“Kak Mim, aku sangat berharap sama keputusanmu tentang kekuatan ini. Aku tidak bisa melihatmu mengendalikan kekuatan yang sebenarya bukan punyamu. Kekuatan itu akan berbahaya, kalo kamu tetap menyimpannya.” Tegar hanya bisa meneteskan air mata dan Mim tidak bisa berbuat banyak.
Mim tidak bisa berkomentar apapun. Dia memilih pulang dan Tegar hanya bisa mengantarnya.
***
Malam itu, perdebatan terjadi antara Lam dan Mim setelah Mim mengatakan apa yang ingin dia lakukan.
“Kak Lam, kumohon mengertilah situasinya.” Mim menatap Lam dengan tatapan yang basah.
“Mim, kau tau resikonya?” tanya Lam. Mim hanya diam setelah mengungkapkan keinginannya melepas kekuatan yang ada di tubuhnya. “Mim, tidak bisa seperti itu juga. Kamu gak bisa sembarangan melepas kekuatan itu.”
“Kak Lam, tapi ini demi Mustika ini. Aku tidak bisa terus hidup dengan kekuatan luar. Aku gak tau bagaimana kekuata luar. Kekuatan yang selama ini mengenaliku, hanyalah kekuatan yang berasal dari Mustika ini, bukan kekuatan luar. Aku tau, kekuatan ini yang membuat aku semakin kuat, tapi kekuatan ini kalah dengan kekuatan Mustika. Kekuatan Mustika yang sebenarnya mengenaliku.” Mim hanya bisa meneteskan air mata dan Lam hanya bisa diam dan menggenggam tangan adiknya.
“Mim, kau tau resikonya?” tanya Lam. Mim terdiam dan meneteskan air mata. Dia tau resikonya, tapi dia juga tau, apa yang akan jadi resiko jika kekuatan luar terus berada di tubuhnya.
“Kak Lam, aku masih percaya dengan kekuatan Mustika ini. Aku masih percaya dengan kekuatan Mustika warisan leluhur kita. Aku tidak mau sampai punya hutang atau jadi tumbal untuk orang lain. Aku juga tidak mau sampai ada orang lain yang jadi tumbal hanya untukku. Aku gak mau semua itu terjadi.” Mim mengenggam tangan kakaknya yang masih tidak bisa terima jika kekuatan itu dilepas oleh Mim begitu saja. “Kak Lam, kekuatan Mustika ini adalah warisan, dan dia yang sudah kenal dengan kita. Aku sudah mencobanya beberapa kali seperti yang kau tau, dan hasilnya juga gak bisa kita remehkan. Itu baru sebagian kecil. Kalo kekuatan itu aku pegang semua, aku tidak perlu kekuatan lain.”
“Mim, aku tidak mau kamu celaka. Aku tidak mau, sampai kamu kenapa-napa. Cuma kamu, yang suatu saat nanti bisa menembus benteng yang memagari tempat ditahannya keluarga kita.” Lam menatap Mim dengan air mata yang bercucuran.
“Kak, makanya aku minta izin, aku akan melepas kekatan ini dan membiarkan Mustika ini yang jadi peganganku.” Mim menatap kakaknya dengan tatapan yang begitu memohon.
“Kak Lam, aku minta maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud ikut campur urusan ini. Tapi aku rasa, Kak Mim tidak butuh kekuatan lain selain kekuatan dari Mustika itu. Apa yang ada di Mustika itu sudah cukup. Aku tau kekuatan Mustika itu. Aku tau seberapa luar biasa kekuatan Mustika itu, walau baru sebagian kecil yang bisa digunakan.” Lam tidak menjawab dan memilih pergi. Mim terdiam dan menatap Lam yang tengah menjauh.
“Tegar, bagaimana ini? Lewat bantuan Kak Lam, kekuatan ini bisa ada di tubuhku. Aku sekarang sadar, kalo Mustika ini sudah cukup menjadi tameng bagiku.” Mim hanya bisa menangis. Tegar tidak bisa berbuat banyak denga semua ini. Dia tau, semuanya serba sulit.
“Kak, ini semua tergantung keputusanmu. Tapi, aku tidak mau sampai terjadi hal yang tidak kita inginkan di masa mendatang. Aku tidak mau sampai kau kenapa-napa di masa depan, hanya karena menahan kekuatan ini.” Tegar hanya bisa tersenyum dan menghapus air mata Mim.
“Tegar, aku tidak bisa melepas kekuatan ini sendiri. Aku butuh orang lain. Aku butuh bantuan orang lain untuk melepas kekuatan ini.” Mim hanya menatap Tegar dengan tatapan yang basah.
“Mbah Yani dan Pak Hisyam akan bantu kamu, jika kamu menghendaki. Nanti Kyai Rosyid akan membantu mereka untuk mantra yang bisa melepas kekuatan ini dengan aman. Aku yakin, kamu akan aman dan bisa mencari keluarga aslimu seperti yang kau mau.”
“Tegar, aku tidak bisa membiarkan Kak Lam. Bagaimanapun, Kak Lam adalah kakakku.” Mim menatap Tegar dan Tegar hanya bisa meyakinkan Mim untuk keputusan ini.
“Kak, ini demi keselamatanmu sendiri. Ini demi kamu sendiri. Aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa.” Mim terdiam dan tidak bisa berkomentar apapun. Dia akhirnya menyendiri dan tidak ingin diganggu siapapun.