Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #210

Chapter #210

Esok hari, sesuai janji yang Tegar ucapkan, dia bersama Vira menuju rumah Yani dan mencoba bicara tentang apa yang Mim hadapi. Bagaimanapun, Tegar tidak mau sampai Mim kenapa-napa.

“Tegar.kau di sini?” tanya Yani tersenyum sambl mendekati Lelaki muda itu. “Aku sudah menungu kehadiranmu. Kau, datang untuk bicara tentang Mim?”

“Mbah Yani, Njenengan tau maksud kedatanganku?” tanya Tegar sambil meneteskan air mata.

“Siapa yang tidak tau maksud darimu? Aku tau. Kau datang dengan ketulusan hati, dan kau layak untuk dibantu. Aku tau apa yang ingin kau bicarakan.” Yani meminta mereka memasuki halaman rumah yang cukup luas.

“Mbah, saya minta tolong masalah Kak Lam dan Kak Mim. Saya takut mereka kenapa-napa. Mereka sudah menmbantu saya untuk menyingkirkan orang yang mau merenggut kehormatan Ibu saya. Saya sudah selayaknya membantu mereka untuk semua ini dan memastikan keselamatan mereka.” Tegar menatap Yani dan Yani mengerti kenapa Tegar ingin melakukan itu. Yani tau, jika Tegar melakukan itu lebih dari sekedar mengucapkan terima kasih. Tegar melakukan itu lebih dari itu semua.

“Le, tapj kau melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang mereka berikan.”

“Karena, kehormatan Ibu saya tidak bisa diukur oleh materi. Tidak ada benda yang bisa membayar kehormatan Ibu saya, bahkan kalo dunia dan seisinya diberikan pada kami, itu tidak cukup untuk membayar kehormatan Ibu.” Tegar menatap Yani dengan tetesan air mata.

“Ya sudah, silahkan masuk!” pinta Yani dan Tegar memasuki sebuah ruangan yang berornamen kuno. Kesan masa lalu masih terasa di rumah itu. “Tegar, kau harus tau sesuatu. Kau harus tau apa yang terjadi jika Mim terus menyimpan kekuatan itu.”

“Mbah, apa yang akan terjadi sama Kak Mim? Apakah, Kak Mim akan menghadapi bahaya?” tanya Tegar yang begitu khawatir.

“Dia akan membahayakan dirinya sendiri, bahkan tidak akan bisa mencari keberadaan keluarganya jika masih menyimpan kekuatan luar.”

“Mbah, itu yang saya takutkan. Itu yang sebenarnya saya takutkan dari Kak Mim. Saya tidak mau sampai Kak Mim kenapa-napa.” Tegar memohon.

“Tegar, aku tau semuanya tidak akan mudah. Tapi, bukan berarti semuanya tidak bisa kita atasi. Aku punya sesuatu yang bisa kau gunakan. Kumohon, lakukan ini nanti malam.” Yani memberikan sebuah kertas yangb berisi beberapa bacaan. Tegar hanya terdiam dan bisa membaca bacaan yang tertulis dengan huruf arab. “Kau bisa pakai itu untuk membuat Mim yakin. Aku yakin, Mim masih punya nurani dan setetes keyakinan atas kebenaran.”

“Mbah, tapi Kak Mim gak akan kenapa-napa kan?” tanya Tegar.

“Masalah itu, aku tidak bisa memastikan. Tapi, aku yakin kalo Mim masih punya kemauan unyuk melepas kekuatan itu. Hanya saja, dia punya alasan lain untuk tetap mempertahankan kekuatan itu di tubuhnya. Aku kurang tau apa itu alasannya, hanya saja aku menduga kalo itu adalah sebuah ketakutan.”

“Mbah, aku sempat mendengar perdebatan Kak Mim dengan Kak Lam. Kak Mim sebenarnya ingin kekuatan Mustika itu bisa bangun seutuhnya.” Tegar mengatakan itu dan Yani hanya bisa tersenyum.

“Itu akan jadi kekuatan besar. Aku yakin kalo Mim akan melepas kekuatan itu walau sebenarnya semua tidak mudah. Tegar, kita harus bisa membuat dia yakin.”

“Mbah, tapi aku tidak bisa memaksa.”

“Tegar, kau tidak perlu memaksa Mim. Kau tidak perlu memaksanya untuk melepas kekuatan itu. Dia akan melepas kekuata itu dengan kesadaran pribadi.” Yani meyakinkan Tegar

“Mbah Yani yakin kalo itu akan terjadi?”

“Kenapa gak yakin? Kau tadi cerita, kalo Mim ingin kekuatan itu dilepas, begitu kan?” tanya Yani dan memuat Tegar hanya bisa terdiam. “Le, itu modal yang cukup untuk Mim. Apa yang Mim katakan, sudah jadi indikasi kalo dia juga ingin hidup damai setelah ini.”

“Mbah, apa yang harus aku lakukan dengan bacaan ini? Bagaimana aku menggunakan bacaan ini?” tanya Tegar.

Lihat selengkapnya