.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya terhenti di sebuah rumah. Rumah itu yang jadi tempat persemayaman Jenazah di desa ini sebelum dimakamkan dengan layak. Suci yang melihat apa yang Hisyam lakukan, hanya bisa diam dan memilih tidak berkometnar. Dia tidak tau apapun terkait apa yang Hisyam lakukan hari ini.
Tidak begitu lama, Hisyam berdiri dan memegang sebuah benda yang asing. Suci yang melihat benda itu, langsung nendekat dan sepertinya pernah melihat benda aneh itu.
“Benda ini, bukankah benda ini pernah dipake sama Mbah Yusron sebelum Beliau meninggal?” tanya Suci.
“Kau masih ingat Mbah Yusron? Kau masih ingat apa yang beliau pakai menjelang ajalnya?” tanya Hisyam.
“Aku sempat ikut saudara saat menjenguk Beliau. Aku melihat benda ini Beliau pakai di salah satu tanganya. Tapi, aku gak tau, apa yang jadi kegunaan benda ini.”
“Tidak usah bingung. Memang ini benda milik Pak Yusron. Aku yang melepas benda ini saat beliau meniggal dan membuangnya. Bukan membuang sih, lebih tepatnya menyembunyikan benda ini. Semua itu aku lakukan atas permintaan Beliau sendiri.” Hisyam banyak cerita tentang apa yang dia ketahui terkait benda itu.
“Pak Hisyam, apa gunanya benda ini?”
“Kakak kamu belum cerita apapun tentang benda ini?”
“Mas Tegar gak cerita apapun. Memang apa yang terjadi?” tanya Suci.
“Ini ada sebuah ramalan, kalo Desa ini akan terbakar. Jadi, aku sengaja mencari benda ini dan mengambilnya, agar kutukan yang Desa ini terima, tidak akan membakar semuanya. Aku ingin warga Desa tetap selamat walau desa ini kemungkinan tidak akan bisa ditinggali oleh siapapun.”
“Desa ini akan terbakar?”
“Iya. Ini sudah diramal oleh sosok yang tak kasat mata. Sosok itu tau, jika kutukan mendiang Yusron, mengisyaratkan jika Desa ini akan terbakar.” Hisyam menatap Suci yang tidak bisa berkata apapun.
“Pak, apa tidak ada cara untuk membatalkan kutukan itu?”
“Sayangnya gak bisa. Lam dan Mim saja tidak mampu membatalkan kutukan itu. Justru, apa yang mereka tabur hanyalah penguat untuk kutukan itu, bukan penyebab kutukan ini tertana di Desa ini.” Hisyam terdiam dan menatap sekitar. “Suci, kekuatan ghaib yang Mim sebar di desa ini, sudah mereka tarik kembali, tapi tetap saja tidak bisa membatalkan kutukan itu.”
“Begitu kuatnya kutukan itu tertanam?” tanya Suci.
“Suci, nanti kalo ini terjadi, kamu sementara tinggal di Pesantren dulu. Tegar nanti akan tinggal gak jauh dari Pesantren dan akan bekerja sama aku. Semuanya akan aman.”
“Pak Hisyam, Bapak yakin semua akan aman?”
“Bismillah. Berdoa sama sang maha melindungi. Insya Allah akan aman.” Suci terdian dan memandangi sekitar.
***
“Mas Yani, apa yang terjadi? Apa yang membawa Sampeyan datang ke sini?” tanya Kyai Rosyid yang menerima Yani di rumahnya. Yani hanya tersenyum dan duduk.
“Mas Rosyid, Sampeyan sudah tau rencana Hisyam?” tanya Yani.
“Rencana Hisyam? Rencana terkait Lam dan Mim?”
“Iya, Sampeyan sudah tau?”