Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #214

Chapter #214

“Lif, tolong aku! Tolong aku, Le!” pinta Hisyam sambil menangis.

“Pak Hisyam, kenapa ini, Pak?” tanya Alif yang kaget. Hisyam tiba-tiba menangis dan memeluknya. Alif akhirnya meminta Hisyam duduk dan menenangkan diri.

“Lif, mungkin semua ini harus terjadi. Semuanya harus terjadi seperti rencana kita, bahkan lebih buruk dari rencana yang sudah aku buat. Alif, tolong aku. Aku gak tau harus bagaimana lagi. Sepertinya takdir membawa mereka seperti apa yang aku rencanakan.” Hisyam terus menangis.

“Maksudnya, lebih buruk dari yang Pak Hisyam buat?” tanya Alif yang tampak kebingungan.

“Lif, takdir ternyata sudah menggariskan itu. Aku tidak bisa mencegahnya.” Hisyam hanya bisa menangis dan Alif juga tidak tau harus berbuat apa.

“Pak, terus apa yang bisa kita lakukan? Bagaimanapun, kita masih tetap bisa melakukan sesuatu kan?” tanya Alif. “Aku gak bisa membiarkan semua ini terjadi kalo kita masih bisa mencegah. Kita masih bisa melakukan sesuatu kan untuk mencegah itu.”

“Alif, aku diminta membantu mereka untuk mengawasi rumah Lam dan Mim. Mulai malam nanti, secara bergantian, aku dan Mbah Yani juga Kyai Rosyid akan mengawasi rumah mereka.” Hisyam menatap Alif dengan air mata yang terus saja keluar.

“Pak Hisyam, aku tidak akan membiarkan Njenegan sendirian. Aku akan bantu Njenengan. Aku juga akan terlibat untuk masalah ini. Mungkin tidak dekat dengan Njenengan nanti malam, tapi aku ingin Njenengan tidak sendirian.” Alif menggenggam tangan Hisyam dan Hisyam akhirnya bisa tersenyum.

“Alif, kau serius?” tanya Hisyam.

“Aku serius. Aku akan bantu Njenengan.” Hisyam hanya bisa terdiam. Dia tidak menyangka jika Alif akan membantunya.

“Terima kasih ya, Le. Terima kasih.” Hisyam mengajak Alif pulang.

***

“Pak Hisyam, Njenegan di sini?” tanya Mim. Hisyam hanya tersenyum saat Mim mengetahui jika dia ada di dekat rumahnya. Dia mendekati Mim dan mengusap wajah lelaki muda yang sudah dia anggap sebagai anaknya.

“Mim, aku minta izin untuk tidur di sini. Aku ingin menikmati suasana Desa dari atas Bukit. Kau gak keberatan kan?” tanya Hisyam. Mim tidak langsung menjawab dan menatap Tegar yang ada di sampingnya.

“Tegar, bagaimana ini?” tanya Mim.

“Kak, jawablah! Ini keputusan kamu. Kamu yang berhak memberi izin atau enggak. Rumah ini adalah rumahmu, jadi kamu yang bisa memutuskan.” Tegar memberi sebuah isyarat lewat senyuman.

“Kenapa Pak Hisyam mau di sini? Apa sekedar menikmati Desa dari bukit? Atau punya tujuan lain?” tanya Mim.

“Mim, aku mungkin ke sini karena ingin dekat sama kalian. Aku ingin dekat sama kalian berdua. Kamu gak keberatan kan?” tanya Hisyam.

“Pak Hisyam, aku boleh cerita?” tanya Mim. Hisyam hanya bisa tersenyum. Pertanyaannya disambut sebuah permintaan Mim untuk cerita terkait sesuatu.

“Apa yang mau kau ceritakan? Ada sesuatu yang mengganggu hatimu?” tanya Hisyam.

Mim mulai cerita tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Lam. Hisyam hanya diam mendengar cerita itu. Cerita yang sebenarnya sudah diungkap oleh Yani tadi siang. Tapi, Hisyam mencoba tersenyum dan menunjukkan semua baik-baik saja.

“Pak Hisyam, bagaimana ini?” tanya Mim. Hisyam hanya bisa tersenyum.

Lihat selengkapnya