Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #213

Chapter #213

“Mim, aku tau tentang semua itu. Aku tau tentang kekuatan yang tertanam di tubuhmu. Aku mohon maaf sudah melarangmu melepas kekuatan itu.”

“Kak Lam, memangnya kenapa sama kekuatan ini? Apa yang membuatmu sampai melarangku melepas kekuatan ini?” tanya Mim. Lam menggeleng. Lam menangis dan tidak ingin jika semua samai hancur begitu saja. “Kak, kekuatan ini meminta tumbal. Aku gak mau sampai menumbalkan siapapun. Aku gak mungkin menumbalkan orang lain. Ibu sudah cukup menjadi tumbal di desa ini, dan gak ada seorangpun yang harus menjadi tumbal.”

“Mim, aku akan mengorbankan diri. Aku mau mengorbankan diri sendiri. Aku akan mengorbakan diriku sendiri untuk semua ini. Aku yang memintamu untuk memasang kekuatan itu dan aku yang akan bertanggung jawab.” Lam tersenyum dan Mim menggeleng. Dia tidak pernah menginginkan semua itu terjadi.

“Kak, gak bisa begitu dong. Kenapa kamu yan harus mengorbankan diri? Terus, kalo tidak ada orang yang ada di sekitarku, siapa yang akan menemaniku mencari keberadaan Nenek?” tanya Mim dengan emosi.

Tegar, Alif dan Hisyam yang mendengar apa yang mereka bicarakan hanya bisa diam dan mendekati kedua lelaki itu.

“Kak Lam, kau serius ingin mengorbankan dirimu sendiri?” tanya Tegar dengan air mata yang mulai menglir. Lam hanya bisa diam dan tidak bia menjelaskan semua itu. “Kak, katakan sama kami! Paling enggak, katakan sama Kak Mim. Kak Mim berhak tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu.”

“Mim, aku sekali lagi minta maaf. Aku sama sekali tidak mau semua ini terjadi. Tapi, aku juga takut kalo kamu sampai kenapa-napa. Aku sadar, kalo semua ini terkesan egois.”

“Kak. Kenapa sama kamu? Kenapa sama kamu sampai harus seperti ini? Mulai aku mengatakan niatku, kau menolak, dan sekarang kau malah ingin mengorbankan dirimu. Apa yang terjadi sama kamu Kak?”

“Mim, aku tau semua ini egois. Tapi, seperti yang kamu bilang kalo kekuatan ini sebenarnya meminta tumbal. Memang, kekuatan ini akan meminta tumbal. Aku sebenarnya tidak ingin kau sendiri. Aku gak mau sampai kau sendiran di sini. Tapi aku tau kalo kamu akan banyak teman yang menemanimu. Akan ada orang yang sanggup menemani perjalananmu seberat apapun itu.” Lam tersenyum dan Mim masih saja bingung.

“Kak.” Mim menggeleng dan tidak percaya denga semua itu. “Itu semua tidak mungkin. Kenapa semua ini harus mengorbankan dirimu sendiri?”

“Mim, aku ikhlas dengan semua ini. Aku ikhlas untuk megorbankan diriku.” Lam menatap adiknya dengan air mata.

“Enggak, itu gak boleh terjadi. Aku gak akan membiarkan semua itu terjadi.”

“Mim.” Lam menatap adiknya dan Mim tidak bisa mendengar alasan apapun terkait semua itu. Mereka akhirnya kembali dan Tegar juga Alif yang sama-sama mendengar pembicaraan kedua orang itu, hanya tertegun dengan apa yang mereka perdebatkan.

“Pak Hisyam, kenapa rencana yang Njenegan bicarakan semalam malah jadi rencana Lam? Mereka seperti menyerahkan diri mereka sendiri ke rencana yang sudah Njenengan susun.” Alif mengatakan semua iu dan Hisyam juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku juga gak tau. Aku sama sekali gak tau kenapa semua ini malah jadi seperti ini.” Hisyam hanya bisa terduduk dan tidak bisa mengatakan apaun untuk kali ini. “Alif, sepertinya takidr memang sudah menentukan semua itu. Takdir sudah membuat mereka terpisah, tanpa harus kita merencanakan semuanya.”

“Pak Hisyam, tapi mereka adalah saudara, dan aku gak ingin saudara samai terpisah begitu saja.” Hisyam hanya mengiyakan.

Lihat selengkapnya